Rusia Akan Berhenti Menyerang Ukraina Jika Rudalnya Habis

NINNA.ID-Rusia akan berhenti menyerang Ukraina jika rudalnya sudah habis, ujar Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy, Minggu 27 November. Ia memperingatkan warga Ukraina kemungkinan adanya serangan brutal ke depannya.

Selama ini Rusia telah meluncurkan pengeboman rudal besar-besaran pada infrastruktur energi Ukraina kira-kira setiap minggu sejak awal Oktober. Setiap serangan memiliki dampak yang lebih besar daripada yang terakhir saat kerusakan terakumulasi dan musim dingin tiba.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengantisipasi adanya serangan dari Rusia. (Foto: Reuters)

Dalam pidato semalam, Zelenskiy mengatakan dia memprediksi akan ada serangan baru minggu ini yang bisa sama buruknya dengan minggu lalu, yang terburuk, yang membuat jutaan orang tidak memiliki pemanas, air, atau listrik.

“Kami memahami bahwa para teroris sedang merencanakan serangan baru. Kami mengetahui fakta ini,” kata Zelenskiy dalam pidato video malamnya pada hari Minggu. “Selama mereka memiliki misil, sayangnya, mereka tidak akan tenang.”

Kyiv menduga serangan itu ditargetkan Rusia untuk menghancurkan infrastruktur Ukraina. Dengan demikian, perusakan tersebut dapat mengganggu kehidupan masyarakat.

Moskow menyangkal adanya niat untuk menyakiti warga sipil. Akan tetapi, pekan lalu mengatakan penderitaan mereka tidak akan berakhir kecuali Ukraina menuruti tuntutan Rusia, tanpa menjelaskannya.

TERKAIT  Jadi Trending di Google, Berikut Spesifikasi Senjata Api Kriss Vector

Zelensky mengatakan, minggu yang akan datang bisa sama sulitnya dengan pekan sebelumnya. Ketika serangan terhadap infrastruktur listrik membuat warga Ukraina mengalami pemadaman listrik paling akut sejak pasukan Rusia menginvasi pada Februari.

Perang Rusia-Ukraina adalah perang berkelanjutan antara Rusia (bersama dengan pasukan separatis pro-Rusia) dan Ukraina.

BERSPONSOR

Konflik ini dimulai pada Februari 2014 setelah Revolusi Martabat Ukraina, dan awalnya berfokus pada status Krimea dan bagian dari Donbas, yang diakui secara internasional sebagai bagian dari Ukraina.

Delapan tahun pertama konflik termasuk aneksasi Krimea oleh Rusia (2014) dan perang di Donbas (2014–sekarang) antara Ukraina dan separatis yang didukung Rusia, serta insiden angkatan laut, perang siber, dan ketegangan politik.

Menyusul pembangunan militer Rusia di perbatasan Rusia-Ukraina dari akhir 2021, konflik meluas secara signifikan ketika Rusia meluncurkan invasi skala penuh ke Ukraina pada 24 Februari 2022.

 

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU