Simalungun, Toba, dan Taput Penghasil Jahe dan Kunyit Terbesar di Sumut

BERSPONSOR

NINNA.ID-Kabupaten Simalungun, Toba, dan Taput (Tapanuli Utara) merupakan penghasil rempah jahe dan kunyit terbesar di Sumut.

Hasil bumi Simalungun untuk jahe selama 2021 mencapai 7.655.089kg, ungkap data BPS, Statistik Pertanian Hortikultura SPH-TBF, Kabupaten Toba berhasil memproduksi 1.220.797kg sedangkan Kabupaten Taput mencapai 714.650kg.

Hasil bumi Simalungun untuk kunyit selama 2021 mencapai 2.359.497kg, Toba memproduksi 325.920kg sedangkan Taput mencapai 169.600kg.

Beberapa kabupetan lain yang juga memiliki produksi jahe dan kunyit dalam jumlah besar yakni Samosir, Tapanuli Selatan, dan Deli Serdang.

BERSPONSOR

Untuk tanaman lain seperti Temulawak, banyak ditanam di Serdang Bedagai, Samosir, PakPak Bharat, Humbang Hasundutan dan Nias Selatan.

Harga Berfluktuasi

Harga rempah-rempah ini sering berfluktuasi akibat permintaan naik turun. Sering anjlok karena konsumsi dalam negeri rendah. Dapat meningkat karena permintaan ekspor ke seperti Malaysia.

Tahun lalu, Balai Karantina Tanjung Balai Asahan memfasilitasi ekspor jahe sebanyak 2 ton ke Malaysia.

BERSPONSOR

Berdasarkan data pada sistem perkarantinaan, IQFAST diwilayah kerjanya pada 2019 tercatat sebanyak 62 kali kegiatan ekspor dengan jahe dengan total 330,2 ton dengan nilai ekonomi mencapai Rp. 2,1 milyar dengan tujuan negara Malaysia. Sementara di tahun 2020 hanya 1 kali eksportasi jahe dengan total 3 ton dengan nilai ekonomi Rp. 10 juta saja.

TERKAIT  Bappebti Berkomitmen Tahun ini Perkuat Pengembangan Ekonomi Digital Indonesia
Jahe Merah
Jahe Merah (Foto: Damayanti)

Adianto, pimpinan PT Berkat Lautan Berjaya selaku pemilik barang mengakui bahwa ditahun 2020 pihaknya kesulitan melakukan ekspor hasil pertaniannya. Selain karena kebijakan karantina wilayah atau lock down di Malaysia, jahe Sumut juga harus memenuhi kebutuhan pasokan pasar dalam negeri yang ikut melonjak di masa pandemi.

“Kebutuhan pasar domestik tahun lalu sangat tinggi, ini juga sangat membantu menyerap hasil panen jahe kami, walaupun harga sedikit dibawah harga ekspor, tapi kami cukup bersyukur,” tutur Adianto.

Nani, penanggung jawab wilayah kerja TB Asahan juga turut menambahkan bahwa seluruh komoditas jahe yang diekspor perdana di awal tahun 2021 ini telah melalui serangkaian tindakan karantina. Bebas hama penyakit tumbuhan berbahaya juga bebas dari tanah.

- Advertisement -

“Sesuai aturan internasional, tanah dari negara asal tidak dapat masuk ke negara tujuan ekspor, karena tanah memiliki potensi membawa micronorganisme berbahaya,” terang Nani.

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU