spot_img

Sarkofagus Raja Ijulu, Makam Orang Sakti Bernilai Sejarah

HUMBAHAS – Jika di Tomok terdapat makam Raja Sidabutar dan di Lumban Raja terdapat persinggahan Sisimangaraja XI, maka di Tipang terdapat makam atau sarkofagus Raja Ijulu. Makam ini terdapat di Huta Banjar Ganjang, Tipang Dolok.

Makam batu ini merupakan salah satu dari banyak peninggalan leluhur yang bertaburan di Desa Tipang. Karena memiliki nilai sejarah yang tinggi bagi masyarakat setempat, batu-batu ini masih dijaga hingga sekarang.

Sarkofagus atau makam batu, dipilih dari jenis batu tertentu yang berbahan keras, supaya tahan lama sebagai “rumah” bagi orang-orang tertentu yang dipertuakan pada jamannya. Bagi orang Batak, mengistirahatkan seseorang di makam batu merupakan sebuah wujud penghormatan tersendiri yang biasanya ditujukan pada raja-raja atau seseorang yang memiliki kesaktian tertentu.

Begitu juga dengan sarkofagus Raja Ijulu. Dalam penuturan para tetua, Raja Ijulu berasal dari marga Manalu. Ia merupakan sosok yang memiliki kaitan erat dengan sejarah berdirinya Desa Tipang.

Penampakan makam batu ini tidak jauh berbeda dari makam batu lainnya yang menyebar di daerah Batak. Memiliki kepala, tanduk, dan patung manusia. Memiliki penutup dari batu serta nyaris menyerupai bentuk persegi panjang. Yang membedakannya hanya motif ukiran tanduk dan patung manusia yang tidak begitu proporsional karena berfungsi hanya sebagai simbol.

Keunikan tersebut menjadikan setiap makam batu otentik. Meskipun pada saat ini, beberapa warga sempat mewarnai makam batu tersebut dengan pewarna sintetis yang justru berakibat fatal terhadap eksistensi

TERKAIT  Peletakan Batu Ojahan (Batu Pertama)

Raja Ijulu merupakan anak dari Raja Niatas Barita dan diperkirakan hidup pada generasi awal peradaban di Tipang. Bisa bayangkan berapa usia makam batu ini jika usia rata-rata generasi marga di Tipang sudah generasi ke-18.

Informasi ini tertulis dalam buku sejarah Tipang yang ditulis oleh salah seorang intelektual Tipang, alm Dr Mangisi Manalu beberapa dekade yang lalu. Berdasarkan penuturan seorang keturunan Raja Ijulu, makam batu ini berisi tulang belulang serta barang-barang pribadi yang dimasukkan bersamaan dengan jasad Raja Ijulu. Setelah sekian lama, tulang-belulang tersebut menguap dan keropos, kini tinggal makam batu serta penutupnya.

Saat ini, seiring perkembangan Desa Tipang sebagai desa wisata, sarkofagus Raja Ijulu telah dikenal sebagai obyek wisata dan obyek penelitian yang sering dikunjungi, baik untuk memperoleh data arkeologis maupun untuk sekedar berjiarah.

Jika bro dan sista ninnA.id ingin mengetahui sejarah turun-temurun tentang Raja Ijulu, bisa menghubungi keturunan Raja Ijulu itu,  yang secara bergantian memelihara makam batu tersebut.

Mereka berdomisili dekat dengan makam batu Raja Ijulu. Untuk mengunjungi obyek wisata sejarah ini, bro dan sista dapat menempuhnya sekitar 1,5 jam dari Bandara Silangit atau sekitar 1 jam kalau dari Dolok Sanggul.

 

Penulis   : Gomgom Sihombing
Editor       : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU