spot_img

SAHALA DALAM MARENDE

Roh – Pancaran Jiwa Dalam Diri Orang Batak Toba (XIII)

NINNA.ID -Orang Batak Toba gemar bernyanyi karena faktor geografis. Pada masa lalu, jarak satu kampung dengan kampung lainnya maupun antara rumah yang satu dan rumah lainnya cukup jauh. Tidak jarang sanak saudara mereka tinggal jauh di kampung seberang. Hal itu membuat warga kerap merasa kesepian. Di tengah kesepian itu, mereka menciptakan lagu-lagu untuk menghibur diri.

Kebiasaan lain, yang mendorong orang Batak Toba berbakat menyanyi adalah tradisi mangandung (meratap dengan kata-kata indah). Andung adalah ratapan. Barangtentu nuansanya adalah kesedihan.

Andung dapat membuat orang yang mendengarnya terpana, terpesona, terpancing untuk meneteskan air mata. Pangandung (peratap) yang lihai biasanya menutupi kepalanya dengan ulos sehingga tidak dapat diketahui mimik wajahnya ataupun kemungkinannya meneteskan air mata. Walau tidak terikat dengan syair yang beraturan, bahasa andung sangat spesial dan jarang diucapkan dalam bahasa sehari-hari. Kata-katanya terpilih. Hal ini masih terasa dalam banyak lagu trio modern.

Marende (bernyanyi) sebagai bagian budaya telah menjadi suatu kearifan lokal bagi masyarakat Batak Toba. Lewat tradisi menyanyi ini, mereka telah mewariskan nilai-nilai budaya mereka ke generasi yang akan datang.

Lewat tema yang semakin kaya, dan jenis musik yang bermacam ragam, pencipta lagu dan penyanyai lagu-lagu Batak Toba telah mewariskan nilai-nilai budaya mereka.

TERKAIT  Kunjungan Antar Sanggar di Kawasan Danau Toba

Tradisi menyanyi untuk orang Batak Toba tidak lagi hanya sekedar menghibur diri, tetapi menceritakan pengalaman, memberikan nasihat, mengungkapkan harapan dan cita-cita, serta bersyukur kepada Tuhan. Nilai-nilai budaya menjadi bagian penting tradisi marende.

Suara di seputar Danau Toba lambat laun akan menjadi salah satu daya tarik bagi orang Batak Toba di perantauan, orang-orang Indonesia, dan bahkan orang asing untuk datang berkunjung dan ikut menyanyi.

Keunikan nyanyi-menyanyi ini akan menjadi salah satu objek wisata bagi kawasan Danau Toba. Dalam konteks inilah lagu-lagu Batak dan kebiasaan menyanyi menjadi pembawa manfaat ekonomi bagi Tanah Batak.

Tentu banyak usaha yang bisa dilakukan ke arah peningkatan mutu bermusik dan menyanyi orang-orang Batak. Tidaklah salah mendambakan bahwa di masa depan, Tanah Batak akan memiliki teater-teater tempat orang menikmati suguhan lagu-lagu Batak, selain kumpul-kumpul untuk menyanyi di alam terbuka.(Tulisan ini akan kami sajikan bersambung setiap hari Minggu, Rabu dan Sabtu)

 

Penulis Pastor Moses Elias Situmorang (Direktur Rumah Pembinaan Fransiskan Nagahuta, P.Siantar-Sumut dan calon Peserta PPRA 63-64 Lemhannas RI)
Editor     : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU