spot_img

Seni Budaya Tradisional Pakpak (II)

DAIRIOning oningen atau nada dihasilkan dari berbagai alat musik tradisional Pakpak yang terdiri beragam jenis. Masyarakat adat Pakpak mengenal dan membuat alat musik sendiri. Berikut ini adalah berbagai jenis alat musik tradisional Pakpak.

  1. Alat musik pukul, oning oningen berupa alat musik sipaluen (alat musik tabuh\pukul) antara lain gndrrang, kalondang. kettuk, gung, gerantung, D,ng D.ng
  2. Alat musik tiup (si sempulen ), antara lain lobat, sarune, sordam, genggong, taratoa, saga saga, cipako, pit, budh
  3. Alat musik petik /sigerriten antara lain  kecapi dan genggong, Piol (alat musik gesek)

Alat musik tradisional Pakpak ini memiliki sejarah dan filosofi tersendiri. Disebutkan, pada jaman dahulu, masyarakat Pakpak yang tinggal di daerah pegunungan dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka mengumpulkan hasil-hasil hutan, seperti getah kemenyan, damar, rotan dan lain lain. Saat berada di hutan, di sela-sela istirahat, mereka memukul-mukul batang kayu, sehingga terdengarlah suara atau nada yang bunyinya nyaring dan berbeda.

Hal itu dilakukan berulang-ulang setiap kali pergi ke hutan, sehingga pada akhirnya mereka pun menentukan suatu komposisi suara atau nada seperti; suara gumuruhguh, suara gumerendeng, suara simenak menak. suara ndahdah, suara gumerencing, suara penabil dan suara peniltili.

“Setelah suara atau nada dari batang kayu dikombinasikan, maka seiring waktu, mereka pun membuat gendang sebanyak sembilan (sibah) yang terbuat dari kayu, kulit hewan, rotan, dan bambu sebagai pakunya yang di sebut dengan gndrrang,” kata Tamsir Padang, Pimpinan Sangar Kasea di Dairi,

Gndrrang Sibah yang dimainkan 5 orang penabuh, namanya disesuaikan dengan sejarah pembentukan nama  kerajaan di Pakpak. Gdrarang itu bernama Siraja Gumuruguh, Siraja Pengampu, Siraja Gmerendeng, Siraja Kumerincing, dan  Siraja Menak menak.

TERKAIT  Rumah Tradisional Batak Toba

Gndrrang Sibah ini jika dimainkan dengan pukulan /suara gndrrang anak raja, atau merkata jujur sipitu, maka akan membutuhkan penabuh sebanyak 5 orang. Masing-masing penabuh menduduki posisi: Mangindung ngindungi, Menjujuri, Menduai/memitui, mennabil, mennondat, dan meniltili.

“Dari lima penabuh gndrrang, masing-masing  memiliki tujuh macam nada yang berbeda-beda, seperti Mangindung ngindungi, Manjunjuri, Menduai, Menabil, Mennondat, Meniltili,” sebutnya.

Sedangkan untuk alat pendukung  kelengkapan Gndrrang Sibah Sada Rbaan yang lengkap, merupakan perpaduan  dari gndrrang  sembilan unit, gung empat unit ditambah cilat cilat satu pasang.

Masing-masing gung juga memiliki nama dan jenis:

  1. Pongpong bahannya terbuat dari besi kuningan
  2. Puldep alat ini lebih besar dari pada Pongpong dan bahannya terbuat dari kuningan
  3. Poing bentuknya lebih kecil dari Puldep dan lebih besar dari  Pongpong bahannya juga terbuat dari  kuningan
  4. Gong/gung alat musik ini lebih besar dari ketiga gung tadi, bahannya terbuat dari kuningan
  5. Cilat cilat alat ini berbeda dengan empat gung tadi dan bentuknya lebi kecil, alat ini harus dua pasang.

Dalam acara seni budaya Pakpak, baik itu acara kerajaan, sukut ni talun (Pemegang hak ulayat), atau acara masyarakat umum, musik gndrrang Pakpak sada rebaan harus diawali dengan acara ritual pemukulan gendrrang jujur sipitu atau memubuh untuk mersentabi dan memberi hormat kepada beraspati tanoh, tunggung nikuta, sinang naga lae, sembahen ladang, sumangan si nggo perlebbe, guru Pakpak sipitu dan debata kase kase.

“Demikian juga ketika mengakhiri seluruh rangkaian acara,  sebaiknya juga harus ditutup dengan pemukulan gndrrang  jujur sipitu,” ujar Tamsir.

 

Penulis    :  Fajar
Editor       : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU