spot_img

Sejarah Islam di Tanah Batak: Bisa Menerima Daging Babi (II)

NINNA.ID – Invasi tentara Paderi ke tanah Batak diyakini sebagai cikal bakal tersebarnya Islam secara meluas. Tidak tanggung-tanggung memang, sekitar lima ribu pasukan berkuda tentara Paderi masuk ke Mandailing, yang merupakan daerah perbatasan Sumatera Utara (Sumut) dengan dengan Sumatera Barat.

Tuanku Rao yang bernama Fakih Muhammad diberi kepercayaan memimpin pasukan ini dengan mengenakan jubah putih dengan serban di kepala, khas Tuanku Imam Bonjol. Mereka masuk melalui Muara Sipongi dan menaklukkan Panyabungan dan terus bergerak ke utara.

Proses penyebaran Islam ini tidak begitu sulit karena sebagian orang Mandailing dan Angkola (sekarang Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Tapanuli Selatan, Padanglawas dan Kota Padangsidimpuan) ternyata sudah ada yang memeluk Islam. Karena itu, usai menaklukkan Mandailing, pasukan Paderi bergerak lagi ke utara.

Mereka berencana menaklukkan tanah Batak yang saat itu masih menganut keyakinan animisme. Di Sipirok, daerah perbatasan Tapanuli Selatan dan Tapanuli Utara menjadi tempat menyusun strategi dan menambah kekuatan pasukan. Tuanku Rao merekrut ribuan penduduk setempat yang sudah diislamkan.

Pasar Sipirok sekarang merupakan tempat latihan infantri dan kavaleri, pasukan berkuda. Setelah jumlah pasukan dirasa cukup dan strategi telah matang, Tuanku Rao melanjutkan invasi ke pusat kerajaan Batak yang dipimpin Sisingamangaraja X bernama Ompu Tuan Nabolon, kala itu menganut agama Parmalim dan animisme.

Pasukan Paderi bergerak melewati Silantom, Pangaribuan, Silindung dan terus ke Butar dan Humbang yang merupakan daerah pusat kekuasaan Sisingamangaraja X. Di Desa Butar pasukan Paderi bertemu dengan pasukan Sisingamangaraja X. Dalam pertempuran itu, Sisingamangaraja X tewas.

Menurut Ompu Buntilan alias Batara Sangti dalam bukunya Sejarah Batak, Sisingamangaraja X yang lahir tahun 1785, meninggal dunia pada 1819 dalam usia 34 tahun. Waktu dia baru berkuasa sebagai raja selama empat tahun saja. Perlawanan memang dilakukan rakyat Batak, tetapi pasukan Paderi sangat kuat.

TERKAIT  Sipinsur Makin Indah, Datanglah!

Penyerangan itu mengakibatkan tanah Batak banjir darah dan mayat tergeletak dimana-mana hingga jumlahnya mencapai seratusan ribu lebih. Perang ini mengakibatkan munculnya dampak buruk, penyakit kolera yang bersumber dari gelimpangan mayat-mayat.

Kala itu tidak ada obat penyembuh. Setiap orang yang terjangkit, paling lama dalam dua atau tiga hari akhirnya meninggal dunia. Wabah kolera itu menjadi alasan keluarnya pasukan Paderi dari pusat kerajaan Batak. Mereka kembali ke Minangkabau untuk menghadapi Belanda yang mulai menduduki Sumatera Barat.

Dalam sebuah pertempuran di Air Bangis, Pasaman, Sumatera Barat, pada Januari 1833, Tuanku Rao akhirnya meninggal dunia.

Sampai sekarang, Orang Batak lebih bersaudara sebagai “suku” daripada sebagai “agama”.

Di Onanrunggu, Samosir, misalnya, kata seorang teman, muslim dan nasrani sangat dekat. “Sangat dekat dan saling mengunjungi jika ada pesta, bahkan menerima parjambaran meski haram karena ia hanya menerima, bukan mengonsumsi,” demikian katanya.

Saya jadi teringat pada kisah Bang Thompson Hs perihal Sisingamangaraja yang bisa menyediakan daging babi meski tak bisa memakannya. Ia hanya menyediakan, bukan memakan.

Semoga kisah ini menerangkan pikiran kita, bahwa jika ada jalur perang, selalu ada jalur hikmah dan damai yang bisa dipegang dan direnungkan, seperti kisah Panglima Raja Sidabutar atau kisah penghormatan Raja Sisingamangaraja pada umat muslim dari Aceh di Hutapaung, Humbang.

 

Penulis   : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor      : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU