spot_img

Semenanjung Parapat, Tikar dan Bung Karno

PARAPATKota Parapat termasuk salah satu kota legendaris, khususnya di kawasan Danau Toba. Jauh sebelum beberapa destinasi wisata di Danau Toba berkembang pesat seperti sekarang ini, Parapat pernah seolah, mewakili keindahan Danau Toba. Belum sah berkisah tentang Danau Toba sebelum singgah di Kota Parapat.

Kota dengan bagiannya ada berbentuk semenanjung ini, dikenal memiliki pantai dengan ciri khas ditumbuhi banyak pohon waru yang rindang. Potensi ini menjadi peluang bisnis yang dimanfaatkan warga kota turis itu. Modalnya hanya tikar.

Tikar-tikar dari plastik akan terlihat terbentang begitu traveler sampai di bibir pantai. Merasa tikar itu bagian dari fasilitas yang bebas digunakan, tak jarang traveler langsung duduk dan rebahan sambil menikmati panorama Danau Toba. Sayangnya, tikar itu tidak gratis.

Memang tidak ada yang melarang saat tikar itu langsung diduduki atau menjadi tempat rebahan bagi traveler. Persyaratannya datang menyusul, ketika traveler hendak beranjak meninggalkan tikar. Tiba-tiba datanglah seseorang yang mengaku pemilik tikar itu, meminta sejumlah biaya sewa tikar.

Biasanya, harga sudah ditentukan pemilik tikar tanpa ada kesempatan traveler untuk menawar. Namun saat ini, kisah itu tidak lagi terjadi karena persoalan tikar itu pernah menjadi sorotan negatif berwisata di pantai-pantai Parapat.

Ketika Pesta Danau Toba (PDT) digelar setiap tahun, dan Kota Parapat masih dominan yang menjadi tuan rumah, tikar kembali punya peranan penting. Bukan terlibat dalam mengisi kegiatan PDT, tapi sebagai satu-satunya pilihan saat hotel dan homestay kala itu sudah penuh. Atau memang sudah berencana menjadikan tikar sebagai pilihan utama, selama PDT.

Kala itu, acara puncak PDT biasanya selalu dimeriahkan oleh artis-artis ibu kota dan pelaksanaanya jatuh pada hari Sabtu hingga Minggu Subuh. Ketika para traveler dari luar daerah tidak kebagian kamar hotel ataupun homestay, pilihan satu-satunya adalah menyewa tikar yang ada disepanjang pantai maupun daerah sekitaran pagoda, dan tidur beratapkan langit Kota Parapat.

TERKAIT  Panoguan Solu, Kepingan Surga dari Humbang

Entah kebetulan atau tidak, biasanya sangat jarang turun hujan selama perhelatan PDT, sehingga tidur beratapkan langit tidak menjadi soal. Kala itu, penyewa jasa tikar akan dengan senang hati menunjukkan lokasi-lokasi yang nyaman di daerah Semenanjung Parapat untuk menghabiskan malam di pantai dengan beralaskan tikar.

Bagi yang pernah merasakan sensasi melewatkan malam di pantai Parapat, hanya beralaskan tikar beratap langit, maka usianya bisa dijamin tidak lagi muda.

Semenanjung parapat 2
Semenanjung Parapat dengan menara mercusuar berornamen ukiran Garuda Pancasila.(foto:asmon)

Selain wisata pantainya, di Semenanjung Kota Parapat ada juga destinasi wisata sejarah. Di sini ada bangunan yang menjadi saksi masa pengasingan Presiden RI Soekarno. Bangunan bergaya Eropa tempat pengasingan Bung Karno ini, masih berdiri megah dan sekarang menjadi objek wisata yang selalu ramai dikunjungi.

Rumah pengasingan yang sekarag dikenal dengan nama Pesanggrahan Soekarno kerap ramai pengunjung di pagi hari menunggu momen sunrise dan sore hari untuk menunggu sunset. Sekitaran pesanggarahan ini, menjadi latar yang baik untuk foto yang instagramable.

Selain beberapa pantai yang belakangan cukup hits di Kota Parapat, ada baiknya jika bro dan sista juga meluangkan waktu untuk menjelajah semenanjung Parapat ini.

Cukup dengan membayar Rp4.000 jasa angkutan umum dari pusat Kota Parapat, anda sudah tiba di daerah Semenanjung Parapat. Dari titik perhentian di sekitar Open Stage, selanjutnya menjelajah dengan berjalan kaki. Aneka kuliner maupun souvenir tersedia di sepanjang jalan dari Open Stage hingga ke Pesanggrahan Bung Karno.

 

Penulis   : Asmon Pardede
Editor       : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU