spot_img

RUHUT

Ritual Mangallang Lombu Suhung

NINNA.ID – Jauh sebelum leluhur Batak Toba memahami baca tulis, mereka sudah mengerti perbuatan salah besar, yang disebut dengan dosa dalam konteks agama. Tidak sekedar dosa, leluhur Batak Toba juga memercayai dosa warisan, dalam istilah Batak Dosa Tean Teanan.

Pemahaman secara umum hampir sama: dosa warisan adalah, dosa seorang atau beberapa kakek buyut di masa hidupnya. Dosa ini biasanya tak dapat diterima masyarakat, katakanlah seperti membunuh orang, praktik ilmu gunaguna yang bisa membuat orang sakit dan banyak hal negatif lainnya, sehingga berdampak pada derita keturunan.

Penderitaan keturunan biasanya sangat sakit, sehingga karena sakitnya, timbul niat mengadukan nasibnya kepada seorang Datu (dukun). Lalu si Datu tadi akan melakukan kajian sesuai ilmu yang dimilikinya. Singkat cerita, si Datu tadi akan mengungkapkan, kalau nenek moyangnya terdahulu pernah melakukan tindakan di luar ambang batas yang sangat merugikan orang lain.

Beban derita yang dirasakan sekarang, sebagai keturunannya, adalah akibat perbuatan leluhurnya. Maka si Datu akan menyarankan agar dilakukan ritual Papurpur Sapata (tolak bala).

Ritual ini melibatkan seluruh seluruh keturunan kakek buyutnya tadi, untuk melakukan ritual Mangallang Lombu Suhung.

Dalam ritual Mangallang Lombu Suhung, pemotongan seekor lembu jantan ukuran sedang, merupakan inti acara. Cara memotong lembu sedikit berbeda, yaitu dengan mengikat kepala lembu serapat mungkin ke kaki bagian depan.

Pembuat ritual, wajib menghadirkan Raja Bius, dan menyampaikan apa maksud dan tujuan dari acara tersebut. Lantas Raja Bius akan merestui acara yang dilakukan Hasuhuton dan Raja-Raja tersebut akan menyampaikan tonggo tonggo kepada Sang Pencipta agar keturunan yang melakukan hajahatan tersebut tidak lagi ikut terlibat atau terdampak dalam dosa warisan kakek buyutnya.

TERKAIT  DESA NAWALU - Delapan Penjuru Mata Angin Suku Batak

Singkat proses, lembu tadi diseret ke sebatang pohon jabijabi (pohon beringin) yang sudah ditancapkan sebelumnya. Parhata (Parsinabul) akan meminta petunjuk kepada Pargonsi/partagading, tentang semua ritual ritual atau adat istiadat yang diperlukan, hingga acara gondang panjujuron dilaksanakan.

Setelah acara panjujuron ini usai, lembu tadi akan disembelih dan dibagi bagikan kepada Raja Bius dan khalayak ramai, sesuai tradisi atau adat yang berlaku pada masa itu. Khusus kepala lembu yang dipotong tadi disebut Sipitudai.

Setelah masak, kepala lembu di bagi tiga bagian, lalu dimasukkan ke dalam nampan yang besar, diletakkan di Galapang. Ketiga bagian tadi untuk abang adik, pihak boru dan pihak hula hula, sekaligus pertanda mereka akan makan bersama.

Begitulah salah satu tradisi atau adat isitiadat dalam suku Batak yang perlu dilestarikan. Namun sekarang, ritual ini sudah jarang terlihat dilakukan. Di samping mempererat persaudaran di antara yang berkeluarga, ritual itu sebagai salah satu wujud nyata, suku Batak sangat taat kepada Tuhan-nya.

 

Penulis   : Aliman Tua Limbong
Editor      : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU