spot_img

SAHALA ADA SAAT MARHATA DAN MARENDE

Roh – Pancaran Jiwa Dalam Diri Orang Batak Toba (XII)

NINNA.ID – Kepintaran marhata alkitabiah mendatangkan  “sahala” dalam kehidupan. Gereja Katolik pun mantap berdiri selaku “hula-hula” yang memberi hata (kata) di atas hata, dan sebagai efeknya sahala tetap terjaga bahkan tersalur darinya.

Lebih dari itu yang terjadi, hata alkitabiah (selaku metanarasi) perlahan-lahan didaratkan agar sungguh menjadi milik orang Batak. Kaitanya ialah memanfaatkan tradisi mandok hata, dimana yang ditekankan ialah tona (pesan) bagi pendengar.

Terjadi perjumpaan yang luar biasa di sini, Kata Alkitab kini masuk ke dalam jiwa orang Batak sebab mekanisme khas marhata dalam kultur Batak ialah bahwa setiap percakapan yang bermutu (masuk akal alias bernalar) mesti punya tona yakni pesan utama.

Maka berkata-kata alkitabiah akan menjadi bagian dari marhata dalam adat Batak kalau tona muncul darinya. Begitu tona muncul, ia sungguh menjadi milik orang Batak walau tentu isi tona sudah bersifat Kristiani.

Mengalirkan Tondi  (Jiwa)  dalam Kesenian
Roh atau jiwa (tondi) dalam kepercayaan orang Batak Toba merupakan daya hidup yang membuat seseorang, hewan atau tumbuh-tumbuhan dapat bertahan hidup. Sebuah literatur Batak Toba menyatakan bahwa tondi adalah tenaga yang menghidupkan segala sesuatu yang ada di muka bumi, termasuk batu, besi atau pun peralatan yang digunakan dalam kegiatan sehari-hari (Dr.Ir.Bisuk Siahaan, 2005). Tondi secara nyata dapat menggerakkan orang untuk berkreasi dan berkesenian.

Beberapa hal pengungkapan tondi dalam kesenian dan kearifan lokal orang Batak Toba pantas juga di sebut di sini sebagai pengungkapan jiwa dan semangat  seperti kerja keras, penghargaan tinggi akan ilmu pengetahuan, hormat akan ciptaan, dan bakat musik orang Batak (Toba), serta suka bersahabat dengan siapapun.

TERKAIT  Tahun Baru Orang Batak tak Ada yang Pasti

Bakat Menyanyi (marende)
Sejak industri musik menggeliat di negeri ini di awal tahun 1980-an, seniman musik Batak sudah masuk lingkaran dan ambil bagian. Musik industri identik dengan musik pop.

Ada banyak nama-nama orang Batak yang terlibat dalam industri musik seperti Rinto Harahap, Carles Hutagalung, Edy Silitonga dengan lagu “Ayah” yang sangat populer, Tarida Hutauruk, Yan Berlin Panjaitan, Sandro Tobing, Ronny Sianturi dalam Trio Libels, Joy Tobing,  Charles Simbolon, Buntora Situmorang, Viktor Hutabarat, Judika Sitohang, Margaret Pasaribu, Viky Sianipar, Benny “Panbers” Panjaitan, Hutauruk Sisters, Rita Butarbutar, Johnson Hutagalung, Jelly Tobing penabuh drum jajaran papan atas dan lain-lain.

Ada komponis Nasional seperti Sidik Sitompul, Nahum Situmorang, Cornel Simanjuntak, Liberty Manik, Nortir Simanungkalit.

Orang Batak Toba kerap diidentikkan dengan suara bagus dan keahlian marende (menyanyi). Talenta ini seakan menjadi karunia yang melekat pada orang Batak Toba pada umumnya. Sejak dulu lagu-lagu Batak dikenal dan dikut memperkaya khazanah musik nasional bahkan mancanegara. Dengan ciri melodi yang tidak terlalu rumit dan cenderung easy listening membuat lagu-lagu Batak Toba mudah diterima pendengarnya.

Marende, inilah yang menjadi salah satu ciri masyarakat Batak Toba. Bahkan menyanyi dianggap menjadi salah satu budayanya. Bila bertandang dari Medan menuju Parapat atau Samosir, lagu-lagu dalam Bahasa Batak setempat akan menemani perjalanan. Entah itu di rumah makan, angkutan umum, ataupun tempat-tempat publik lainnya.(Tulisan ini akan kami sajikan bersambung setiap hari Minggu, Rabu dan Sabtu)

 

Penulis Pastor Moses Elias Situmorang (Direktur Rumah Pembinaan Fransiskan Nagahuta, P.Siantar-Sumut dan calon Peserta PPRA 63-64 Lemhannas RI)
Editor     : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU