spot_img

Tondi-Sahala Partondion

Roh – Pancaran Jiwa Dalam Diri Orang Batak Toba (I)

NINNA.ID – Jiwa yang sehat berada dalam tubuh yang sehat (mens sana incorpore sano).  Jika jiwa sehat tubuh juga sehat. Jiwa yang bening bersih membuat badan sehat.

Minimal orang yang kejiwaannya seimbang dan cerah, tidak terlalu peduli akan penyakit badan, dan selalu hidup gembira dan bersemangat. Maka kalau hidup seseorang tidak cerah mungkin hampir pasti ada yang tidak beres dalam jiwanya.

Jiwa yang kuat  dan sehat mengarahkan seseorang pada tindakan jujur, adil, berbelas kasih, punya integritas,  dan  pelopor perdamaian.

Sifat seperti ini  dalam filosofi  bahasa Batak Toba disebut dengan orang yang ber-sahala.

Jagad media sosial khususnya bagi orang Batak Toba heboh karena postingan segelintir orang yang mengaku pendeta berkhotbah yang seakan-akan melecehkan tempat di Pusuk Buhit yang bagi sebagian orang Batak dianggap sakral.

Ada banyak reaksi berupa hujatan bahkan ada yang mau melaporkan kepada pihak berwajib. Kemarahan dengan berbagai reaksi dapat dimengerti sekaligus juga perlu arif mencermati.

Mungkin kekurangtahuan mengenai apa itu sahala dan tempat itulah yang mengarahkan seseorang untuk melakukan sebuah tindakan tak terpuji. Perlu penjelasan secara historis dan makna sebuah dari sahala.

Mitologi Adanya Orang Batak
Tanah permai itu memang tak berbentuk dan kosong, sebab tidak ada tumbuhan, tidak ada binatang, tidak ada matahari, bulan dan bintang. Paling mengiris hati Si Boru Deak Parujar ialah kenyataan bahwa sendirian tiada pendamping.

ia menyampaikan kesunyian hati ini kepada bapanya Dewata Batara Guru. Kembali kenyataan cinta Mulajadi Nabolon, dewata Trimurti (Batara Guru, Soripada, dan Mangala Bulan) tercurah kepada Si Boru Deak Parujar dan bumi barunya.

Mulajadi Nabolon menyuruh mencincang Si Tuan Ruma Uhir. Dimasukkan ke dalam sebuah tabung bambu ajaib. Pada tabung tertera gelar barunya Si Raja Ihat Manisia. Raja Pendasar Manusia.

Kepada abal-abal bambu diikatkan sebuah sumpitan (ultop) dengan taji panahnya. Ini dilemparkan ke bumi Si Boru Deang Parujar. Selama tujuh hari tujuh malam (kepenuhan kala), tabung itu terletak saja di sana, tidak dinyana.

TERKAIT  Cerita Parhaminjon - (1)

Kemudian, tabung merekah. Dari dalamnya keluar seorang perjaka yan tampan. Ia mengamati, namanya Si Raja Ihat Manisia. Ia melihat sumpitan. Sembari melihat seekor tekukur raksasa, ia pun mengambil sumpitan (ultop) lantas menembaknya.

Burung itu terbang ke pondok Si Boru Deang Parujar. Diikutinya burung itu untuk menangkapnya. Di tempat burung tekukur terempas ke tanah, ia bersua dengan Si Boru Deang Parujar. Mereka bersapaan dan saling memperkenalkan nama masing-masing: Si Boru Deang Parujar, Si Raja Ihat Manisia. Dalam hati, mereka sudah berkenalan. Cinta berkecambah dan mekar.

“Dapatkah engkau mempersiapkan burung ini menjadi santapan pertunangan dan pernikahan kita?, kata Si Raja Ihat Manisia. Sang tersapa mengangguk, sambil mengundang Si Raja Ihat Manisia ke tempat kediamannya.

Tatkala membuka tembolok tekukur untuk mempersiapkan makanan burung, Si Raja Ihat Manisia menemukan segala jenis bibit dan benih. Ia melemparkannya ke segala arah.

Secara ajaib dari bibit dan benih sakral itu, langsung tumbuh segala jenis pohon dan tanaman: beringin, pimpin, padi, jagung, sayur-sayuran. Juga segala jenis binatang: kerbau, lembu, ayam, burung-burung angkasa, seperti enggang, punai, patia raja, puyuh, jengkrik, cacing-cacingan.

Secara ajaib terciptalah hutan, padang, ladang, dan binatang bersukaria sambil bernyanyi. Menjadi penerang terciptalah matahari. Waktu malam bumi diterangi oleh bulan dan ribuan bintang. Alangkah indah, sentosa dan menggembirakan hidup di atas bumi. Si Boru Deang Parujar dan Si Raja Ihat Manisia sangat bahagia.

Menjadi kediaman pasangan insan perdana bumi, Mulajadi Nabolon dan Dewa Trimurti menciptakan sebuah taman ajaib, yang disebut Sianjur Mulamula Sianjur Mulatompa. Di sana mereka melahirkan keturunannya, yaitu Si Raja Batak. (Tulisan ini akan kami sajikan bersambung setiap hari Minggu, Rabu dan Sabtu)

 

Penulis : Pastor Moses Elias Situmorang (Direktur Rumah Pembinaan Fransiskan Nagahuta, P.Siantar-Sumut dan calon Peserta PPRA 63-64 Lemhannas RI)
Editor     : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU