spot_img

LIBUR PASKAH DARI KALDERA TOBA

Sipinsur di Masa Paskah: Bayar Seribu, Dapatnya tak Terkira

HUMBAHAS – Pada 18 April 2022 kemarin, saya membawa keluarga liburan Paskah. Kami pilih destinasi mulai dari Sipinsur, turun ke Panoguan Solu, lalu berakhir di Baktiraja. Kali ini, di liburan Paskah, pengunjung Sipinsur jauh lebih ramai dari biasanya. Pokoknya, sangat ramai. Dan, bukan ramai begitu saja. Sipinsur penuh dengan pemandangan yang mengejutkan.

Untungnya, masuk ke Sipinsur boleh dikatakan murah. Kalau kata Indra Kenz: waow, murah banget. Soalnya, kita hanya bayar Rp1.000. Biaya parkir pun ramah, cukup Rp10.000 untuk satu mobil. Padahal, setelah kita masuk, segala biaya itu menjadi tidak ada. Soalnya, semua keindahan dan ketenangan dapat kita nikmati di sana dengan tenang.

Hari itu, cukup banyak saya lihat keluarga membawa bekal masing-masing. Ada juga yang membawa tikar. Bahkan bantal. Di sana, mereka makan bersama. Saya melihat, mereka hanya numpang makan dan tidur. Sebab, sehabis makan, mereka tiduran sembari kanak-kanaknya bermain-main. Memang, cukup menyenangkan tiduran di sana.

Ada sepoi angin yang sejuk. Tepat di bawah rindang pohon pinus. Petugas kebersihan di sana pun cukup cekatan sehingga rumput tetap bersih. Berkali-kali mereka lewat untuk memetik sampah. Saya melihat, Pemerintah Humbang Hasundutan melalui Dinas Pariwisata sudah berhasil mengedukasi mereka. Mereka telaten dan cukup ramah.

Soalnya, untuk pengunjung sebanyak itu, sampah tak terlihat banyak. Iseng-iseng saya bertanya: Rajin kali Bu? Dengan senyum ia bilang: supaya pengunjung tak datang parsahalian.

Mereka sudah visioner. Mereka tak melihat lagi seorang manusia dari seribu bayaran uang masuknya. Mereka sudah berpikir, kalau mereka puas, mereka akan mengajak yang lain.

Ibu itu benar. Saat ini, wisatawan datang karena kepuasan. Jika mereka puas, rekomendasi akan berlanjut. Jika tak puas, mereka juga akan saling mengingatkan. “Kalau puas, mungkin akan viral dan pengunjung makin ramai,” kata ibu itu. Sebaliknya ia juga berkata, “Kalau tak puas, ini juga bisa viral dan makin sepi.”

TERKAIT  Ini Lokasi Mancing Terfavorit di Ambarita Samosir

Ini mindset yang sangat saya puji. Dari seorang ibu penjaga kebersihan yang rajin mondar-mandir dapat saya simpulkan, Dinas Pariwisata telah membangun jiwa wisata pekerja. Karena itulah pengunjung terlihat nyaman. Mereka tiduran. Berburu foto. Atau menonton anak-anaknya sedang bermain bahagia.

Andai di suasana ramai seperti kemarin ada pertunjukan seni dan budaya, mungkin akan jauh lebih asyik lagi. Intinya, Sipinsur adalah paket lengkap. Bayar seribu, kita dapat petugas yang ramah. Dapat keteduhan pohon pinus. Dapat kebersihan rumput. Dapat arena bermain anak, seperti selonjoran dan ayunan.

Dapat udara yang bersih. Dapat pemandangan danau. Dapat pulau Sibandang. Pokoknya, bayar seribu kita dapat berlipat lipat. Ada kebahagiaan kanak-kanak. Kebahagiaan orang tua. Kebahagiaan bersama. Karena itu, berkunjunglah ke Sipinsur di masa luangmu. Jangan takut mengoyak seribu rupiah.

Tapi, saya punya saran. Bagaimana kalau kita membuat tulisan berupa umpama dan umpasa di sana serta ditulis mencolok dan indah sehingga bisa tempat berpose. Bisa juga kata atau rayuan yang indah. Jika bisa tempat berpose, ini akan menjadi gerakan soft untuk tetap mengedukasi pengunjung. Bisa juga Sipinsur makin ramai bukan?

 

Penulis  : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor     : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU