spot_img

Sahala Marhata Kristiani

Roh – Pancaran Jiwa Dalam Diri Orang Batak Toba (X)

NINNA.ID – Sejarah adalah segala sesuatu yang pernah terjadi dan yang berdampak kepada perikehidupan. Orang Batak dalam proses pembentukan dan kelahiran adatnya, juga ada dalam sejarah. Berdampak mesti dipahami, sebagai yang membentuk dan mengubah kebiasaan, adat, hukum dan kepercayaan (keyakinan).

Tentu banyak peristiwa (sejarah) yang pernah dirasakan orang Batak Toba, tetapi untuk mewakilinya perlu di pilih  tiga  yang terbesar sebagai alat (metode) untuk melihat makna sejarah tersebut.

Pertama tentang asal-muasal orang Batak Toba bermukim di Tanah Batak  (sekitar tahun 1500-an). Kedua, ketika kuasa asing masuk dan memengaruhi kehidupan di Tanah Batak (1822-1945). Ketiga  (1945-sekarang). Dari tiga fase ini dapat diketahui gambaran dari kepercayaan orang Batak dan kejiwaan orang Batak Toba.

Sahala Marhata  Kristiani
Dr.Budi Susanto S.J (Serikat Yesus) dalam disertasinya “Words and Blessing: Batak Catholik Discourses in North Sumatra di Universitas Cornell  (1989) memeriksa bagaimana pertumbuhan Katolisisme di Tanah Batak.

Sebagai seorang Antropolog, pastor Budi Susanto SJ menyoroti bagaimana orang Batak menimbang, lalu menerima Katolisisme. Dalam disertasi ini terungkap pertimbangan kultural orang Batak dalam menghadapi dunia luar, mengenai apa yang paling penting dan bermakna dalam kehidupan orang Batak.

Ternyata yang terpenting bagi manusia Batak ialah Sahala, yang nampak dan terungkap  wibawa, berkat, kuasa, dan kepandaian berbicara.

Dari studinya, pastor Budi Susanto SJ menemukan bahwa orang Batak terpesona pada Katolisisme, pertama-tama karena Katolisisme membawa sahala hamoraon (kekayaan) ke tanah Batak.

TERKAIT  Perempuan Sebagai “Boru Ni Raja” dalam Budaya Batak Toba

Katolisisme benar-benar memiliki “sahala kekayaan”, khususnya saat depresi ekonomi di Hindia Belantda 1930. Orang Batak heran mengapa justru gerakan Katolik malah merebak, punya banyak proyek, dan tidak seperti Pemerintah Belanda yang tampak bangkrut di zaman meleset itu. Karena itu, mulailah manusia Batak melihat jalan Katolisisme suatu jalan dengan “sahala” yang menetap.

Agar ikut dalam “sahala”-nya, maka yang harus ditempuh ialah ikut masuk pendidikan Katolik yang tentu bermutu, sebab diperkenalkan oleh para pastor dan biarawan-biarawati Belanda.Dengan jalan pendidikan ini, makin jelaslah bukti “sahala” Katolik tadi, sebab menghasilkan orang Batak terdidik dan cepat diserap olah pasar.

Sebut misalnya SMA Bintang Timur Balige, SMA Budi Mulia Pematang Siantar, SMA Santo Thomas di Medan, SMP  Bhakti Mulia di Onan Runggu, SMP & Santa Maria Pakkat, SMP Santa Lusia Lintong ni Huta, ada juga asrama dan poliklinik  dan lain-lain.(Tulisan ini akan kami sajikan bersambung setiap hari Minggu, Rabu dan Sabtu)

 

Penulis Pastor Moses Elias Situmorang (Direktur Rumah Pembinaan Fransiskan Nagahuta, P.Siantar-Sumut dan calon Peserta PPRA 63-64 Lemhannas RI)
Editor     : Mahadi Sitanggang

 

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU