spot_img

RUHUT

Marhot Ripe dan Artinya Dalam Budaya Batak

SAMOSIR – Marhot Ripe, memaksudkan seorang laki-laki dan seorang perempuan yang sudah menjalin cinta dan telah mendapat pemberkatan dari sekte agama yang dianutnya. Setelah beberapa lama mereka tinggal satu rumah dengan orangtua laki-laki, si anak minta MANJAE. Manjae artinya tidak lagi tergantung kepada orangtua, mereka berdua bekerja untuk menafkahi rumah tangga mereka.

Setelah menikah dan belum memiliki anak, orang Batak tidak pernah lagi memanggil pasangan baru menikah ini dengan nama yang tertera dalam kartu tanda penduduk. Dalam adat istiadat Batak, mereka dipanggil dengan sebutan AMANI HARAPAN  untuk suami dan OMAKNI HARAPAN untuk istri.

Setelah mereka dikaruniai anak panggilannya berubah, bukan lagi amani harapan tapi disesuaikan dengan jenis kelamin si jabang bayi. Jika anak pertama yang lahir laki-laki, maka  suami yang kini telah menjadi ayah dipanggil AMANI UCOK dan si istri OMAKNI UCOK. Jika anak yang pertama lahir perempuan maka panggilannya adalah AMANI BUTET dan OMAKNI BUTET.

Jika anaknya sudah mendapat pembabtisan dan sudah diberi nama, maka panggilannya secara otomatis berubah lagi sesuai dengan nama anaknya. Misalnya, jika nama anaknya  Jalenggan dipanggilah mereka AMANI JALENGGAN dan OMAKNI JALENGGAN.

Ketika si anak (Jalenggan) sudah berumah tangga dan punya anak Laki laki maka panggilan AMANI JALENGGAN menjadi OPPU. Misal jika nama cucunya Bonar, maka Amani Jalenggan tadi dipanggil Oppu Bonar. Namun ada bedanya jika cucu pertama dari anak peremuan, maka panggilan dibubuhi “NI”.

TERKAIT  Maragat dan Minum Tuak, Kearifan Lokal Masyarakat Batak

Contoh, AMANI JALLENGGAN tadi punya dua orang anak. Pertama lak-laki Bonar dan kedua perempuan bernama Roma.  Dalam perjalanan hidup kedua anaknya ini, Roma lebih dahulu berumah tangga. Lalu melahirkan anak bernama Fitri, berubah lagi sebutan AMANI JALENGGAN tadi, menjadi Oppung Ni Pitri.

Kenapa harus demikian? Jawabannya, karena  Suku Batak menganut silsilah keturunan Patriak (garis darah ayah). Dengan dasar ini, tentu segala sesuatu terkait warisan keturunan adalah kaum laki- laki yang kita kenal dengan istilah Tarombo.

Jika seseorang seperti AMANI JALENGGAN atau Oppu Bonar tadi dilengkapi keturunan anak Laki-laki dan perempuan, dalam istilah Batak disebut GABE. Lalu jika orang Batak memiliki materi di atas rata-rata disebut MAMORA dan jika punya jabatan dan orang  terpandang disebut HASANGAPON. Itulah sebabnya  semua orang  Batak dalam hidupnya di dunia ini diharapkan mencapai tiga hal di atas, yaitu HAGABEON, HAMORAON, HASANGAPON.

Penulis : Aliman Tua Limbong
Editor   : Mahadi Sitanggang

(Redaksi Ninna.id menyajikan Ruhut dua kali seminggu di kolom budaya dan tetap melalui proses editing tanpa mengurangi makna dan seluruh isi menjadi tanggungjawab penulis)

 

 

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU