spot_img

RUHUT

Ritual Gondang Uras-Uras

NINNA.ID – Manusia dilahirkan ke dunia ini tidak memiliki nasib yang sama. Menurut penyampaian para nenek moyang kita terdahulu, ketika bayi di dalam kandungan ibunya, si bayi sudah  memiliki permintaan kepada Mulajadi Nabolon (yang dipercaya sebagai Tuhan oleh orang Batak) yang disebut Turpuk dan Sibaran.

Permintaan itu kira-kira, walaupun  dirinya nanti miskin maunya diberilah umur yang panjang. Ada yang meminta sebentar dia hidup  tapi diberi Mulajadi Nabolon kepadanya harta yang berlimpah.Ada yang meminta kekuasaan dan bermacam-macam lainnya.

Namun tak seorang manusia yang tahu hakekat yang diberikan Mulajadi Nabolon kepadanya. Karena itu adalah rahasia ilahi.

Manusia bisa saja bebas memilih pekerjaannya, jika Tuhan berkata lain, semua akan sirna. Ketika seseorang mengalami nasib yang tidak sesuai dengan takdirnya, seperti di perjalanan hidupnya sudah memiliki harta yang berlimpa, tapi tiba-tiba datang penyakit, dibawa berobat ke medis, namun tak kunjung sembuh, akhirnya dia dibawa kepada orang pintar.

Di sini ketahuilan, dia tidak menyadari TURPUK SIPAIMAON, BAGIAN SIJALOON. Ternyata apa yang dijalakan selama hidup saat ini, tidak sesuai dengan permintaannya semasa dikandungan. Lalu orang pintar menyarankan agar pergi Manguras-uras untuk memohon kembali kepada yang maha kuasa agar penyakitnya sembuh.

TERKAIT  Balai Arkeologi Sumut Mencari Jejak Dinasti Sisingamangaraja

Dalam budaya Batak Toba, setiap garis keturunan memiliki sumber mata air yang disebut Pohon pohonan yang dianologikan sumber kehidupan. Ke sumber air tersebut, orang yang sakit tadi disarankan melakukan ritual untuk mengubah nasibnya.

Dalam acara dikakukan sesajen. Sesajennya biasa ayam Jantan merah (manuk mira) ayam putih (manuk mira nabottar) serta Ikan Batak (Dekke Ihan). Tidak lupa menyiapkan kue khas Batak toba seperti Nitak Puti , Nihintang ni Andalu dan Nihopingan.

Sesajen diletakkan di Altar Tiga Segi (Langgatan sitolu sagi), dan dipajang juga Kain Putih dibambu, sebagai lambang kesucian.

Setelah acara usai, mereka pun pulang membawa air (Mual pohon pohonan)  dan disambut acara gendang yang telah disiapkan di rumah.

Setibanya di rumah, penderita sakit diminta menari sepuasnya menjujung air pohon pohanan yang sudah dimasukkan ke dalam Guci tabu-tabu (gucci).

Jika ada roh yang hendak datang kepada yang sakit, saat itulah roh tersebut masuk, dan memberitahu obat yang sakit. Jika roh itu benar seiring berjalannya waktu pemyakitnya berangsur angsur akan pulih kembali.

 

Penulis  :  Aliman Tua Limbong
Editor     : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU