spot_img

SWARNO LUMBANGAOL

Sang Penyelamat Ihan Batak dari Lembah Bakara

HUMBAHAS – Land Of The King. Kalimat itu bagi saya sangat tepat untuk menggambarkan Lembah Bakara. Di lembah inilah, dulunya terdapat Kerajaan Sisingamangaraja yang jejak sejarahnya masih sangat bisa dikenali hingga sekarang. Di sini juga ada Bius Sionom Ompu, yang berperan sebagai pembuat kebijakan terkait pranata sosial masyarakat Batak yang tinggal di Land Of The King.

Lembah Bakara memang punya tempat tersendiri di hati setiap orang yang pernah menatapnya. Sekali memijakkan kaki di Bakara, akan timbul pula rindu kembali ke sana. Ini bukan sebatas kiasan, Lembah Bakara memang memikat hati.

Selain sejarah dan alamnya yang memukau, dari Lembah Bakara ada seorang pemuda yang luar biasa, Swarno Lumbangaol. Pemuda ini berinisiatif melestarikan Ihan Batak, ikan endemik Toba.

sang penyelamat ihan 3
Penangkaran yang ditata dengan baik.(foto:Mister O)

Tidak banyak orang yang terjun dalam pelestarian  ikan endemik di kawasan Danau Toba ini. Selain menguras waktu dan tenaga, perlu biaya dan terlebih skill tersendiri untuk melakukannya.

Bagi Swarno, hal itu tidak menjadi penghalang. Meski sudah mengantongi pendidikan tinggi strata-2, tidak membuatnya minder. Malah dia semakin percaya diri, pelestarian ikan ini, bidang yang tepat baginya.

Sejak kembali dari perantauan, Swarno telah berhasil membiakkan sekitar 5000-an Ihan Batak. Ia mengumpulkannya dari berbagai lokasi di sekitar sungai yang ada di Baktiraja. Lokasi penangkaran dibuat persis di samping rumah sehingga mempermudah pengurusan yang intens.

Sang penyelamat ihan 2
Ihan Batak milik Swarno Lumbangaol di kolam penangkaran.(foto:gomgom)

Keseriusannya dalam melestarikan ikan ini, semakin menarik perhatian banyak pihak. Kini dia menjadi orang yang dicari berbagai instansi atau pun perorangan yang ingin mengenal tentang ikan itu. Usahanya kerap dikunjungi sebagai rujukan, untuk belajar dan memahami lebih jauh tentang Ihan Batak.

Ihan Batak, yang menjadi salah satu simbol penting dalam pelaksanaan budaya Batak, menjadi faktor penarik bagi masyarakat Batak. Ikan yang dipercaya mampu membawa Parsaulian (keberuntungan) dan Parhitean (simbol perantara) dalam mewujudkan harapan baik, membuat nama Swarno Lumbangaol cepat melambung.

TERKAIT  Zumbatak , Zumba Ala Pulau Samosir Mulai Menjadi Gaya Hidup

Ikan ini biasanya dihidangkan dalam tradisi Mangupa (mendoakan, menyelamati) seseorang ketika hendak merantau, pulang dari rantau, memenangkan suatu kompetisi sampai ke acara ritual Batak yang sakral.

Ihan Batak disajikan dengan cara diarsik, masakan khas ala Batak yang identik dengan bawang Batak juga. Setelah matang, ikan ditata dengan baik di atas Sapa atau pinggan (piring khusus penyampaian sajian bernilai tinggi).

Si pemberi  akan menyerahkan Ihan pada penerima, dengan posisi tangan menyentuh Sapa dan secara bersamaan menyampaikan Hata Poda (nasihat serta harapan).

Rasa daging ikan ini juga terkenal enak dan khas. Tidak salah para leluhur dahulu memilihnya sebagai penganan kesukaan mereka. Karena itu pula, harga ikan ini terbilang fantastis.

Dengan semua fakta-fakta tersebut, satu ekor Ihan Batak ukuran setengah kilo gram bisa mencapai Rp1,5 juta rupiah.

Swarno Lumbangaol, yang juga seorang pegiat wisata menyadari pelestarian Ihan Batak berarti melestarikan budaya Batak juga. Mari bro dan sista, sebagai masyarakat Batak, jangan biarkan Swarno sendiri. Sebagai bagian dari tradisi Batak, generasi muda Batak seharusnya punya kewajiban yang sama.

Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk ikut melestarikan ikan ini. Tidak harus pula mengikuti jejak langkah Swarno Lumbangaol. Ada beberapa tips bagi bro dan sista untuk berperan melestarikan ikan endemik di kawasan Danau Toba ini:

1. Membaca literasi Ihan Batak, ada banyak di internet.
2. Terlibat dalam tradisi yang melibatkan Ihan Batak, seperti mangupa-upa.
3. Mendukung pelestarian Ihan Batak, secara materi maupun moral.
4. Publikasi melalui tulisan di medsos atau ke media massa.
5. Menjaga kebersihan lingkungan habitat ikan:sungai dan Danau Toba bersih dari sampah platik.

Jika tertarik untuk melihat langsung bagaimana Swarno melestarikan Ihan Batak, bro dan sista bisa menemuinya di Lembah Bakara, 45 menit dari Dolok Sanggul atau 1,5 jam dari Bandara Silangit.

 

Penulis    : Gomgom Lumbantoruan
Editor       : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU