spot_img

Ritual Suku Batak Sebelum Membangun Rumah

NINNA.ID – Banyak hal yang harus diperhatikan untuk membangun rumah. Selain dari sisi biaya dan tempat, tidak kalah penting memperhatikan sisi tatanan sosial masyarakat yang tinggal di daerah tersebut. Kesemuanya itu harus direncanakan secara matang sehingga akan didapatkan sebuah hunian yang ideal, nyaman dan aman. Membangun rumah, bagian dari ritual suku Batak yang penting. Berikut ini, ada beberapa ritual penting yang dahulu dilakukan suku Batak setiap membangun rumah.

Hal yang pertama dilakukan adalah menentukan pertapakan, lalu dilanjutkan dengan pengadaan kayu. Hal penting berbau ritual mulai terlihat di sini. Untuk pengadaan kayu ini, si pembuat rumah akan memberangkatkan beberapa orang ke hutan.

Keberangkatan ke hutan harus mempersiapkan beberapa barang penting seperti: Harbue Satti dan tepung beras. Harbue Satti diyakini para nenek moyang terdahulu sebagai salah satu isyarat berkomunikasi kepada Sang Khalik.

Adapun isi daripada Harbue Satti ini adalah beras 4 muk, jeruk purut 1 buah, sirih dengan jumlah bilangan ganji 1,3,5 ataupun 7 helai , kemudian ditambah lagi dengan 4 lembar uang kertas yang menggambarkan Suhi Ni Ampang Naopat.

Setelah perlengkapan ini dipenuhi, berangkatlah mereka yang sudah dipilih tadi ke hutan. Sesampainya di hutan, dilanjutkan dengan melantunkan Tonggo tonggo (berdoa),

“Ale ompung BORU TINGKAU, BORU TINDOLOK na meat dibulungna, na mian didakkana, bona na dohot pussuna di hamu do Ompung, namangulae do hami di tonga tonganai. Amporik dang adong takke-takkena dipukka do asarna, hami jolma manisia marbisuk marroha pukkaonnami do inganan nami.”

TERKAIT  Seni Budaya Tradisional Pakpak (II)

Setelah semua doa permintaan tadi selesai dilantunkan, kemudian salah seorang dari rombongan tersebut pun akan menancapkan kapaknya ke salah satu pohon yang sudah mereka pilih, dan akan membiarkan proses itu kurang lebih dalam waktu 30 menit. Jika kapak tersebut bertahan selama itu, berarti permintaan mereka dikabulkan. Jika kapak yang ditancapkan tersebut jatuh, maka pengambilan kayu tersebut tidak mendapat restu dari roh penghuni hutan, maka penebangan pohon harus ditunda.

Petuah para sepuh terdahulu, jika proses pengambilan kayu dipaksakan akan menimbulkan resiko yang besar buat si pembuat rumah. Bisa saja akan terjadi sebuah malapetaka menimpa rumah itu seperti kebakaran atau bisa juga, penghuni rumah akan selalu ketiban nasib sial dan masih banyak risiko lainnya.

Andaikan proses dari awal berjalan lancar, kayu yang sudah dipotong tersebut akan segera dibawa ke kampung. Di lokasi pertapakan rumah, kayu tersebut dipajang dan diperciki beras. Dalam kepercayaan Batak kuno, memercikkan beras ke atas kayu dipercaya sebagai sambutan atas Tondi (roh) kayu tersebut telah sampai ke pada di pembuat rumah. Dan, pembangunan rumah bisa dimulai.

 

Penulis  : Aliman Tua Limbong
Editor     : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU