spot_img

Tahapan Ritual Mandudu (III)

NINNA.ID – Setahun sebelum ritual, para Datu (dukun) sudah memperhatikan pertukaran Sipaha (bulan) dan pergantian Ari Batak (tanggal). Demikian juga letak penguasa alam semesta yaitu ular besar yang disebut Pane Nabolon. Ke arah mana menghadap harus jelas. Jika sudah jelas maka ditetapkanlah kapan dilaksanakan acara penebangan pohon untuk dijadikan kayu Bakar.

Untuk penebangan pohon tersebut dilakukan ritual yang berkaitan dengan kearifan lokal sebagai penghormatan kepada BORU TIKKAU yang diyakini penghuni pohon tersebut.

Sesajen yang dipersiapkan berupa tepung beras, telur ayam kampung, sirih serta santi. Datu melakukan Tonggo tonggo (doa) kepada Mulajadi Nabolon (Tuhan) agar dari memulai ritual hingga mengakhiri, berjalan dengan lancar.

Tahapan selanjutnya dengan acara Marhusip. Marhusip artinya untuk memberitahu kepada satu rumpun keluarga masih satu aliran darah. Dilanjutkan dengan Sungkun Saripe. Sungkun saripe maksudnya mengundang keluarga masih satu rumpun namun sudah ada 5 tingkat di atas hubungan persaudaraan. Pada saat itulah diatur seksi seksi dan bidang bidang spiritual menurut keahlian masing masing.

TERKAIT  Selain Janda, Batak Mengenal  Beberapa Status Untuk Wanita Menikah

Hasuhuton menemui Partaganing untuk memberi Harbue Santi, serta memberi uang untuk membeli seekor anak ternak Babi Sirompur untuk penghormatan Partaganing kepada sang gurunya dan penghuni Gunung Pusuk Buhit. Dan saat itulah Pargonsi latihan untuk menentukan ritme dan tahapan gondang tersebut. Sebab jika tahapan gondang dan dialognya salah, hampir dipastikan Sang Khalik (Mulajadi Nabolon) tidak turun dari Kayangan.

Hal yang sama dilakukan kepada penombak kerbau. Harus memberi Harbue Santi sebagai penghomatannya kepada Mulajadi Nanolon. Tugas penombak (Pamuhai) hampir sama dengan Pargonsi. Jika penombakan kerbau yang ditambat di pohon kayu (Borotan) salah, artinya ritual gagal.

 

Penulis    : Aliman Tua Limbong
Editor       : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU