spot_img

Ruhut Marpariama – Tata Cara Panen Raya

Marpariama artinya panen padi secara serentak di salah satu wilayah atau di salah satu daerah secara bersama sama. Namun sebelumnya, pemilik lahan memilih beberapa padi yang matang betul untuk dijadikan benih pada persipapan masa tanam berikutnya.

Lalu masuklah panabi – pemotong padi – untuk mulai memanen. Jumlah panabi yang dibutuhkan disesuaikan dengan gogoni hauma – banyaknya hasil lahan. Perhitungannya, agar proses pemotongan sampai pada mengumpulkan padi selesai dalam satu hari.

Manabi dengan Marsuan (dalam Ruhut Marsuan) adalah pekerjaan yang saling terkait. Jika manabi ada pada musim panen, maka marsuan ada pada musim tanam. Namun caranya berbeda. Pekerja marsuan bergerak mundur, sementara pekerja manabi bergerak maju mengikut alur tanaman padi.

Padi yang sudah disabi – dipotong – dikumpulkan ke beberapa tumpukan. Tumpukan hasil panen ini disebut tibalan. Menjelang sore hari, tibalan ini dikumpulkan lagi ke satu tempat lebih besar yang disebut luhutan,

Luhutan bukanlah sembarang tumpukan padi, tapi harus benar-benar diatur dengan rapi, untuk mengantisipasi tumpukan padi goyang dan jatuh berantakan. Proses menyusun luhutan ini, disebut mandasor.

Ternyata, dari proses masa panen ini, orang Batak mengenal suatu ungkapan “Salah Mandasor Sega Luhutan”, yang artinya, dalam setiap langkah manusia itu, jika sudah dimulai dengan kesalahan maka berdampak kerusakan pada hasil.

Setelah semua padi berada dalam luhutan, pemilik padi pun akan mengundang muda mudi setempat untuk mengolah padi tersebut hingga menjadi beras dan siap dikonsumsi.

Sejumlah muda mudi tadi kemudian berbagi tugas. Ada bertugas mardege dan sebagian lagi bertugas manarsari.

Mardege biasanya dilakukan kaum laki-laki  dengan cara menggesekkan kakinya ke batang padi dengan tujuan biji padi terpisah dari batangnya. Sedangkan manarsari adalah tugas lanjutan yang biasanya dilakukan oleh kaum perempuan.

TERKAIT  Filosofi Rumah Tradisional Batak Toba (1)

Manarsasi bermaksud  mengumpulkan batangan padi yang sudah didege para kaum laki laki tadi untuk memastikan padi benar-benar tanggal dari batangnya.

Untuk mengumpulkan padi yang sudah melewati proses mardege dan manarsari tadi, dilakukan oleh pekerja yang lain. Tidak sembarangan orang boleh melakukannya.

Dari proses ini, orang Batak mengenal suatu pesan “Pantang mandege bolahan”. Setelah itu padi kemudian dibersihkan dari sampah batang padi yang tertinggal. Pekerjaan ini disebut orang Batak, mamurpur.

Nah biasanya, pada saat mamurpur ini, para orang tua terdahulu mengetahui apa yang akan terjadi ke depannya. Semisal mangase taon yang berarti menyampaikan doa dan permohonan kepada Sang Pencipta agar diberi hasil yang berlimpah atau yang disebut juga Mangido sigabe ni taon.

Dari ritual ini, biasanya akan diketahui apakah hama tikus akan mengganggu padi masyarakat, melalui tanda atau simbol ketika melaksanakan ritual tersebut. Proses ritual itu juga menentukan berapa ekor tikus betina dan pejantan ditangkap untuk diantar ke simarsunut.

Lalu para ‘orang pintar’ –  dukun melakukan ritual di simarsunut sembari menyampaikan mantra-mantra dalam untaian kata berikut,

Hutaruhon hami tu simarsunuton Pahampahanamon, asa ho ma daompung pasunutton pahan pahanan mon,

Artinya, biarlah kuasa illahi yang mengurung tikus-tikus tersebut agar tidak menggangu tanaman mereka.

Simarsunut bertempat lebih kurang 500 meter dari Simpang Tele menuju Pangururan. Sampai sekarang, ketika melewati areal tersebut akan terlihat sebuah hutan kecil. Sunut dalam bahasa Batak bermakna kandang ternak.

Penulis : Alimantua Limbong

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU