TOBA – Bertempat di Gompar Simuring, Desa Sitoluama, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba, Sabtu (20/08/2022), Pokdarwis Sitoluama menyelenggarakan acara puncak Sitoluama Harvest Festival (SHF). Acara yang bertujuan untuk menumbuh kembangkan pariwisata desa ini merupakan serangkaian acara panen yang diawali dengan ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Selanjutnya pelaksanaan panen padi dilakukan sebagaimana leluhur orang Batak Toba dahulu memanen padi, sebelum mengenal mesin pertanian sebagaimana lazimnya saat ini. Panen juga dilakukan dengan sistim ”Marsirimpa” (gotongroyong).

Padi yang sudah diarit terlebih dahulu dikumpulkan pada sebuah tempat di tengah sawah yang sebelumnya telah dilapisi tumpukan jerami. Tumpukan padi yang disebut ”luhutan” ini dibentuk seperti lingkaran, dengan posisi bulir padi berada di bagian tengah lingkaran.
Setelah semua padi terkumpul kini giliran pekerja yang didominasi lelaki untuk ”Mardege”. Mardege sendiri merupakan upaya memisahkan bulir padi dari tangkainya dengan cara menginjak-injak butiran padi dengam gerakan tertentu. Sebatang bambu dipasang melintang di atas dua buah tiang yang juga terbuat dari bambu menjadi pegangan beberapa lelaki untuk menjaga keseimbangan saat Mardege.
Sebagai peneduh dari terik matahari, beberapa pelepah daun aren sengaja ditancapkan di pinggir tikar pandan yang digunakan sebagai alas atau wadah saat mardege. Setelah buliran padi seluruhnya terlepas dari tangkainya, kaum ibu mempersiapkan diri untuk “Mamurpur”. Proses ini merupakan cara untuk memisahkan gabah dari bulir padi hampa maupun dari batang serta daun padi yang masih bercampur dengan gabah.
Mamurpur dilakukan dengan mencurahkan padi yang sudah dimasukkan ke dalam bakul, lalu diangkat setinggi mungkin dan satu orang lainnya mengibaskan tampi untuk menghasilkan tiupan angin untuk membersihkan gabah.
Setelah buliran padi benar-benar terpisah dari batang padi, dedaunan serta padi hampa, selanjutnya butir padi atau gabah tersebut dimasukkan ke dalam bakul yang terbuat dari anyaman daun pandan. Gabah-gabah dalam bakul maupun goni itu dibawa ke kampung dengan cara dipikul dan sebagian dijunjung oleh kaum ibu.

Seluruh penduduk kampung bergembira. Penduduk yang tidak ikut bergotong-royong dalam pemanenan, berperan menpersiapkan makanan dan minuman di kampung. Mereka tampak bergembira menyambut rombongan saat tiba dengan memikul maupun menjunjung hasil panen.
Hasil panen lalu dikumpulkan di ”Sopo”. Para ibu dan anak gadis selanjutnya menghidangkan makanan. Makanan pembuka berupa ”Itak Gurgur” yang bermakna agar hasil panen melimpah.
Sitoluama Harvest Festival ini juga diisi dengan pameran alat-alat pertanian kuno, pameran UMKM, dan juga ada tortor yang dibawakan oleh anak-anak dari sanggar seni Dolok Sipiak asuhan Cory Panjaitan, juga penanggungjawab kegiatan SHF.
Lebih lanjut Cory menjelaskan, kearifan lokal sebagai bagian dari kebudayaan masyarakat Batak tersirat dari Mardege atau Manerser. ”Serser do mula ni tortor”.
Sebelum mardege ada Manabi yang diikuti dengan membuat Luhutan. Lahirlah perumpamaan ”Sala mandasor sega luhutan”.
Adelina, seorang pengunjung dari Dolok Sangul berharap kegiatan ini dilaksanakan setiap tahun sebab sangat bermanfaat untuk mendukung Danau Toba sebagai Destinasi Super Prioritas.
Penulis : Asmon Pardede
Editor : Mahadi Sitanggang



