spot_img

Ritual Suku Batak Selesai Membangun Rumah

NINNA.ID – Pada tulisan kami sebelumnya sudah dijelaskan tentang ritual apa saja yang dilakukan suku Batak pada zamannya dalam hal membangun rumah. Ritual itu merupakan kearifan lokal yang kini jadi keunikan yang sarat akan makna jika dilihat dari perspektif budaya. Beberapa ritual itu masih lestari sampai sekarang, seperti mangelek boraspati ni tano, mameakon batu ojahan, manggalang tukkang/mangadati tukkang dan lain sebagainya.

Nah, kali ini kami coba uraikan sedikit mengenai kebiasaan suku Batak jika selesai membangun rumah. Setelah proses peletakan batu pertama usai, segala material bangunan berupa olahan kayu dan bahan-bahan pendukung lainnya dipersiapkan di partapakan tersebut. Proses selanjutnya yang akan dilakukan si pemilik  rumah, akan mengundang para masyarakat di seputaran kampung tersebut, membantu Tukkang  (pekerja) sekaligus menyaksikan proses dimulainya pendirian rumah itu.

Dalam prosesnya, untuk mendirikan sebuah rumah sebenarnya ada yang langsung cepat selesai  jika rumah itu tidak memakai Rassang. Namun, beda hal dengan rumah yang menggunakan Rassang, karena harus dilengkapi dulu beberapa tiang lengkap untuk menopang Rassang sehingga memang pengerjaannya sangat lama.

Saat itu untuk membuat lubang pada kayu tersebut tempat masuknya Rassang tadi dibutuhkan beberapa orang untuk melobangi tiang itu dengan menggunakan alat pahat seadanya, nama alat ini disebut Tuhil.

Budayanya, selama proses pendirian rumah ini ketika para Tukkang bekerja, para keluarga dekat akan membawa makanan dan minuman khas Batak Toba yang disebut Pohulpohul. Dan biasanya untuk membantu si pemilik rumah dalam memberikan makan Tukkang, keluarga dekat akan berpartisipasi bergantian datang membawa makanan dan lauknya. Kebiasaan ini dikenal dengan istilah Manggalang Tukkang. Walau tidak harus tiap hari dan tidak harus sampai selesai, tetapi idealnya semua keluarga minimal melakukannya sekali selam proses pendirian rumah ini. Poin pentingnya adalah, mereka bahu-membahu dalam membantu sesama keluarga.

TERKAIT  Marhot Ripe dan Artinya Dalam Budaya Batak

Yang berikutnya, ada kalanya ketika pekerjaan pendirian rumah masih berlangsung atau masih dalam proses, si pemilik rumah ingin langsung menempati rumah tersebut.

Hal itu diperkenankan dalam budaya Batak, yang sampai sekarang kita kenal dalam istilah Batak Toba disebut manimunimusi.

Acara ini adalah budaya menempati rumah tanpa mengundang keluarga dan kerabat dekat, tapi hanya mengundang masyarakat sekitarnya. Sangat berbeda dengan proses memasuki rumah secara resmi, seperti yang kita ketahui bersama, biasanya proses memasuki rumah baru itu harus mengundang keluarga seperti Hulahula Tulang, Dongan Tubu dan Boru serta penetua adat yang yang ada di kampung itu

 

Penulis  : Aiman Tua Limbong
Editor      : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU