Sombaon Pohon Pohonan, Sumber Air Keramat (2)

NINNA.ID – Dari latar belakang yang sudah diuraikan pada tulisan kami sebelumnya, sehingga memang dapat disimpulkan percaya atau tidak percaya bahwa setiap marga yang ada pada suku Batak pasti memiliki Sombaon Pohon pohonan.

Diyakini sombaon pohon pohonan ini memiliki marwah dan nilai sipritul yang tinggi yang dapat mempererat tali persaudaraan setiap garis keturunan marga yang sesuai dengan filosofi air sebagai sumber kehidupan.

Sehingga boleh dikatakan juga, Sombaon pohon pohonan ini sebagai salah satu wadah perekat dan pemersatu hubungan di level tingkatan ompung dengan tingkatan oppu yang memang dalam tingkatan ini biasa juga disebut Sisada Paniaran, Sisada Pangallangan Juhut, Sisada Anak dan Sisada Boru.

Namun setelah datangnya ajaran Kristen ke tanah Batak, budaya dan tradisi menjaga dan mengingat Sombaon pohon pohonan ini sudah banyak ditinggalkan masyarakat dan kebanyakan dari mereka tidak mengerti lagi makna spiritual dari Sombaon pohon pohonan.

Barulah mungkin apabila datang sebuah pergumulan, katakanlah misalnya tidak memiliki keturunan atau jodoh yang tak kunjung datang padahal umur sudah ujur, mengharuskan mereka pergi ke Datu (dukun)untuk menanyakan pergumulan tersebut dari sisi Partondion.

Biasanya, menurut kepercayaan suku Batak dan menurut penerawangan Datu, mereka pun akan disarankan untuk pergi ke Sombaon pohon pohonan yang telah diwariskan nenek moyang mereka.

Peristiwa-peristiwa seperti inilah yang kerap kali menjadi pengingat orang supaya tidak lupa dengan Sombaon pohon pohonan mereka.

Alhasil menurut cerita dari beberpa orang yang sudah menjalankannya, mereka pun dikaruniai anak oleh Mulajadi Nabolon, dan bagi orang yang mencari jodoh, jodohnya pun sudah ketemu dan mereka sudah menikah.

BERSPONSOR
TERKAIT  Patik Suku Batak Toba (2)

Tentu saja tidak berlaku ke semua orang, tergantung kepercayaan masing masing dan keiklasan untuk menekuninya.

Dari perspektif budaya dan tradisi suku Batak, mereka memang harus melakukan ritual di Pohon pohonan itu. Bermacam macam, sesuai dengan kondisi dan permintaan mereka yang pergi ke sana. Petunjuk itu biasanya datang dari orang pintar yang sudah mereka tanya sebelumnya.

Ada yang harus Martambangan yaitu mendirikan Langgatan Sitolu Sagi, yang biasanya dengan menyembelih kambing putih sebagai sesajen.

Ada juga yang hanya menyampaikan sesajen seperti ayam putih yang dilengkapi dengan makanan khas Batak Toba lainnya yakni; Nihopingan, Nihintang ni andalu, Nitak putih dilengkapi dengan anggir (jeruk purut), pisang sileu (tanduk ni horbo paung), telur ayam kampung yang disebut miak miak saguri guri dan Napuran (daun sirih lengkap).

- Advertisement -

Memang setiap pohon pohonan mempunyai keunikan dan kekhasan masing-masing sehingga sesajen yang akan disampaikan pun tentu akan berbeda.

Hingga zaman sekarang memang masih ada kita jumpai yang masih melakukan tradisi ini. Hanya saja tidak seperti dahulu lagi. Palingan misalnya, ketika penyakit yang sudah berlarut larut dan sudah ditolak dari rumah sakit karena tidak ditemukan diagnose secara medis, ujung ujungnya akan pergi ke sana.

Mau percaya atau tidak tergantung keyakinan masing-masing, Yang pastis Tuhan menciptakan segala sesuatunya ada tujuan dan manfaatnya tergantung dari sudut pandang kita melihat dan memaknai ciptaan tersebut

 

Penulis   : Aliman Tua Limbong
Editor      : Mahadi Sitanggang

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU