spot_img

Tondi-Sahala Partondion

Roh – Pancaran Jiwa Dalam Diri Orang Batak Toba (III)

NINNA.ID – Kekuatan tondi seseorang yang lebih tinggi akan dapat memengaruhi tondi yang lebih rendah. Tondi yang lebih tinggi itu disebut dengan sahala yang berarti wibawa dan pengaruh baik.

Para pemimpin dianggap punya sahala yang lebih tinggi. Kekuasaan atau prestise sudah merupakan tanda sahala. Orang-orang tua dianggap marsahala (punya sahala) dalam hubungannya dengan anak-anaknya.

Sebagai contoh orang yang memilik sahala dalam sejarah orang Batak Toba adalah sosok Sisingamangaraja. Dia memiliki sahala yang amat berwibawa. Kuasa politik Raja Batak tertua itu sangat terbatas akan tetapi kuasa spiritualnya amat besar. Biasanya masyarakat pada umumnya merasa ngeri akan sahala datu. Para murid biasanya takut akan sahala gurunya.

Dalam pandangan orang Batak pada zaman dahulu, tetapi juga hidup sampai saat ini, sahala seseorang selalu berkaitan atau berhubungan dengan sapata-nya. Sapata adalah bentuk kutuk umpatan (kualat atau karma).

Hal itu berarti kekuatan tondi untuk mengutuk atau mengumpat seseorang yang menolak untuk menghormati tondi orang terhormat. Kutukan seorang ibu dapat menyambar anak durhaka dan membuat hidup anaknya menjadi sengsara dan apalagi jika ia tidak berhasil menangkis kutukan itu dengan mempersembahkan kurban. Sapata orang berpengaruh dapat  berlangsung turun-temurun.

Keberadaan Jiwa (tondi)  Orang Meninggal
Orang Batak Toba pada zaman dahulu membagi dunia ini atas tiga bagian yakni banua ginjang (dunia atas), banua tonga (dunia tengah), dan banua toru (dunia bawah).

Banua Ginjang diyakini sebagai tempat hunia para dewa dan keluarganya. Banua Tonga merupakan hunian manusia yang masih hidup dan Banua Toru merupakan tempat tinggal para hantu dan setan. Namun ada juga hantu atau setan yang tetap berkeliaran dalam dunia tengah. Diyakini arwah orang terkemuka akan mendiami dunia atas.

TERKAIT  Roh – Pancaran Jiwa Dalam Diri Orang Batak Toba (VII)

Kehidupan di Banua Ginjang, yakni kehidupan dewa-dewi agak mirip dengan kehidupan manusia di Banua Tongah. Dewa punya istri dan anak, berjudi, berperang, saling berseteru dan saling memadu cinta.

Orang yang masih hidup di dunia tengah dapat berhubungan dengan para dewa tetapi tidak boleh secara langsung melainkan dengan memakai perantara atau mediator. Para mediator inilah yang disebut dengan datu. Namun mesti dicatat bahwa hubungan para datu dengan dewa-dewi hanya sedikit.

Para datu punya hubungan yang lebih intens dengan jiwa orang yang sudah mati. Jiwa atau bayangan orang yang sudah mati itu disebut dengan begu (hantu).

Begu-begu itu digambarkan sangat menakutkan. Hantu-hantu itu iri hati akan kehidupan karena itu berusaha untuk menghadang dan mencederainya. Atas dasar keyakinan inilah maka mereka harus dipuaskan, diusir atau diumpan.

Ada keyakinan, bila kebutuhan mereka disediakan maka mereka tidak akan merugikan lagi, malah membawa berkat pada sanak keluarganya yang rela mengabdinya.(Tulisan ini akan kami sajikan bersambung setiap hari Minggu, Rabu dan Sabtu)

 

Penulis Pastor Moses Elias Situmorang (Direktur Rumah Pembinaan Fransiskan Nagahuta, P.Siantar-Sumut dan calon Peserta PPRA 63-64 Lemhannas RI)
Editor     : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU