Senyum yang Mengubah Wajah Danau Toba

BERSPONSOR

NINNA.ID-Senyum itu sederhana, tapi berdaya magis. Senyum bisa memecah kebekuan, mendamaikan prasangka, dan mencairkan keraguan yang sudah mengendap lama. Senyum pula yang kini diyakini akan menjadi kunci bagi kebangkitan sektor pariwisata di Danau Toba.

Bane Raja Manalu, salah satu tokoh Batak yang saat ini menjabat sebagai anggota DPR RI di Komisi 7 berkali-kali menegaskan pentingnya senyum bagi para pelaku wisata di Kawasan Danau Toba.

“Orang Batak sebenarnya tidak seram,” ujarnya dengan nada mantap.

“Kalau saja kita mau membiasakan diri untuk sering tersenyum, saya yakin pelayanan kita akan lebih ramah dan para tamu akan merasa lebih diterima.”

Pernyataan itu seolah mematahkan mitos lama yang terlanjur melekat bahwa orang Batak itu keras, seram, dan susah diajak ramah.

Padahal, menurut Ombang Siboro pemilik Pantai Batu Hoda di Samosir dalam Biannual Tourism Forum 2021 lalu, orang Batak sejatinya dikenal terbuka kepada pendatang.

“Jauh sebelum Danau Toba ditetapkan sebagai Destinasi Super Prioritas, leluhur orang Batak sudah punya cara sendiri untuk melayani tamu,” kenangnya.

Bukit Senyum
Bukit Senyum (foto: Damayanti)

Ia bercerita tentang satu kisah penuh makna di sebuah desa Batak pada suatu musim hujan.

Seorang kepala desa, demi menyuguhkan air hangat untuk tamunya yang kebetulan singgah karena kemalaman, rela membakar anak tangga rumah warga untuk dijadikan kayu bakar.

Keesokan harinya, sang kepala desa mengganti anak tangga itu. Tak ada yang marah. Semua dilakukan demi menjaga rasa nyaman bagi tamu.

Begitulah falsafah “marhobas”—melayani—yang mengalir dalam darah Batak sejati.

Namun, mengapa citra ramah dan keras itu begitu sulit hilang? Barangkali karena suara orang Batak yang lantang dan cara berbicara yang tegas sering disalahartikan sebagai amarah.

- Advertisement -

Selain itu, orang Batak tidak pintar berbasa-basi. Tidak juga memiliki sikap tubuh seperti suku Jawa dalam menyambut tamu.

Meskipun demikian, kebanyakan orang Batak, seperti yang diakui Ombang Siboro, justru murah hati, gampang terharu, dan sangat menghargai tamu.

Dalam sebuah acara “Pintar Digital untuk Promosi Event Nasional” pada Mei 2025, Bane Raja Manalu kembali mengingatkan: “Senyum itu penting. Dengan senyum, tamu akan merasa dihargai. Itu bukan soal pencitraan, tapi soal kebiasaan yang harus dibangun.”

TERKAIT  HUT ke-77 TNI, Koramil 17 Balige Bantu Korban Gempa Taput

Benar saja. Senyum adalah bentuk komunikasi nonverbal yang paling universal. Ia menyejukkan, memecah ketegangan, dan mengundang simpati. Lihat saja bagaimana senyum bisa membuat orang asing merasa seperti kawan lama.

Bane paham betul bahwa di dunia pariwisata, keramahtamahan bukanlah basa-basi, melainkan inti dari pelayanan.

Ombang juga menegaskan, “Jangan jadikan tamu hanya sebagai sumber uang. Kita harus membangun DNA melayani, bukan sekadar berdagang.”

Kita tahu, wisatawan datang bukan hanya untuk menikmati pemandangan, tetapi juga untuk menemukan kehangatan manusia.

Dalam sebuah publikasi Kamal Maiya Pradhan seorang praktisi pariwisata internasional pernah menulis bahwa dari semua faktor yang mempengaruhi kesenangan wisatawan, yang paling besar pengaruhnya adalah bagaimana wisatawan itu diperlakukan.

Karena itu, di Danau Toba, keramahtamahan bukan hanya soal senyum—tetapi tentang menata hati.

Pikiran yang positif, sikap tulus, dan kebiasaan melihat kebaikan dalam orang lain akan membuat senyum itu datang dengan sendirinya, bukan sebagai topeng, tapi sebagai cermin dari hati yang tulus.

Tentu, tidak semua orang Batak mudah tersenyum. Seperti tradisi Jepang yang menganggap senyum bukan bagian dari kesopanan, beberapa orang Batak barangkali tumbuh dengan kebiasaan diam dan menahan ekspresi. Tapi budaya bisa berubah.

Sebagaimana dikatakan Bane Raja Manalu, “Kita harus mulai dengan diri sendiri. Jika kita tersenyum, orang lain akan merasa nyaman dan akhirnya membalas senyum kita.”

Senyum yang tulus bagaikan cahaya di tengah kabut. Ia membuat perjalanan lebih hangat, menghapus prasangka, dan menebarkan harapan bagi masa depan pariwisata Danau Toba.

Maka, para pelaku wisata di Danau Toba pun kini belajar menerapkan 3S—Senyum, Sapa, Salam—untuk memastikan tamu yang datang pergi dengan kenangan indah.

Jika semua orang Batak di sektor pariwisata mau belajar tersenyum, maka Danau Toba tak hanya akan dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga keramahan manusianya. Karena senyum bukan sekadar lekuk di wajah, melainkan jendela hati yang menyapa dunia.

Penulis/Editor: Damayanti Sinaga

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU