spot_img

Sanggar Dalloid Tipang, Pelestari Seni Tradisional Batak

NINNA.ID – HUMBAHAS

Sanggar Seni Dalloid telah mengharumkan nama Desa Wisata Tipang karena visi, personil, hingga instrumen musik yang digunakan, semuanya memiliki keunikan-keunikan yang menarik bagi para wisatawan. Pembuat konten, bahkan para seniman dari luar Tipang datang mengunjungi Desa Tipang.

Pembina Sanggar Dalloid, Martunas Siburian menyadari semakin sedikit generasi muda yang mampu memainkan musik tradisional Batak Toba. Padahal, musik tradisional merupakan salah satu identitas generasi muda di tengah kemajuan jaman dan percampuran budaya. Tidak terasa, semakin banyak generasi muda yang berpikir dan berperilaku mengikuti budaya luar, meninggalkan budayanya sendiri.

Lahirnya Sanggar Seni Dalloid

Sebelum kehadiran Dalloid, di Desa Tipang terdapat alat-alat musik tradisional yang sudah mulai usang karena jarang dipergunakan. Penyebabnya, semakin sedikit orang yang mengetahui cara memainkannya. Acara-acara adat di Desa Tipang juga selalu mendatangkan pemusik dari luar Tipang.

Melihat kondisi itu, hati Martunas tersentuh untuk melakukan sesuatu yang berdampak terhadap eksistensi musik tradisional Batak di Tipang. Ia ingin anak-anak muda Tipang mencintai tradisi Batak dengan memainkan alat musik tradisional.

Untuk mewujudkan harapan tersebut, dibutuhkan suatu cara yang mampu menarik perhatian generasi muda. Suatu cara kreatif yang memadukan musik tradisional dengan semangat modern, sekaligus juga sebagai ajang menyalurkan eksistensial generasi muda di media sosial.

“Lagi pula, instrumen musik Batak tidak begitu sulit dipelajari. Apalagi di Tipang, banyak anak-anak muda yang masih energik,” tutur Martunas.

Logo Sanggar Dalloid

Nama “Dalloid” itu sendiri terinspirasi dari telur suatu serangga yang berdiam di buku-buku semak bernama Sanggar. Rasanya yang manis, membuat anak-anak penggembala kerbau (parmahan) dan pencari kayu bakar (parsoban) rebutan mengambilnya.

Sanggar
Logo Sanggar Dalloid

Rasanya yang manis dan disukai anak-anak, menjadikan Dalloid terkesan unik hingga akhirnya dijadikan sebagai filosofi sanggar.

Dengan filosofi “Biar kecil tapi berdampak, berkarya dalam diam”, Martunas merintis sebuah sanggar seni.

Di awal-awal perintisan, banyak tantangan yang menguji komitmen Dalloid. Mulai dari masyarakat yang masih skeptis hingga anak-anak yang sekedar belajar tanpa disertai perubahan perilaku ke arah positif.

Namun dengan tekad yang kuat, konsisten serta menjalin relasi, waktu membuktikan bahwa sanggarnya perlahan-lahan dapat mewujudkan visinya.

TERKAIT  Ritual Gondang Mandudu (II)

Sanggar Dalloid telah berkomitmen untuk menjalin kolaborasi dengan seniman maupun komunitas yang bergerak di minat yang sama. Adapun musisi berbakat yang telah menjalin kemitraan sejak awal-awal berdirinya Dalloid, bernama Dapot Simatupang.

Selain mengasah mental anak-anak (SD dan SMP) yang ikut berlatih, anak-anak juga diajarkan makna pentingnya persiapan dalam suatu kegiatan.

Kehadiran sanggar ini akhirnya semakin dicintai. Generasi muda di sana bisa berlatih dan sangat beruntung karena hobbynya menari bisa tersalurkan tanpa harus pergi jauh dari Tipang.

Tiga Keunikan Sanggar Dalloid

Berdasarkan kisah perjalanan Sanggar Seni Dalloid dan pengakuan masyarakat Tipang, setidaknya Dalloid memiliki tiga keunikan.

Pertama, lahirnya berawal dari kegelisahan seorang pemuda “gila” bernama Martunas Siburian untuk “melahirkan” generasi muda pelestari budaya di Desa Tipang dengan memainkan instrumen musik tradisional Batak serta berperan di acara-acara budaya Desa Tipang.

Kedua, Martunas Siburian sebagai pembina Dalloid, bukanlah seorang musisi atau seseorang yang pernah menerima pendidikan seni. Untuk penyesuaian nada, Dalloid melibatkan musisi lain, meski Martunas tidak begitu paham not atau tangga nada, namun tidak patah semangat.

Keunikan ketiga, sanggar seni ini memproduksi alat musik sendiri. Selain membina anak-anak, sanggar juga mampu memproduksi alat musik sendiri, semuanya dipelajari secara otodidak dan dikerjakan sendiri. Adapun instrumen musik tradisional Batak yang ada di Sanggar Dalloid seperti Seruling, Taganing, Ogung, Garantung, Hasapi, Tulila, Sarune.

Dalloid kolaborasi dengan Rumah Karya Indonesia

Selain individu, Sanggar Dalloid telah berkolaborasi dengan Rumah Karya Indonesia dalam proyek kolaborasi bernama Horja, edisi tahun 2020.

Kolaborasi tersebut menampilkan anak-anak binaan beserta para seniman yang bekerja sama dengan komunitas Rumah Karya Indonesia.

Hingga sekarang, Sanggar Dalloid telah aktif di berbagai kegiatan bertema kesenian dan kebudayaan yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun organisasi tertentu.

Sekretariat Sanggar Dalloid saat ini ada di Jalan Sibatu-batu. Dusun II Desa Tipang, Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan. Dapat ditempuh sekitar satu jam dari Dolok Sanggul.

Oh ia, selain menyaksikan penampilan tari dan instrumen musik, mumpung  berkunjung bisa juga memesan alat musik tradisional atau belajar bermain musik tradisional Batak.

Penulis : Gomgom Lumbantoruan

Editor   : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU