spot_img

Ritual Mangallang Lombu Sitiotio

NINNA.IDRitual mangallang Lombu Sitiotio adalah salah satu ritual Batak yang bermakna tinggi dan mengandung pengertian sangat mendalam. Untuk melakukan ritual tersebut dituntut sebuah kesabaran dan kelembutan dengan proses panjang, dalam satu garis keturunan atau pomparan.

Ritual ini didasari dari terjadinya ketidaksepahaman atau tidak adanya keputusan dari satu pomparan.  Sebab sesama pomparan sering beda pendapat ahirnya terjadi perkelahian yang sangat berat.

Terjadinya situasi berat dan rumit menimpa satu garis pomparan ini, membuat roh nenek moyang menompang kepada salah satu pomparannya, lantas berpesan harus melakukan acara Mangallang Lombu Sitiotio. Pesan itu juga menegaskan, apabila tidak dilaksanakan, resikonya tinggi hingga kehilangan nyawa.

Mendengar pesan roh Ompungnya itu, para pomparannya berembuk untuk melakukan ritual Mangallang lombu sitiotio sebagai bukti pomparannya bersatu. Maka ditentukan waktu yang tepat untuk melakukan acara tersebut.

Setelah hari yang telah ditentukan tiba, para Hasuhuton (si pembuat acara), mengundang Raja Bius untuk merestui ritual tersebut serta menyampaikannya kepada Mulajadi Nabolon.

TERKAIT  Maragat dan Minum Tuak, Kearifan Lokal Masyarakat Batak

Ritualpun digelar dengan menambatkan lembu ke dahan pohon Jabijabi. Pemain musik Batak (Gondang Sabangunan) mengalunkan musiknya dengan nada lambat yang disebut Gondang Laelae. Setibanya di Borotan (penambatan), lembupun ditambat.

Protokol hasuhuton menyerahkan acara kepada pemain musik (Pargonsi). Ritual ini dilakukan atas pesan nenek moyang agar tercipta kestuan dan persatuan.

Dalam prosesnya ritual itu, masing masing pomparan malakukan permintan kepada Pargonsi, agar segala permintaan mereka disampaikan kepada Mulajadi Nabolon.

Ritual dilanjutkan dengan manortor bersama saling bermaafan,  kemudian lembu disembelih dan dilakukan pembagian dagingnya sesuai peruntukan yang suda disepakati.

Daging lembu dibagikan kepada Raja Bius(Sagusagu Raja), tokoh adat, unsur perintah dan satu marga sesepuh. Yang menjadi milik Hasuhuton, sebahagian dagingnya bersama kepalanya.

Kepalanya dijadikan Sipitudai yakni mata, lidah, hati, jantung, otak, paru-paru dan daging Tulan kaki. Seluruhnya dicampur dengan tepung beras. Makan bersama dilakukan sebagai bukti terwujudnya kesatuan dan Persatuan.

 

Penulis    : Aliman Tua Limbong
Editor       : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU