spot_img

RUHUT

Tahapan Ritual Mandudu (IV)

NINNA.ID – Setelah Sungkun Saripe, beberapa hari kemudian digelar Galang Raja. Galang Raja maksudnya mengundang Raja Bius, tokoh adat, unsur pemerintah. Parhobas Raja (yang melayani) harus orang yang sudah dipilih tidak boleh sembarangan, ditandai dengan marlopes (pakai sarung).

Sajian kepada Raja Bius tergantung warisan leluhurnya. Ada yang menyajikan Pinarbutarbutar  yaitu potongan daging seukuran dua jari yang sudah dimasa. Ada yang menyajikan anak ternak babi yang disebut lomok (bisa jadi berbeda di daerah lain).

Sesudah makan pembicaraan dilanjutkan dengan Huhuasi Sipanganon. Kemudian salah seorang dari Raja Bius mempertanyakan, kenapa mereka diundang.

Pihak Hasuhuton atau Parsinabul memberitahu acara yang digelar yakni menyampaikan Pelean Horbo Sitikko Tanduk, sebagai ucapan syukur kepada Mulajadi Nabolon. Masing masing-masing Raja Bius memberi pemberkatan melalui Umpama. Pada saat itu, kerbau yang sudah tersedia ditetapkan menjadi kurban. Siapun tidak bisa mengganggunya. Lalu beras ditabur di kepala kerbau sebagai simbol doa restu.

Acara dilanjutkan dengan penyambutan Hulahula. Saat itu hulahula datang membawa nasi dan ikan mas, dikemas dalam tandok. Kehadiran hulahula untuk merestui dan memberkati acara tersebut.

Sehari sebelum acara puncak, tepatnya di pagi hari, petugas pengambil Borotan, ke hutan  mengambil kayu untuk dijadikan tambatan Kerbau Pelean. Orang yang diberangkatkan umumnya Boru Sihabolonan. Yaitu, pihak boru paling atas yang telah mendapatkan harta warisan berkat pembelaannya kepihak hulahulanya.

TERKAIT  Parsorangni Sada Dakdanak (Lahirnya Seorang Anak Dalam Keluarga Batak)

Akan tetapi di daerah lain seperti Sianjur Mulamula misalnya, yang menganbil kayu borotan adalah Namar haha maranggi (bersaudara abang adik),  istilahnya disebut penerima Sigilanggilangi yaitu yang posisinya siabangan, penerima Ogol ogol posisinya tutur adik. Pamorang posisinya pihak Protokol ( Parsinabul) dan yang menerima Pultahan itulah Boru sihabolonan.

Pada pagi hari mereka diberangkatkan denga  perbekalan seadanya. Alat ritual yang dibawa hanya tepung beras dan Santi. Jauh jauh hari sudah ditugasi  untuk melihat kayu tersebut guna memperlancar proses penebangan.

Setibanya di tempat yang sudah ditentukan, dilakukanlah acara ritual di lokasi kayu yang akan ditebang. Petugas pengambil borotan meletakkan Santi seraya melantunkan Tonggo tonggo kepada penghuni hutan dan roh yang melekat pada kayu yang disebut Boru Tingkou.

Seiring berjalannya waktu, Hasuhuton bersama sesepuh sudah bersiap siap menyambut Hulahula yang paling atas dan Hulahula Partalitali. Sekitar pukul 15.00 WIB, para petugas Borotan membawa kayu, berjalan sambil bersorak-sorak pertanda mereka sudah sampai dengan selamat.

Setelah di halaman rumah,Hasuhuton sudah berbaris menyambut petugas Borotan. Mereka menabur kan beras pertanda ucapan selamat dengan menyampaikan “Horas” sebanyak tiga kali. Horas…Horas…Horas.

 

Penulis     :  Aliman Tua Limbong
Editor         : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU