spot_img

Sejarah Ziarah Orang Batak (2)

NINNA.ID – Seorang teman memberi respon pada WA: saya tak percaya apa yang kamu tulis bahwa kita bisa memanggil roh leluhur. Begitu ia memberi respon. Tapi, itu dulu. Sebelum ia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Katanya, ternyata ia pun pernah menyaksikan apa yang saya lihat sendiri.

Ceritanya hampir sama persis dengan yang saya alami. Jadi begini. Ada acara keluarga. Kata dia, harus acara keluarga. Artinya, tak boleh iseng. Misalnya, karena aku rindu, maka kucoba. Tak sesimpel itu. Kalau dilogikakan, sudahlah ia harus melewati banyak rintangan, masakan ia hanya bertemu satu orang dan untuk iseng?

Karena itu, acaranya harus untuk keluarga. Dan, persis seperti yang juga saya alami, roh itu tak datang pada sembarang orang. Ada konon banyak syaratnya. Tak bisa makan babi. Itu pengakuannya. Saya tak tahu itu benar. Sebab, yang saya lihat sendiri, orang yang dimasuki makan babi. Tapi, dua kali pengalaman saya, yang dimasuki adalah orang yang sama.

Setelah itu, dia mulai berkata-kata. Memanggil kami satu per satu. Memberi nasihat. Boleh dikatakan, tak ada nasihat buruk. Apakah ini iblis yang menyamar? Bahasa-bahasa dalam buku rohani yang saya baca, ya, katanya itu adalah iblis yang menyamar. Bahkan, ada buku seorang yang bertobat. Dulunya ia seorang dukun hebat.

Kini, ia menjadi pendeta. Saya pikir, Anda sudah tahu siapa maksud saya. Kalau belum, biar saya kasih tahu inisialnya: DT. Intinya, bahasa-bahasa seperti itu adalah bahasa penyamaran iblis. Saya pikir, boleh jadi sih. Apalagi iblis pandai bersiasat. Namun, kalau dalam lajur berpikir yang sama, bahasa roh juga bisa masuk kategori penyamaran iblis bukan?

Cara berpikir saya sederhana. Bahasa apa yang mereka ucapkan? Kita tak mengerti. Ia seperti mendesis dan mendesah. Saya pernah ikut saudara ke gerejanya. Dalam ukuran saya, ia orang nakal dan bandal. Sering dimarahi orang tuanya karena melawan. Pacaran sana sini. Banyak menipu. Akhirnya, kami gereja bersama.

Saya ikut dengan hikmat. Hingga sampai pada doa bersama. Saya yang semula tenang dan hikmat, orang-orang lain mulai berteriak. Ada yang meracau. Dan, saudara saya itu ikut. Saya akhirnya buka mata. Saya perhatikan saudara saya itu. Mungkin kini ia akan bertobat, pikirku. Sebab, roh Tuhan sudah menyentuhnya.

TERKAIT  Mengapa Disebut Danau Toba, bukan Danau Simalungun?

Sepulang dari gereja, saya mulai bicara lebih dewasa padanya. Sebab, kupikir, ia sudah disentuh Sang Khalik. Tapi, ia tetap menjadi orang yang lama yang kukenal. Sampai-sampai saya bertanya dalam hati: lalu, siapakah yang dari tadi membuatnya meracau, menitikkan air mata, lalu sampai mengempas-empaskan tubuhnya?

Dari situ saya seperti berpikir, berarti ia dirasuki iblis yang menyamar. Tapi, apakah iblis menyamar hingga ke ritus gereja? Bukan urusan saya untuk menilainya. Namun, bagi saya, jika setiap bahasa roh masuk dalam tubuh tapi tak berubah dan berbuah, bagi saya itu bagian dari penyamaran iblis. Itu bagi saya.

Dan, kembali kita ke cerita awal: leluhur mendatangi kami melalui satu orang dalam sebuah acara keluarga. Ia kemudian berkata-kata dengan hikmat. Memberi nasihat agar tetap menghormati leluhur. Kami diminta untuk berziarah. Saya kemudian membuat sebuah hipotesis: berarti dari sana mulanya kita berziarah.

Benar, ini tak logis. Masakan seorang yang sudah meninggal bisa berkata-kata? Namun, mari kembali ke kepercayaan gereja. Secara daging, Yesus sudah mati. Ia wafat. Lalu, ia akhirnya bangkit. Setelah bangkit, Ia pun memberi banyak petuah. Yesus membawa misi yang sama: agar manusia bisa bangkit.

Bisa bangkit berarti bisa memberi petuah. Bisa bangkit berarti bisa memberi petunjuk. Artinya, kematian adalah kehidupan yang lain. Mati bukan berarti berhenti. Mati bukan finish. Sebab, setelah mati, ia punya energi yang baru.

Dalam bahasa fisika, energi itu kini berubah bentuk. Manusia adalah energi. Dan, kata Albert Einstein, energi itu kekal.

Artinya, manusia kekal. Kematiannya akan mengantarnya pada energi yang baru. Sebagai energi yang baru, maka butuh dimensi baru untuk bisa berkomunikasi. Mungkin harus butuh ritus. Mungkin, ia bisa bicara dengan simbol. Persis seperti divisualisasikan dalam film Interstellar. Pada film itu, hidup dibuat 5 dimensi.

Dari sana saya tahu, leluhur yang bicara berarti ia menemukan satu dimensi yang sama dengan kita. Untuk selanjutnya, saya akan menceritakan beberapa pengalaman dan kesaksian bahwa dimensi orang mati secara daging pernah bertemu dengan dimensi orang hidup sehingga lahirlah sebuah peristiwa yang cukup kita bahasakan: kok bisa ya?

 

Penulis  : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor     : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU