Shibori Humbang Hasundutan

NINNA.ID-Saya sudah melakukan wawancara. Kepada pengrajin dari Humbang Hasundutan. Kebetulan, sanggar saya Sanggar Maduma berniat membuat cerita dan tari kreasi dari Shibori. Sudah lama ide itu muncul. Latihan sudah dilakukan. Cerita pun sudah disiapkan.

Ceritanya mulai matang. Tari kreasinya pun sudah dilatih. Beberapa kali. Lalu, saya berikan kepada Kabid Disparpora Humbang. Pengen menampilkannya. Tapi, kita lihat waktu yang tepat. Mungkin belum saat ini. Kita lihat saja nanti. Karena Shibori cukup menarik.

Shibori nama yang baru. Sebenarnya begitu. Sekaligus aneh. Kadang disebut khas Humbang Hasundutan. Masalahnya, darimana kata Shibori? Itu bukan bahasa Batak. Itu konon bahasa Jepang. Jika harus dipelesetkan, ya, jadi Si Boru. Bukan Shibori.

Imajinasi kita liar. Mungkin ini terkait peristiwa Perang Dunia II. Kebetulan, Jepang pernah tiba di Nusantara. Tiba juga di Tanah Batak. Malah katanya ke Humbang. Itu cerita oppungku. Saya tak tahu ia mengada-ada atau tidak. Tapi cukup meyakinkan. Ia bahkan hafal beberapa lagu.

“Waktu itu kami masih kecil. Nippon datang,” kata oppungku saat itu. Aku bertanya. Tentang apa itu Nippon. Setelah sekolah, baru aku mengerti, Nippon adalah Jepang. Rupanya waktu itu, Jepang bukan Jepang. Mereka mengaku Nippon. Itu kata oppungku.

“Kami harus bersembunyi. Kami membuat lubang. Begitu kami dengar, kami masuk lubang,” kisahnya. Ada rasa takut di antara mereka. Ternyata, Nippon kejam. Mereka dipaksa bekerja. Membuat jalan. Menanam padi. Menjadi pasukan. Berperang. Dan masih banyak lagi.

TERKAIT  Mangelek Habonaran Ni Huta

Aku bertanya. Apakah mereka dipaksa bertenun ulos? Oppungku menggeleng. “Tapi, mereka membeli kami baju. Baru, oppung ditanya lagi: mau membuat baju seperti itu? Oppungku ketakutan. Ia mengangguk. Hari kemudian, ia selalu menghindar. Trauma.

Saya tak tahu pasti. Agak kurang masuk akal Si Boru dipaksa bertenun. Si Boru menjadi Shibori. Kurang masuk akal. Tapi, setiap fakta selalu punya cerita. Heroik. Dramatis. Atau malah datar-datar saja. Yang dramatis bisa diciptakan. Yang heroik bisa dikenang.

BERSPONSOR

Yang datar-datar saja biasanya dilupakan. Tak ada yang istimewa. Shibori cukup istimewa. Di banyak tempat di Indonesia. Agak istimewa di Humbang Hasundutan. Maka, perlu dicari cerita yang dramatis. Atau heroik. Ada sebuah catatan. Harus menjadi pegangan. Cerita bukan kisah.

Jadi, tak perlu rekonstruksi. Cukup diimajinasikan. Imajinasi itu berkembang di kepala kita. Mungkin berbeda. Tapi, begitulah hakikat cerita. Tokoh yang sama, fisik berbeda. Objek yang sama, beda deskripsi. Shibori Humbang juga berbeda. Dari yang lain. Itu istimewa.

Penulis: Riduan Situmorang

Editor: Damayanti

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU