NINNA.ID-Orang Batak punya banyak legenda. Mereka pandai menceritakan sesuatu lewat benda, tempat, atau kisah. Hampir semua punya cerita, termasuk Sigale-gale.
Secara harfiah, Sigale-gale berarti “lemah dan tak berdaya”. Kini, nama ini sudah dikenal luas. Patung Sigale-gale yang bisa menari menjadi daya tarik wisata di Samosir.
Patung ini adalah hasil karya seni pahat yang cerdas, milik orang Samosir khususnya, dan Batak pada umumnya.
Keunikan Sigale-gale menginspirasi banyak seniman. Salah satunya adalah Marfenas Marolop Sihombing, seorang lulusan seni rupa FBS-Unimed. Sejak SMA, ia sudah jatuh cinta pada dunia teater.
Ia tidak hanya menjadi aktor, tapi juga menulis naskah, menyutradarai pertunjukan, bahkan menulis tiga buku cerita anak.
Selain itu, ia juga seorang guru yang penuh dedikasi. Ia sering melibatkan murid-muridnya dalam pertunjukan seni.
Ia juga kerap diundang menjadi narasumber kebudayaan di radio dan televisi. Apa yang dulu hanya hobi, kini menjadi semangat hidupnya.

Pada 13 September, Marfenas akan menampilkan pertunjukan tunggal yang terinspirasi dari legenda Raja Manggale.
Menurut cerita, dahulu ada seorang raja bernama Raja Rahat. Ia memimpin dengan bijaksana, tetapi istrinya sudah meninggal lebih dulu.
Raja hanya memiliki seorang putra, Manggale, yang seharusnya meneruskan garis keturunan Batak. Sayangnya, Manggale gugur dalam peperangan.
Raja sangat sedih. Untuk menghiburnya, para cerdik pandai memahat patung menyerupai wajah Manggale.
Seorang dukun pun memanggil roh Manggale agar “masuk” ke dalam patung itu. Sejak saat itu, patung hidup dan bisa menari. Setiap kali rindu, Raja Rahat menari bersama patung tersebut.
Patung itu bukan lagi sekadar seni pahat. Ia menjadi sarana untuk melepaskan rindu, meluapkan perasaan, hingga melengkapi ritual adat yang berkaitan dengan kematian.
Dalam pertunjukan kali ini, monolog tentang Manggale akan digarap bersama berbagai seniman.
Sastrawan Raudah Jambak menjadi sutradara, dan acara difasilitasi oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II Medan. Pertunjukan ini menjadi ruang ekspresi seni dan budaya Batak.
Penulis: Riduan Situmorang
Editor: Damayanti Sinaga



