spot_img

Soliditas Batak Harus Begini: Mangkuling Mudar i

NINNA.ID – Pada mulanya, Batak adalah semua yang teguh pada paket patrelinear dan pola adat Dalihan Na Tolu. Soal bagaimana penamaan Dalihan Na Tolu di beberapa tempat adalah kreativitas masing-masing. Nama boleh berbeda, tetapi esensi tetap sama. Sampai di sini, kita sudah paham bahwa Batak itu sangat luas dari Karo hingga Mandailing.

Mengapa saya bercerita seperti itu? Tujuannya jelas: kita harus solid sebagai Batak, apa pun agamanya. Kita perlu mencontoh soliditas suku atau negara lain. Mereka, meski berbeda agama, tetap sangat solid. Rasanya, sebagai Batak, hal itu harus kita tumbuhkan. Harus ada kesadaran bahwa darah kita sama persis.

Pada 6 November 2021, sanggar kami Sanggar Maduma dapat pesanan untuk tampil memeriahkan pesta pernikahan Lae Marga Lumban Gaol dan Ito Boru Siregar. Saya sebut “Lae” bukan karena kandung tentu saja. Saya tak mengenal pengantin pria tersebut. Demikian juga dengan ito Boru Siregar tersebut. Saya tak mengenalnya.

Pada pesta pernikahan itu, sanggar kami Sanggar Maduma menyambut pengantin. Pada acara Batak-Kristen, penyambutan umumnya dilakukan setelah pengantin pulang dari gereja. Di Batak Islam, penyambutan dilakukan setelah selesai ijab kabul. Sebelumnya, saya kebingungan.

Lantas, seorang fotografer bermarga Lumban Gaol ada di situ. Ia seorang muslim. Berkali-kali ia saya lihat sebagai fotografer dan ikut masuk gereja. Artinya, beberapa kali kami sudah bertemu dalam acara yang sama. “Kita Batak, Laeku. Kita sama aja. Tak ada yang berbeda, kecuali ibadah,” katanya.

Dan, ternyata benar. Tak ada yang berbeda. Makanan boleh berbeda. Tetapi, esensinya sama. Di pesta itu, saya melihat Batak hadir penuh warna. Ada Islam. Ada Kristen. Mungkin juga parmalim. Saya soalnya tak bertanya-tanya. Mereka manortor bersama. Mereka bercengkerama. Bahasa Batak khas Doloksanggul tentu saja.

Lalu, trio emak-emak bernyanyi. Mereka memang Batak. Suaranya melengking. Tepuk tangan terdengar. Mereka menyanyikan salah satu lagu populer: Bukti Ni Cinta. Mungkin kalian sudah tahu lagunya secara keseluruhan. Karena itu, saya kutip sebagian saja di sini.

“Posma roham di au
Jolo dapotma sinamotmi
Hodo boanonku ito
Tu langgatan ni gareja i”.

Pada pesta kali ini, lirik lagu itu ditukar.
“Posma roham di au
Jolo dapotma sinamotmi
Hodo boanonku ito
Tu kantor KUA i”

Apa pesannya bagi kita? Saya pikir pesannya kuat. Yaitu, bahwa apa pun kepercayaan kita, pada dasarnya kita sama. Karena itu, sebagai orang Batak, kita harus solid dan bukan saling mengintip. Percayalah, sebagai sebuah paham, tak ada yang tetap. Saat ini Batak bisa jadi Kristen. Bisa jadi Islam. Bisa jadi Hindu.

TERKAIT  Roh – Pancaran Jiwa Dalam Diri Orang Batak Toba (VI)

Di masa depan, ketika agama baru mungkin bermunculan, ada peluang Batak juga akan menganut agama baru itu. Artinya, sebagai paham, kita bisa berubah dan berbeda. Seseorang bisa dilahirkan secara Islam. Besar-besar ia bisa jadi Kristen, atau bahkan tak beragama. Tetapi, satu yang tak akan berubah: di darahnya akan tetap mengalir darah Batak.

Batak itu identitas keluarga. Agama itu identitas pribadi. Maksud saya, keluarga itu urusan bersama, sementara keselamatan surgawi itu urusan pribadi. Aku baik, belum tentu semua anggota keluargaku akan masuk surga. Bukankah surga itu urusan personal dan bukannya kelompok? Tuhan sudah memutuskan bahwa untuk masuk surga bukan tentang keluarga. Itu tentang sikap pribadi.

Karena itu, mari jangan campurkan urusan pribadi dengan urusan keluarga, apalagi komunal. Mari utamakan urusan komunal demi keutuhan Batak sebagai sebuah identitas keluarga. Dengan begitu, kita akan kembali mendengar kisah klasik: mangkuling mudar i bah.

Tadi, esai ini saya mulai dengan kalimat pembuka: “pada mulanya, Batak adalah semua yang teguh pada paket patrelinear dan pola adat Dalihan Na Tolu”. Penutup esai ini, saya juga akan membuat kalimat identik: pada akhirnya, Batak adalah semua yang teguh pada paket patrelinear dan pola adat Dalihan Na Tolu. Semoga kita tetap bersama dan solid sebagai sebuah satu bangsa kecil. Sebab, pada dasarnya, darah yang sama akan bersuara nyaring: makkuling mudar i.

“Minum ito,” kata Boru Sitohang sambil menyuguhkan segelas sendor dengan sangat ramah di tengah Batak Muslim yang sedang ramai bergembira. Ia tahu saya Katolik tulen.Tetapi, ia sangat mengerti bahwa ada darah kami yang tak bisa disangkal. Dan, ketika akan pulang, namboru Sitohang itu memelukku dengan hangat.

“Sering-sering ke sini, ya, Bapa,” katanya. Tentu saja aku mengangguk.

 

Penulis     : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor        : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU