spot_img

Tondi-Sahala Partondion

Roh – Pancaran Jiwa Dalam Diri Orang Batak Toba (II)

NINNA.IDSi Raja Batak, yang tinggal di kaki Gunung Pusuk Buhit mempunyai dua putra, yaitu Guru Tateabulan dan Raja Isumbaon. Kemudian nama dua putra ini menjadi nama dari dua kelompok besar marga Bangso Batak, yaitu Lontung dan Sumba.

Dari kedua kelompok marga ini lahirlah marga-marga orang Batak, yang saat ini sudah hampir 500. Dari kedua marga Lontung dan Sumba dikenal silsilah sampai hari ini. Melalui perhitungan silsilah itu ditaksir, kira-kira 20 generasi lalu (20×30 tahun = 600 tahun), dari kedua Kakek itu sampai generasi sekarang.

Dari silsilah tersebut, sekitar tahun 1400 orang Batak pertama bermukim di Sianjur Mula-mula.

Gerenerasi pertama orang Batak dari sekitar Danau Toba yang bermigrasi adalah tahun 1920-an ke Siantar, Medan dan sedikit ke Jakarta. Hal  itu ditandai dengan berdirinya Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Kernolong.

Generasi kedua tahun 1945 dan 1950 Pemuda Batak bergabung dengan kelaskaran (organisasi perjuangan), bahkan ada yang berangkat dan sekolah ke Jogjakarta seperti Cornel Simanjuntak dan Nahum Situmorang.

Lalu mulai tahun 1960-an makin ramai orang Batak yang pindah dan sekolah di Jawa. Di antara yang berimigrasi ada juga perempuan-perempuan Batak yang berdagang di Pasar Senen dan mendominasi beberapa kawasan di pasar tersebut.

Perempuan Batak melakukan migrasi untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Mereka bertarung dengan nasib dan berusaha keras untuk memenangkan pertarungan tersebut. Jadi berimigrasi atau berani merantau dalam diri orang Batak sudah tertanam kuat dan tetap ingat akan adat dan budayanya.

Sahala Partondion Sebagai Unsur Utama
“Tondi-Sahala Partondion.” Kata ini sangat sulit diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Mengartikannya sebagai jiwa, rasanya tidak lengkap dan hanya menyangkut satu sisi. Tondi menyangkut semua unsur  kehidupan manusia.

TERKAIT  Asal-Usul Doloksanggul

Dipahami, kalau dia kuat dan sehat berarti tondinya juga demikian. Maka tondi dapat diartikan sebagai tulang punggung, kekuatan vital dan hakikat kehidupan seseorang. Bila tondi seseorang tidak pir (keras atu teguh) tapi lemah, maka orangnya pun menjadi lemah, sakit-sakitan dan tidak waras, ketiduran atau selalu bermimpi.

Tondi itu mesti dijaga supaya tidak lari. Tempatnya harus dibuat senyaman mungkin. Manakala dia telah lari sama sekali, maka harus dibawa kembali, dibujuk kembali atau disuap dengan menawarkan beberapa hadiah atau sesuatu yang menyenangkan.

Orang Batak Toba meyakini, bahwa tondi mengalir  dari dunia atas kepada manusia, binatang dan tumbuhan bahkan juga kepada benda-benda tak bernyawa seperti batu.

Bila seseorang meninggal, tondinya akan meninggalkannya untuk menjelma dalam orang lain atau makhluk hidup lainnya. Maka yang hidup sesudah seseorang meniggal dunia adalah begunya bukan tondinya.

Tondi seseorang tak dapat diidentifikasikan atau disamakan dengan kepribadian orangnya. Tondi sering dipertentangkan dengan ego atau akunya manusia. Tondi itu mulai ada sejak seseorang berada dalam kandungan ibunya. Karena itu pada saat seorang ibu sedang berada dalam keadaan hamil maka dia harus diperlakukan dengan lembut supaya tondi anaknya tidak terganggu.

Atas dasar inilah dalam setiap perkawinan agar tondi suami dan istri cocok dan menyatu. Artinya kedua tondi dalam perkawinan hendaknya saling mengisi kekurangan. Maka memiliki anak-anak dipandang sebagai bukti bahwa kedua tondi suami-istri sangat serasi atau disebut ‘rongkap’. (Tulisan ini akan kami sajikan bersambung setiap hari Minggu, Rabu dan Sabtu)

 

Penulis Pastor Moses Elias Situmorang (Direktur Rumah Pembinaan Fransiskan Nagahuta, P.Siantar-Sumut dan calon Peserta PPRA 63-64 Lemhannas RI)
Editor     : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU