spot_img

Sihali Aek Tipang, Para Penjaga Saluran Air Anti Gravitasi

NINNA.ID – HUMBAHAS

Tradisi Sihali Aek di Desa Tipang Kecamatan Baktiraja di Humbang Hasundutan, bukanlah tradisi seni tari, bela diri atau semacam ritual budaya. Tradisi ini lebih mengarah kepada gotong-royong dan tanggungjawab.

Melihat mata pencarian utama warga Desa Tipang adalah petani, teradisi yang sudah berlangsung puluhan atau mungkin ratusan tahun ini tidak akan lekang dari sana. Sihali Aek, merupakan para penjaga saluran irigasi agar penen raya di Tipang terjamin dua kali dalam setahun.

Sederhananya, Sihali Aek berarti menggali saluran air. Namun, tidak sekedar seorang atau lebih membawa cangkul membuat parit saluran air dan selesai.

sihali Aek di Tipang sudah terstruktur rapi. Jumlahnya 122 orang. Dua orang di antara mereka disebut parhara yang bertugas memantau kondisi saluran air dan selalu membuat laporan tentang keadaan saluran.

Jumlah besar itu lalu dibagi dalam dua kelompok, yang bertanggung jawab pada hulu disebut Sihali Aek Dolok dan bertanggungjawab di hilir disebut Sihali Aek Toruan. Mereka juga menerapkan reward and punishment.

Para penjaga sumber air kehidupan ini harus mewakili tujuh marga yang berasal dari Tipang yakni Simamora (Purba, Manalu, Debata Raja) dan Sihombing (Silaban, Lumban Toruan, Nababan, Hutasoit).

Pimpinan Sihali Aek dari marga Lumban Toruan, Jesrel Lumban Toruan mengatakan tradisi itu sudah ada jauh sebelum dia lahir. Perkiraannya, Sihali Aek muncul sejak warga Tipang mengenal pertanian.

TERKAIT  Mangelek Habonaran Ni Huta
Sihali Aek Tipang
Rapat Sihali Aek dari perwakilan tujuh marga di Desa Tipang.(Foto/gom)

“Terhitung sudah 300 tahun lalu Tipang sudah mengenal sitem pertanian yang baik. Maka sejak itu pula, Sihali Aek perkiraan saya sudah ada di Tipang,” ujar salah seorang Raja Jolo Sihali Aek itu.

Sifat gotong-rotong yang berdiri sama tinggi duduk sama rata, mau tak mau untuk sementara harus menanggalkan status hubungan adat Batak terutama antara hula-hula dan pihak boru. Selama masih dalam kepentingan Sihali Aek, status boru tidak salah menyuruh hula-hula yang strata sosial dalam adat Batak lebih dihormati.

Selain adanya penaggalan status demi kepentingan bersama yang lebih besar tadi, ada satu kelebihan dilakukan Sihali Aek ini. Sumber air ke sawah dari sungai Sipultak Hoda yang posisinya lebih rendah, bisa “dinaikkan” mengaliri lahan seolah melawan gravitasi.

Tradisi ini, tampaknya akan berlangsung selamanya selagi kehidupan warga Desa Tipang masih ditopang pertanian. Untuk melihat kondisi pertanian di Tipang, dapat ditempuh satu jam perjalanan dari Kota Dolok Sanggul atau lebih lama tiga puluh menit jika dari Bandara Silangit.

Penulis : Gomgom Sihombing
Editor : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU