spot_img

Surat kepada Hamba Tuhan tentang Pusuk Buhit

NINNA.ID – Oh, iya. Saya kesal. Kesal sekali. Kepada Lae Lumbantoruan. Kepada Appara Situmorang. Saya tak mengenal kalian berdua. Cuma, bagi saya, seseorang yang disebut Hamba Tuhan dan Pendeta harusnya agung dan tahu menempatkan diri. Bahwa kalian spesial itu benar. Buktinya, kalian dipilih sebagai hamba Tuhan dan beberapa jemaat mengakuinya.

Saya tak tahu proses bagaimana Tuhan memilih kalian sebagai pendeta. Itu misteri. Mungkin juga tidak. Yang saya tahu, sebagai profesi, pendeta itu agung, apalagi sebagai panggilan. Ia butuh proses studi bertahun-tahun. Bukan supaya pintar belaka. Tetapi, supaya bijaksana. Kan, itu tujuan belajar filsafat? Filsafat adalah dasar kebijaksanaan. Atau, kalian belajar filsafat enggak sih?

Pendeta juga butuh berlatih bicara. Bukan agar mereka fasih menjadi orator, apalagi provokator.

Pendeta bukan orator. Jika pendeta sebatas orator yang bisa berteriak keras dan lantang, pemimpin demo juga bisa kok. Jadi, tak perlu belajar bijaksana. Cukup jadikan pendeta sebagai “profesi”, ya, segalanya jadi dibisakan. Tetapi, begitukah?

Saya jadi teringat pada hari Paskah tahun lalu. Sebuah karikatur hadir: Get Some Money. Bukan lagi Getsemani. Karikatur itu nyentrik. Saya tahu itu tak benar untuk keseluruhan. Tetapi, perlu kita renungkan bahwa untuk beberapa kasus (semoga bukan untuk kalian), hal itu terjadi kok. Pendeta menjadi profesi penghasil uang. Tetapi, sekali lagi, tak semua. Masih banyak yang setia dengan kalimat: carilah kerajaan Tuhan maka yang lain akan mengikuti.

Dan, saya kembali makin kesal. Kalian memberikan video klarifikasi. Kalian minta maaf. Tetapi, kalimat yang kalian sampaikan bukan untuk minta maaf. Itu untuk membenarkan diri Anda. Dan, oh, kalian pembual. Kalian bilang bahwa kalian datang ke sana untuk berwisata dan bersyukur. Tetapi, saya menonton kembali video itu jauh bertolak belakang. Atau, begitukah cara bersyukur yang baru?

Maaf. Ini pribadi saya. Bagi saya, kalian ini seperti kerasukan setan dengan menggunakan nama Yesus. Buktinya, kalian tak sadar kalian menghina. Kerasukan adalah ketidaksadaran, bukan? Coba ingat-ingat lagi. Coba tonton video itu lagi. Apakah menghina, melecehkan, juga menyakiti? Tentu, posisikan dulu dirimu pada situasi yang sadar. Jangan kerasukan, apalagi menggunakan nama Yesus.

Saya tahu, ada beberapa tradisi kita yang terlihat “menyimpang” dari ajaran Kristen. Tetapi, kita perlu bijaksana bukan? Lagipula, apakah kita sudah betul-betul patuh secara literar pada naskah kitab suci? Jika kau punya dua baju, maka berikanlah pada yang miskin. Oh, sampai sekarang, jemaat gereja masih sesak dengan orang miskin.

Yesus datang mengabdikan diri. Kalian menirunya secara ikhlas. Tetapi, apa kalian mencontoh-Nya sama persis? Tak menikah misalnya. Tak punya rumah tetap juga. Tak punya ambisi duniawi. Dan lain-lain. Dan lain-lain. Tidak bukan? Artinya, tak semuanya kita artikan literar. Kalau semua kita artikan literar, oh, kita bukan pembawa damai. Kita ini pembawa pedang. Tetapi, apa memang begitu?

Tuhan itu dipuja dengan banyak hal. Karena itu, kita harus bijaksana. Kita harus bisa melihat apa beda ulos sebagai pakaian dan tradisi. Ulos sama kok bahan bakunya dengan jas. Lalu, kenapa ada kita yang membakar ulos lalu mengagungkan jas seakan Yesus pernah pakai jas? Supaya tren dan merasa paling maju dalam iman? Kalau begitu, pergilah menjadi orang farisi dan berdoa di sepanjang jalan.

TERKAIT  Cerita Parhaminjon - (1)

Maksud saya: bijaksanalah. Abraham saja memberi korban bakaran. Semula anaknya. Lalu, jadi kambing. Ia letakkan bukan di gereja. Lantas, apakah Abraham berhala? Kamu mungkin menjawab: itu kan perjanjian lama. Loh, kalau perjanjian lama, berarti itu tak penting lagi? Kalau tak penting, koyaklah itu dari kitabmu. Kalimat itu mungkin kasar.

Tetapi, kamu perlu bijaksana. Menghormati leluhur tidak sama dengan memuja leluhur. Bahwa bagimu mereka berhala, jangan-jangan Yesus memandangnya sebagai cara lama yang juga benar seperti dulunya juga Abraham dan tokoh lain di Perjanjian Lama? Atau, kamu merasa lebih benar dari para tokoh Perjanjian Lama? Tak masalah sih kalau merasa lebih benar.

Tetapi, dalam filsafat, kita akan mengerti bahwa merasa paling benar adalah justru kesalahan itu sendiri. Merasa paling benar adalah kesombongan. Emangnya kamu siapa? Hamba Tuhan? Jadi, kami bukan hamba Tuhan? Atau, apakah Hamba Tuhan menjadikan dirimu sebagai seorang anak presiden sehingga kau sombong dan bisa sesuka hati untuk melakukan apa saja lalu berkata: aku ini anak presiden loh. Jangan macam-macam. Padahal, anak presiden saja tidak begitu.

Entahlah. Tetapi caramu untuk menginjak tempat sakral bagi banyak orang di Pusuk Buhit dengan cara mempertontonkannya persis seperti anak raja yang berkata: eh, kamu jangan melawan, ini aku anak raja. Dengan bahasa religius nan sombong kau pun berkata: ini aku anak Tuhan. Hahaha. Maaf, saya harus tertawa.

Coba dibalik, ada orang yang datang menginjak altar gereja? Marah enggak? Jangankan altar gereja. Makam keluarga yang tak pernah dikunjungi dan kau berdiri di sana menginjaknya akan membuat orang cukup alasan untuk marah kepadamu. Karena itu, kamu harus bijaksana. Belajarlah filsafat. Jangan jadi pendeta dadakan.

Mungkin kamu benar karena mengartikan kitab suci secara literar. Tetapi, kebenaran hanya satu hal. Hal lain lebih dari itu adalah etika dan kebijaksanaan. Bukan berarti kalau kau benar, maka aku salah. Begini, secara sains, apakah Adam manusia pertama? Tidak bukan? Karena itulah kau perlu bijaksana dan jangan membenarkan tindakanmu atas nama Kitab Suci.

Kalau kau membenarkan dirimu atas nama kutipan Kitab Suci, kau sama saja sedang kerasukan lalu menggunakan nama Yesus. Intinya, sampai video klarifikasimu itu hadir, bagi saya kalian pecundang sejati. Kalian memang mengutip kitab suci. Tetapi, orang Farisi pun melakukannya. Farisi lebih hebat. Mereka jadi pemenang dalam olimpiade doa. Atau, kalian memang begitu lalu membawa sangkakala, seakan berdoa dengan diam di kamar adalah salah karena harus meniup sangkakala?

Terakhir mau saya bilang, kalian adalah pembohong dan pecundang.

 

Penulis    : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor        : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU