spot_img

RUHUT

Ritual Gondang Mandudu, Salah Syarat Nyawa Melayang (I)

NINNA.ID – Acara Gondang Mandudu merupakan prosesi ritual Batak Toba yang memiliki nilai sakral tinggi. Orang-orang yang terlibat dalam ritual ini, harus memiliki keahlian tersendiri di bidangnya masing-masing.

Para pemain musik atau partaganing bersama kru-nya, harus orang yang mengerti sejarah kesaktian Putera Sulung Op.Guru Tatea Bulan, yakni Raja Gumelenggeleng yang memiliki 7 tahap kesaktian. Demikian juga orang yang dipercaya menombak kerbau, yang disebut Pamuhai harus mengetahui Dungdang dan delapan makan penjuru mata angin yang disebut Desa Naualu.

Semua prosesi ritul yang satu ini begitu sakral. Jika ada yang salah menerapkannya, maka nyawala taruhannya.

Untuk Datu yang dilibatkan dalam ritual Gondang Mandudu ini, harus memiliki Torsa dan tahapan-tahapan. Banyak kisah yang dituturkan nenek moyang terdahulu, usai melakukan ritual ini, orang-orang yang terlibat meninggal dunia.

Walau ritual ini dominan dengan irama suara gondang, tetap ada terdengar dialog (dungdang). Dialognya juga tidak sekedar dialog biasa, tapi dialog yang sarat arti, sampai membuat bulu roma merinding.

TERKAIT  Filosofi Rumah Tradisional Batak Toba (1)

Mistis ritual ini mulai terasa begitu protokol meminta agar semua duduk pada tempatnya, tanpa suara dan tak dibolehkan lagi lalu lalang. Suasan harus benar-benar hening. Dan, peristiwa alam akan terjadi.

Persembahan dalam ritual ini juga tidak sembarang kerbau. Ternak yang dipilih adalah seekor anak kerbau jantan yang sudah lepas menyusui.

Syarat fisiknya, harus memiliki 4 pusaran di badannya, yang disebut Parpusoran Lagelage, tanduknya berbentuk bulat yang disebut Sitikko Tanduk, serta di bawah kedua matanya juga harus ada pusaran. Begitu juga ekornya harus panjang yang disebut Sijambe Ihur dan hidung anak kerbau tersebut belum dicuil.

 

Penulis   : Aliman Tua Limbong
Editor      : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU