spot_img

Sipaha Lima, Ritual Peringatan Lahirnya Raja Sisingamangaraja

Memakai penutup kepala kain hitam yang berhias daun, pria yang mulai sepuh itu berdiri menghadap altar persembahan. Mulutnya terlihat merapalkan doa kepada Mula Jadi Nabolon. Sesekali, dia memercikkan air dari cawan yang ada di tangannya.

Itulah prosesi mengawali ritual Sipaha Lima yang dilakukan organisasi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, di tanah Batak, yang dikenal dengan Golongan Si Raja Batak Parbaringin Malim Marsada.

Ritual Si Paha Lima merupakan peringatan lahirnya Raja Sisingamangaraja yang dirangkai dengan acara syukuran setelah selesai panen. Tahun ini jatuh pada bulan Agustus.

Persembahan yang sudah dipersiapkan dalam ritual Sipaha Lima.(Foto/Asmon)

Hari pertama ritual ini, mempersiapkan Langgatan Siopat Suhi (altar persegi empat) lengkap dengan bendera merah putih, bendera pusaka Batak yang disebut juga bendera Debata Natolu (terdiri dari warna hitam, putih dan merah), hujur siringis, serta tunggal panaluan dan persiapan bahan pelean atau persembahan berupa kambing putih, ihan Batak/dekke sitiotio, harbue liat-liat, itak putih, sawan pangurason berisi air, anggir (jeruk purut), sanggul baringin serta pardaupaan tempat membakar kemenyaan. Khusus kemenyaan ini dipilih mutu terbaik dari alam Toba.

Manortor mengelilingi altar persembahan dalam ritual Sipaha Lima.(Foto/Asmon)

Langgatan berupa altar itu dihiasi mare-mare (janur kuning) di sekelilingnya dan bagian atasnya ditutup dengan kain putih. Pada beberapa sisi ditancapkan tiang sebagai tempat bendera warna hitam, putih dan merah. Bendera merah putih berada paling depan sebelah kanan, dan bendera Sisingamangaraja di sisi sebelah kiri.

Hari kedua merupakan matani ulaon (puncak acara). Di hari kedua ini musik tradisionil Batak atau gondang ditabuh tanpa sound system, agar Kekhusukan acara dan aura sakral lebih terasa.

Sesepuh Parbaringin bernama, Ompu Sidoli Jaya, dengan sawan pangurason (cawan) di gengamannya mulai memanjatkan doa-doa kepada Mula Jadi Nabolon (Tuhan yang dikenal leluhur Batak) sembari sesekali memercikan air dari sawan pangurason menggunakan dedaunan khusus. Tak lupa dia juga berdoa agar pandemi Covid-19 segera berlalu dari muka bumi.

TERKAIT  Terapi Hijau Lembah Limbong

Perlahan alunan khas gondang Batak pun mendayu-dayu diiringi gerak tortor oleh segenap undangan yang datang dari Desa Naualu (delapan penjuru angin). Melalui gerakan tortor asli Batak yang indah itu, seakan membawa suasana ke masa leluhur Batak. Auranya berbeda.

Golongan Si Raja Batak Parbaringin Malim Marsada ini mempunya pengikut lebih kurang 100 kepala keluarga yang tersebar di seantereo nusantara. Sudah menjadi tradisi, bahkan suatu keharusan setiap tahun, Golongan Si Raja Batak Parbaringin Malim Marsada ini melakukan ritual Si Paha Lima. Salah satu ciri mereka adalah menggunakan penutup kepala dari kain berwarna hitam, bukan putih.

Bendera merah putih ditempatkan di depan bersanding dengan bendera Raja Sisingamangaraja dalam ritual Sipaha Lima.(Foto/Asmon)

Mereka dapat dijumpai sekretariatnya di Pasar Baru, Desa Bius Gu Barat Kecamatan Parmaksian, Kabupaten Toba. Golongan ini dipimpin Sanriko Marpaung, Gabriel Sinaga sebagai sekretaris dan Rauman Sirait sebagai bendahara dengan penasehat Amir ”Sampuara” Marpaung (Ompu Si Doli Jaya Marpaung).

Kegiatan Si Paha Lima ini juga dihadiri perwakilan dari Instansi pemerintah, Friska Hutagalung, selaku Kepala Seksi Pelestarian Cagar Budaya, Sejarah, Permuseuman dan Tradisi.

Pemerintah Toba sangat menghargai keberadaan organisasi yang tetap mempertahankan tradisi leluhur orang Batak ini. Bahkan diharapkan kegiatan seperti Sipaha Lima itu dapat menjadi ciri khas Kecamatan Parmaksian Kabupaten Toba.

Salah satu ritual dalam upacara Sipaha Lima.(Foto/Asmon)

Peringatan Sipaha Lima kali Ini terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya akibat pembatasan dampak pandemi Covid-19. Ritual yang dilaksanakan selama tiga hari ini akan ditutup dengan acara mempersembahkan ayam putih, sebagai manghamauliatehon tu banua ginjang (ucapan terimaksih kepada Tuhan).

Penulis : Asmon Pardede
Editor : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU