spot_img

Sarkofagus dan Benteng-benteng Teguh di Desa Tipang

NINNA.ID – HUMBAHAS

Masih pagi. Matahari seperti beristirahat. Ia beri kesempatan bagi awan untuk bermain-main dengan titik-titik air. Tetapi, awan cukup malas. Titik air yang ia turunkan tidak cukup mengganggu. Jarak pandang pun cukup jauh. Hanya desiran angin yang kadang mengantarkan dingin.

Kami berangkat. Kali ini, kami menuju Desa Tipang. Kami sampai ke perbatasan. Di sana terlihat bentuk keseriusan pemerintah untuk membangun desa wisata. Ada dua gubuk di sana. Ada juga dua buah patung ikan. Ada sebuah patung kerbau.

Imajinasi pembuat patung itu luar biasa. Ukuran ikan dan kerbau relatif sama. Apakah pada dulunya ukuran ikan dan anak kerbau sama? Saya katakan anak kerbau karena patung itu sudah tak bertanduk. Seseorang sepertinya mematahkannya. Jadi, daripada enak dipandang, patung ikan yang jatuh dan patung kerbau dengan tanduk yang patah itu justru cukup menggangu.

Di sekeliling, tampak tulisan yang sepertinya tujuannya adalah tempat berfoto sudah kebanyakan rusak. Ada beberapa huruf yang hilang. “Jangan nampak tulisan yang hilang ini, ya!” kata seseorang yang ingin mengambil foto. Ia terlihat begitu menghindarinya.

Di pandangan ke arah Sibandang, ada sebuah gunung tinggi. Beberapa tiang listrik mulai didirikan. Jalan setapak pun dirintis. Saya melihat, gunung yang menjulang itu punya potensi untuk dikembangkan. Sibayak dipanjat, laris. Gaja Bobo juga laris. Saya pikir, gunung yang menjulang ini pun punya potensi yang sama.

Namun, setelah melihat rintisan jalan itu, saya memandangnya bukan untuk jalan bersenang-senang. Tanjakannya terlalu ekstrem. Itu seperti jalan dari Desa Marbun menuju Parsingguran. Jalan yang dibuka di sana terlalu ekstrem sehingga akhirnya tak banyak dilalui. Jalan itu lebih pada siksaan daripada keasyikan.

Padahal, pengunjung datang untuk asyik. Seharusnya, rintisan jalan itu dibuat seasyik mungkin. Bentuknya bisa mengelilingi bukit sehingga 360 derajat sekitar danau bisa dilihat dan jalan pun tak terlalu menukik. Untuk apa jalan dibuat menukik? Tujuan kita untuk cepat sampai ke puncak atau untuk menikmati perjalanan?

Saya tiba-tiba mengimajinasikan. Ada sepasang berboncengan. Si Pria fokus membawa kereta. Si Wanita bercanda. Karena si pria fokus untuk menanjak jalan yang menukik, ia marah dan berkata, “Jangan bicara, aku lagi fokus!” Si wanita merajuk. Akhirnya, karena pendakian yang menanjak itu, mereka pun berpisah. Mereka enggan datang kembali ke gunung itu. Gunung itu menjadi cerita sedih.

TERKAIT  Stone Balancing Wisata Baru di Kaldera Toba

Saya belum sampai pada membayangkan bagaimana jika mobil juga turut dibawa? Wah, ngeri. Karena itu, pola pembangunan daerah destinasi semestinya lebih pada keasyikan daripada siksaan. Kita tidak untuk mau cepat sampai ke puncak. Kita ingin menikmati, bila perlu, sampai sudut 360 derajat.

Hari sudah menjelang siang. Kami pergi menelusuri Desa Tipang. Budaya bebatuan masih terlihat berseni dan kokoh setelah puluhan tahun, bahkan mungkin ratusan tahun. Menjadi berbeda dengan budaya semen yang di perbatasan Janji dan Tipang tadi. Baru saja dibangun, kekokohannya sudah mulai diragukan.

Di Desa Banjartonga, kami masuk dari gerbang, dari bahal bebatuan. Di atas bebatuan itu, yang ditumpuk beraturan tanpa pengikat apa pun, tumbuh bambu dengan ribunnya. Mengapa batu itu tak runtuh? Ternyata, kecerdasan mereka berhitung sudah praktis daripada kita yang cenderung teoritis. Mengapa kita, utamanya pemerintah kita, tak belajar membangun dari mereka?

Di Banjar Tonga di Desa Tipang, batu-batu disusun berpola. Semuanya menjadi pemandangan yang menarik. Warga setempat juga sudah dengan tangan terbuka menyambut. Nyaris di semua tempat ada rumah singgah (home stay).

sarkofagus
Salah satu sarkofagus di Desa Tipang, Kecamatan Bakti Raja Kabupaten Humbahas.(Foto:riduan)

Ada banyak mau digali dan dikembangkan di Banjartonga. Potensi wisata budayanya cukup menarik. Konon lagi kalau cerita di balik benda-benda itu ditelusuri. Seperti kita tahu, sebuah batu tak hanya sekadar patung. Ada kisah di baliknya. Desa Tipang memang banyak potensi. Di Sosor Julu, mirip dengan di Banjartonga, Sarkofagus juga ditemukan. Konon, di Tipang ada 4 buah.

Tapi, yang menarik bagi saya adalah keteguhan benteng benteng tanpa perekat itu. Mengapa, ya, benteng itu kukuh hanya modal disusun rapi, sementara bangunan di perbatasan itu sudah mulai kelihatan rapuhnya? Saya mau bilang begini, masa lalu ternyata menarik untuk dipelajari dan dicontoh.

 

 

 

Penulis : Riduan Situmorang
Editor   : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU