Jakarta, NINNA.ID– Badan Pusat Statistik (BPS) merilis laporan tahunan Statistik Pertambangan Minyak dan Gas Bumi 2019-2023, yang mengungkap perkembangan produksi, tenaga kerja, dan biaya operasional dalam sektor migas di Indonesia.
Dalam kurun waktu 2019-2023, produksi minyak mentah dan kondensat mengalami fluktuasi signifikan. Pada tahun 2019, produksi mencapai 273,5 ribu barel, tetapi turun menjadi 221 ribu barel pada 2023.
Sementara itu, produksi gas bumi relatif stabil dengan sedikit penurunan dari 2,65 juta MMscf di 2019 menjadi 2,42 juta MMscf pada 2023.
Biaya Operasional dan Balas Jasa Tenaga Kerja
Sektor migas menghadapi peningkatan biaya operasional yang cukup signifikan. Pada 2023, biaya pengeboran mencapai Rp 1,53 triliun, meningkat dibandingkan 2019 yang hanya Rp 1,00 triliun. Biaya produksi juga mengalami lonjakan dari Rp 18,52 triliun di 2019 menjadi Rp 15,34 triliun pada 2023.
Di sisi lain, balas jasa tenaga kerja mengalami kenaikan dengan total Rp 16,9 triliun pada 2023, yang mencakup gaji, tunjangan, bonus, dan asuransi tenaga kerja.

Industri migas juga mencatat peningkatan konsumsi bahan bakar dan pelumas, yang mencapai Rp 7,06 triliun pada 2023, meningkat drastis dari Rp 4,58 triliun pada 2019. Hal ini menunjukkan ketergantungan sektor migas pada energi untuk operasionalnya.
Tantangan dan Prospek ke Depan
Dengan adanya tren penurunan produksi serta peningkatan biaya operasional, industri migas Indonesia menghadapi tantangan besar dalam menjaga efisiensi dan daya saingnya.
Oleh karena itu, diperlukan strategi pengelolaan sumber daya yang lebih efektif serta investasi dalam teknologi untuk meningkatkan produktivitas.
BPS berharap laporan ini dapat menjadi referensi bagi pemerintah dan pelaku industri dalam merumuskan kebijakan yang lebih baik guna mendukung keberlanjutan sektor migas di Indonesia.
Penulis/Editor: Damayanti Sinaga



