spot_img

Sejarah Islam di Tanah Batak (III)

Sejarah Islam Terlihat dari Tarombo Sori Mahumet

NINNA.ID – Kadang kita harus menerima. Meski itu sulit. Salah satunya di antaranya adalah sejarah. Realitas saat ini, Batak sering diasosiasikan sebagai Kristen. Asosiasi yang tak penuh. Sebab, jika kita sepakat Batak adalah mereka yang bermarga dengan paket adat Dalihan Na Tolu, maka lebih banyak Batak yang muslim. Itu faktanya.

Sebab, Batak ke arah pantai cenderung sudah Islam. Di Asahan. Di Mandailing. Angkola. Pakpak. Praktis, Batak yang cenderung mayoritas Kristen hanyalah di Toba. Apakah Batak hanya Toba saja? Saya pikir tidak. Jadi, asosiasi bahwa Batak berarti Kristen boleh dibilang sesat meski ada benarnya juga.

Tapi, begitulah zaman. Asosiasi selalu berdasarkan realitas. Realitas itu, misalnya, bahwa rumah makan Batak sudah pasti menu andalannya adalah babi. Sudah pasti itu. Karena itulah mungkin mengapa Batak diasosiasikan Kristen karena muslim tak memakan babi. Sekali lagi, asosiasi ini tak penuh, apalagi benar dan jadi kebenaran.

Sebab, jika kita percaya agama asli Batak adalah Parmalim, sudah pasti mereka tak memakan daging babi.

Lalu, apakah Parmalim mendadak jadi tak Batak hanya karena menu andalan rumah makan Batak adalah babi, sementara Parmalim tak makan babi? Semoga kalian paham maksud saya dan tidak keliru mengartikannya.

Sebab, di tulisan-tulisan saya sebelumnya, ada banyak yang keliru paham. Tepatnya sih bukan keliru paham. Tapi, tak membaca tuntas. Saya menulis bahwa banyak juga Islam-Batak yang tulen pada adatnya dan bukan dalle, mereka justru berpikir bahwa saya mengatakan bahwa Islam-Batak adalah dalle. Padahal, bukan itu poin saya.

Tapi, tak apa-apa. Literasi kita memang masih rendah. Akibatnya, tulisan serius jika diberi kata-kata serius maka tak akan dibaca. Ia hanya akan dibaca jika bumbu “provokatifnya” ada. Karena itulah saya sering menulis dengan seperti bernada “provokasi” dengan tujuan akhir “edukasi”. Itu niat saya. Itu tujuan saya.

Edukasi itu, misalnya, bahwa ternyata kebanyakan Batak-Islam bukan dalle. Malah ada banyak yang lebih dallean Batak-Kristen karena sampai membakar ulos, menghina ritual, mencemooh tempat sakral. Sayang, karena tak tuntas membaca, esai saya dibaca dapatnya hanya provokasi, edukasinya tidak sama sekali. Akhirnya, ya, begitulah.

Baiklah, kita ke poin ini: Batak Toba dulunya juga sudah bersentuhan dengan Islam. Sudah lama sekali. Jejaknya bisa dilihat dari Barus. Hanya memang, ada kecenderungan Islamisasi di Toba tidak mulus seperti di Batak yang lain. Setidaknya, dalam bukunya, J. H. Hemmers mengatakan bahwa Nommensen punya tantangan kuat.

TERKAIT  Jualan Online Bersama JNE

Tantangan itu bahwa tidak hanya di Barus, tetapi juga di jantung Toba. Pada tahun 1862 Pendeta Dr.I.L.Nommensen tiba dari Jerman di Sipirok mula-mula ditempatkan di Parau Sorat. Kemudian pada tahun 1864, ia pindah ke Tarutung dan membuka Huta Dame dan seterusnya menyebarkan Injil di Tapanuli Utara. Di sana, ia mencoba menghentikan Islamisasi.

Itu artinya, panji-panji Islam di jantung Toba saat itu sudah mulai kuat. Jauh sebelum itu, pada tahun 1500-an, muhammadisme malah sudah mulai maju di jantung Toba, di Danau Toba. Cuma, ya, memang belum mengakar. Belum kokoh. Walau begitu, jejak kebudayaannya bisa dilihat. Paling tidak, dalam sebuah silsilah, ada yang begini.

Tersebutlan Manuk Hulambujati. Ia punya tiga anak. Batara Guru. Soripada. Dan, Mangala Bulan. Batara Guru mempunyai empat anak. Tuan Sori Mahumet. Tantan Debata. Siboru Sorbajati. Siboru Deak Parujar. Perhatikan nama itu, terutama yang pertama. Penamaan yang pertama ini tak bisa dimungkiri adalah pengaruh budaya luar, yaitu Hindu-Budha (Sori) dan sangat mungkin Islam (mahumet).

Mahumet bisa jadi adalah versi dekat dengan Muhammad. Kebetulan, saya pernah membaca salah satu postingan admin media sosial Sejarah Batak, Karles Hasiholan Sinaga. Dalam postingan itu, ia merujuk pada Dr.B.Hagen dengan salah satu kalimatnya memang mengandung nama Muhammad. Muhammad bahkan diposisikan sangat agung sebagai bukan makhluk biasa.

Mengutip terjemahan Karles Hasiholan Sinaga dalam postingan itu, demikian kurang lebih kalimat utuhnya: ada juga dewa yang tinggal di surga, Nabi Muhammad, bapak dan hakim manusia, dan Padi Allah, bapak badai dan hujan. Dua dewa terakhir memiliki asal usul Islam. Mereka cukup jelas tertulis di dahi mereka dan penyembahan mereka bahkan di jantung Toba di danau dengan nama yang sama membuktikan kemajuan tak tertahankan dari Muhammadisme,…

Menariknya, dari tiga bersaudara sebagai keturunan Manuk Hulambujati, hanya Batara Guru yang bisa menikmati daging babi. Sementara Soripada dan Mangalabulan tidak bisa. Apakah sejak dari kedua ini (tentu dari versi tarombo itu) Batak mulai dipengaruhi Islam dan salah satu anak Bataraguru, yaitu Sori Mahumet, juga sudah dipengaruhi? Tafsir luas masih bisa diterka. Tapi, satu yang pasti, Toba juga sudah dipengaruhi Islam.

 

Penulis  : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor     : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU