Persoalan Peternakan Ayam di Percut Semakin Memanas, Warga Ancam Tutup Paksa

NINNA.ID – Persoalan peternakan ayam di Percut Sei Tuan semakin memanas. Terbaru, warga mengancam menutup paksa jika pengusaha mengulur waktu lagi.

Dalam rapat sebelumnya, pemilik peternakan keluarga Alim, Hendra dan Megawati, berjanji akan menutup usaha mereka seminggu pascarapaat. Namun sikap Megawati yang seolah lupa dengan kesepakatan pada 19 Oktober di aula Kepala Desa Sampali Percut Sei Tuan, membuat warga semakin geram.

Pada pertemuan tersebut masyarakat telah memberikan tenggat waktu seminggu kepada Megawati untuk membahas dengan keluarganya terkait penutupan peternakan ayamnya.

Akan tetapi, pada pertemuan Kamis (27/10/2022), ia belum siap untuk menandatangani surat pertanyaan penutupan usahanya di hadapan pejabat Desa Sampali dan masyarakat. Ia beralasan masih perlu berdiskusi dengan keluarganya.

Ia juga berdalih masih butuh waktu untuk menutup peternakan tersebut dan meminta masyarakat untuk membantunya menjual ternak ayam telur miliknya.

Alasan itu ditanggapi Pande Pakpahan mewakili masyarakat yang terkena dampak buruk peternakan tersebut.

“Rapat sebelumnya Ibu minta kami tenggat seminggu untuk mendiskusikan kepada keluarga untuk menutup pabrik. Hari ini, kami menunggu Ibu menandatangi surat pernyataan tentang penutupan pabrik. Kami beri waktu 2 minggu untuk ibu menutupnya. Bila perlu kami bisa ikut membersihkan pabrik Ibu!” tegasnya di Aula Kepala Desa Sampali, Kamis (27/10/2022).

Rapat tersebut dihadiri 13 warga, Sekretaris Desa Sampali Dino Haryadi, Kepala Dusun IX Desa Sampali Sutrisno, dan Kepala Lingkungan IX Mabar Medan Labuhan Rajiman dan sejumlah awak media.

BERSPONSOR

Didampingi Guntur Turnip, Megawati berjanji akan mengeluarkan surat pernyataan penutupan peternakan, Jumat (28/10/2022).

Ia berjanji akan menyerahkan surat pernyataan kepada Kepala Lingkungan 9 Mabar Hilir. Pihaknya berjanji apapun yang disepakati pada notulen rapat 27 Oktober akan ia penuhi.

TERKAIT  4 Pria Ini Pernah Terpana Kecantikan Nikita Mirzani

Menurut Megawati, salah satu kendala menutup peternakan tersebut ia harus mencari penampung telur dan ayam. Ia meminta masyarakat membantunya mencari pembeli telur dan ayam miliknya.

“Masyarakat bisa beli telur dan ayamnya tapi bukan dalam jumlah besar. Ada banyak yang mau menampung telur dan ayam. Kami berikan tenggat dua minggu untuk tutup peternakan milik Ibu. Kalaupun tidak bisa dalam dua minggu ditutup, kami kasih kesempatan berapa lama Ibu bisa menutupnya. Harus ada kepastian, harus dibuat surat pernyataan,” kata Pande membalas permintaan Megawati.

- Advertisement -

Lia Sibarani, warga yang hadir saat itu, menilai Megawati menciptakan alasan bertele-tele. Menurutnya, Megawati pasti tahu persis kemana saja telur dan ayam tersebut bisa dijual.

“Megawati pasti punya banyak rekanan yang menampung telur dan ayam tersebut,” ujarnya.

Masyarakat Geram

Merasa Megawati sengaja mengulur-ulur waktu dan seolah tidak merasa bersalah atas dampak aktivitas ternak ayamnya, masyarakat geram dan mengancam akan melempari pabrik tersebut.

Warga gerah karena selama ini pabrik tersebut telah menjadi sarang lalat dan serangga. Warga merasa risih, jijik dan tidak nyaman akibat dikerubungi lalat.

Masyarkat selama ini telah berkali-kali menjumpai Megawati, Hendra dan orang tuanya yakni Alim untuk memprotes dampak kegiatan ternak ayam tersebut. Namun, aduan langsung tersebut tidak digubris. Sebaliknya, pengusaha diduga malah terus menambah jumlah ternaknya.

Peternakan tersebut dianggap memicu penyakit bagi warga sekitar. Kerumunan lalat-lalat telah menyebabkan para pelanggan meninggalkan kedai milik warga sekitar. Warga yang tinggal sekitar 1 kilometer dari peternakan juga masih terkena dampak kerumunan lalat.

Penulis : Damayanti Sinaga
Editor   : Mahadi Sitanggang

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU