spot_img

Serunya Raun-raun di Desa Tipang

HUMBAHASTipang. Desa indah di Kecamatan Baktiraja Kabupaten Humbang Hasundutan ini semakin ramai dikunjungi traveler. Apalagi setelah dalam ADWI tahun 2021 lalu, desa ini meraih peringkat IV dalam kategori Desa Wisata Rintisan. Pena dan camera wartawan semakin sering mengabadikan potensi dan momen di desa ini. Desa ini juga sudah menjadi pembicaraan menarik di hampir semua News Room stasiun televisi kita.

Adalah Kemenparekraf/Baparekraf yang punya andil besar dalam memperkenalkan Desa Tipang melalui media massa, bersama dengan 50 Desa Wisata lainnya, versi Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021. Penasaran ada apa di desa ini? Yuk kita round around (raun-raun) di Desa Tipang.

Desa ini memiliki potensi wisata alam, wisata budaya dan sejarah, hingga wisata buatan.

Raun-raun diawali dari Tugu Selamat Datang Tipang. Tugu ini sangat ikonik karena melambangkan tiga hal penting di Desa Tipang: padi, ternak dan filosofi duhut-duhut simardimpos (memperkecil masalah besar dan memaafkan kesalahan kecil).

Usai mengetahui potensi desa beserta karakter penduduknya yang tergambar dari tugu, traveler bisa menyaksikan Martoba. Kegiatan ini menunjuk pada aktivitas nelayan setempat menangkap ikan di Danau Toba dengan memasang jaring. Bagi yang ingin merasakan serunya Martoba, traveler dibolehkan naik sampan ke danau bersama Partoba (Pak Nelayan).

Bisikkan kepada Partoba kalau ikan hasil tangkapan untuk dinikmati di Desa Tipang, soalnya, di desa ini ada pemandu untuk menikmati ikan tanpa dimasak dengan api. Kalau di Jepang dikenal dengan Sushi, di sini disebut Naniura.

Sebagai kuliner asli masyarakat Batak Toba, jadi bukan ala-ala Jepang ya, Naniura masih dilestarikan di sini. Ikan hasil tangkapan Partoba tadi difermentasi. Setelah ikan dibersihkan duri-durinya dibuang. Orang Prancis bilang ikan seperti ini Filet. Lantas dicampur dengan Uram uram (bumbu khas Batak). Tunggu sekitar 3 jam, filet ikan sudah siap dicicipi. Di lidah terasa asam, pedas dengan aroma kunyit dan serai. Hmm, enak gak ya?

raun raun desa tipang
Para penjaga tradisi cemilan khas Batak Toba Sasagun.(foto:gomgom)

Waktu tiga jam menunggu Naniura tadi, traveler bisa menyaksikan atau ikut membuat makanan ringan yang disebut Sasagun. Cemilan asli orang Batak Toba ini memang sudah semakin langka, tapi jangan khawatir, di desa ini masih ada ibu-ibu yang mahir dan mau mengajarkan cara membuat Sasagun.

Setelah menikmati makan siang dengan Naniura, aktivitas Marmahan (menggembala) kerbau anak-anak desa pasti mencuri perhatian. Sudah menjadi bagian perjalanan hidup anak-anak di sini, sebagai gembala kerbau. Menariknya ke padang rumput di sekitar Batu Maranak. Dari sini, panorma Danau Toba juga sangat memukau.

TERKAIT  Berwisata Ala Belanda di Loken Barn

Keseruan menggembala biasanya dilanjutkan dengan memandikan kerbau. Seru melihat tingkah anak gembala di sini. Sesekali ada yang duduk di punggung kerbau dan terlihat ceria saat memandikan kerbau.

Mau ikut merasakan memandikan kerbau? Di sini tempatnya. Sambil bercanda dengan anak gembala, traveler bisa cari tahu apa saja cita-cita anak kampung sini.

Sedikit letih Marmahan dan basah-basah karena memandikan kerbau, saatnya mandi ke Air Terjun Sigota-gota atau Air Terjun Janji. Dinginnya air pegunungan yang mengaliri tubuhmu bisa meluruhkan rasa letih dan keringat yang menempel sejak siang hari.

Menjelang makan malam, lagi-lagi ada kuliner khas Batak menunggu dikunyah, ayam Napinadar. Rasa pedas bumbu andaliman yang disebut juga merica Batak itu bisa membantu menghangatkan tubuh. Tak perlu khawatir pedasnya bertahan di lidah karena ada cemilan unik yang manis, Sasagun, yang dimasak siang tadi.

Jangan buru-buru tidur setelah makan malam. Selain memang tak dianjurkan, ternyata ada aktivitas kaum ibu di sini. Mereka menganyam daun pandan menjadi tikar. Seni keterampilan tangan ini, mulai pudar di tanah Batak.

Dapat keindahan Danau Toba, menjadi nelayan bersama Partoba, mengolah ikan Naniura, memasak Sasagun, menjadi anak gembala, membersihkan tubuh di air terjun dan melihat kerajinan lokal yang mulai punah, semuanya bisa dinikmati di Desa Tipang. Keseruan sehari penuh itu pasti membuat tubuh butuh istirahat. Saatnya menuju peraduan, merasakan tenangnya malam di Desa Tiang di rumah tradisional Batak yang disulap menjadi Homestay.

raun raun desa tipang 2
Anak-anak penari.(foto:gomgom)

Esok hari begitu semburat jingga fajar bersinar, traveler bisa ikut beraktivitas bersama warga. Ada yang Maragat (menyadap nira aren), memetik kopi, turun ke sawah hingga Martumba (menari) bersama anak remaja di sana.

Di sini, di perairan Danau Toba Desa Tipang, ada pulau kecil yang disebut Pulau Simamora. Ada juga yang menyebutnya Pulau Kura-kura. Untuk mengetahui sejarah berdirinya desa ini, bisa dipelajari dari bebatuan dan juga peninggalan tua lainnya seperti beberapa Sarkofagus yang berusia ratusan tahun.

Peran Anak Kampung Sini (AKAMSI) telah berhasil membangkitkan semangat pariwisata sehingga traveler yang datang tidak merasa bosan, bisa menikmati raun-raunnya yang seru. Bagi bro dan sista tak perlu bingung mau melakukan yang mana, karena selalu dipandu oleh Pengelola Desa Wisata di sini.

Jarak Desa Tipang yang indah dan penuh kejutan ini cuma 1 jam dari Bandara Silangit, 45 menit dari Dolok Sanggul, atau 30 menit dari Muara. Yuk Round Around ke Desa Tipang.

 

Penulis   : Gomgom Sihombing
Editor      : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU