Potensi Desa Pardomuan Sibisa Dijadikan Desa Wisata Kopi

BERSPONSOR

Toba, NINNA.ID– Desa Pardomuan Sibisa memiliki potensi dijadikan sebagai desa wisata kopi. Di desa ini, setidaknya ada dua toke (baca: pengumpul) kopi. Di antaranya bermarga Sinaga dan Simanjorang.

Selain itu, ada juga pegiat kopi dari desa berdekatan yakni Desa Motung dengan merek Motung Arabica Coffee.

Mora Coffee (Motung Arabica Coffee)
Mora Coffee (Motung Arabica Coffee) (foto: istimewa)

Ketiga pengumpul kopi ini memiliki gudang maupun greenhouse pengering kopi. Pun juga sudah lama berkecimpung di bisnis ini.

Akan tetapi, akibat perubah iklim yang sangat pesat menyebabkan produksi kopi merosot. Sejak 2019 hingga 2023 produksi kopi merosot.

BERSPONSOR

Ditambah lagi harga kopi yang sempat anjlok pada masa Covid menyebabkan para petani beralih dari kopi ke jagung.

Akibatnya, greenhouse yang tadinya tempat penjemuran kopi difungsikan untuk menjemur jagung. Selain itu, semakin banyak lahan ditanami jagung.

PIR Gagas Wisata Kopi

Melihat potensi wisata kopi yang dapat dikembangkan di Desa Pardomuan Sibisa, Parsibona Indonesia Raya (PIR) menggagas eduwisata kopi di lahan 6,37 hektar yang akan dijadikan wisata terpadu.

BERSPONSOR
Sihar Sitorus
Sihar Sitorus, Ketua Umum PIR, turut meletakkan batu pertama menandai dimulainya pembangunan wisata terpadu di Kampung Halaman Raja Sitorus. (foto: Damayanti)

Wisata terpadu diharapkan akan semakin mengangkat Desa Sibisa menjadi Desa Wisata. Sebab, desa ini sangat dekat dengan The Kaldera Nomadic Escape yang dikelola oleh BPODT.

“Kita rencana mau buat processing kopi di Desa Parsaoran Sibisa sekaligus buat eduwisata kopi. Itulah salah satu gambaran apa yang akan kita buat di sini untuk pemberdayaan ekonomi di Sibisa,” jelas Sekretaris Jenderal (Sekjen) PIR, Irian Sitorus.

Irian Sitorus mengatakan, PIR bersama petani kopi akan merapikan kebun kopi dan membuat jalur trekking wisata kopi yang dilanjut ke tempat edukasi kopi.

TERKAIT  KUR BRI Bantu Usaha Batu Bata Joni Berkesinambungan

“Di sana akan diajarkan bagaimana proses kopi dari cherry sampai bubuk kopi dan lanjut ke cafè.”

- Advertisement -

Groundbreaking atau acara seremonial tanda dimulainya proyek konstruksi telah dimulai pada Jumat 15 Desember 2023. Karena libur Natal dan Tahun Baru, proyek akan dilanjutkan pada Februari 2024.

Di areal wisata terpadu 6,37 hektar ini akan dibangun Museum Raja Sitorus, Café yang mendukung eduwisata kopi, pembibitan tanaman endemik Toba, dan beragam hal lainnya.

Di luar areal yang digagas menjadi wisata terpadu ini, ada beberapa penggiat kopi seperti Motung Arabica Coffee, Café Sehati, dan lainnya–telah menguasai teknik penyajian kopi dan menjadi Barista.

Hal ini menambah potensi Desa Pardomuan Sibisa dijadikan pusat desa wisata kopi.

Kopi Arabika

Para petani di Desa Pardomuan Sibisa paling banyak mengusahakan jenis Kopi Arabika atau biasa disebut Kopi Ateng atau Kopi Sigararutang.

Berdasarkan sensus BPS pada 2021, luas areal tanaman perkebunan kopi di Toba mencapai 4.800 hektar.

Kebun kopi terluas ada di Tapanuli Utara mencapai 16.470.000 hektar sementara Dairi hanya 12.100.00 hektar.

Humbang Hasundutan menempati urutan ketiga dengan luas lahan 12.060.000 hektar. Disusul Karo 9.210 hektar, Simalungun 8.240 hektar, Samosir 5.070 hektar dan Toba mencapai 4.800 hektar.

Bisa disimpulkan daerah-daerah penghasil kopi di Sumut adalah Kawasan Danau Toba. Di luar kawasan Danau Toba, luas lahannya masih di bawah 5.000 hektar.

Secara keseluruhan, luas areal tanaman Kopi Arabika di Sumut mencapai 77.900 hektare sementara areal Kopi Robusta hanya 17.780 hektare.

Penulis: Damayanti Sinaga
Editor: Damayanti Sinaga

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU