spot_img

LEGENDA PARA DEWA BATAK TOBA (Tamat)

Pernikahan Si Boru Deak Parujar dengan Siraja Odap Odap

NINNA.ID – Matahari bersinar terang menyapa kehidupan. Sinarnya di pagi hari memberi kehangatan meresap ke dalam jiwa. Demikianlah Si Boru Deak Parujar menikmati kebahagiaan. Dia merasa puas dan bangga melihat bumi yang ditempanya, sebagai hasil pekerjaan tangannya. Dia berjalan kesana – kemari dengan hati riang gembira. Kesusahan yang dirasakan ketika terayun-ayun melayang-layang, menggantung diterpa angin yang sangat kencang di atas permukaan samudera, kini sudah dilupakan. Ada kepuasan, tetapi ada juga sesuatu terselip di dalam hati, sesungguhnya Si Boru Deak Parujar merasakan masih ada sesuatu yang kurang.

Angin berhembus tidak tahu kemana arahnya dan angin berhembus tidak tahu dari mana datang. Tidak disangka dan tidak diduga, rupanya bumi hasil pekerjaan tangan Si Boru Deak Parujar diganggu oleh satu sosok yang memiliki kuasa dan kekuatan. Sosok ini adalah penguasa samudera raya dari Benua Bawah (Banua Tonga). Nama sosok ini adalah “Naga Padoha”.

Kekuasaan dan kekuatan Naga Padoha mirip-mirip Poseidon yang dikenal dalam mitologi Yunani kuno. Kini Naga Padoha ingin menunjukkan siapa dirinya. Dia menggoyangkan tubuhnya dan menggerakkan tangan serta kakinya. Maka terguncang hebatlah bumi sehingga menjadi rusak dan hancur.

Melihat semuanya ini, Si Boru Deak Parujar geleng-geleng kepala. Sedih, menangis dan matanya berkaca-kaca mengeluarkan air mata. Hancur sudah bumi buatan tangannya.

Si Deak betul-betul marah. Amarahnya membuat kerut-kerut jelas tergambar di wajahnya yang cantik. Dalam kesedihan dan ketidakpastian, Si Deak ingin mencari tahu: “Ulah siapah ini sehingga bumi menjadi hancur?” Dia ingin berjumpa dengan dengan si perusak bumi.

Lalu melalui Leang Leang Mandi, Si Deak terpaksa memohon sekali lagi agar Mulajadi Nabolon berkenan memberikan lagi segenggam tanah untuk memperbaiki bumi yang sudah hancur. Si Deak meminta juga sebatang tongkat besi dan rantai yang kuat. Melalui Leang Leang Mandi permohonan tersebut akhirnya dikabulkan oleh Mulajadi Nabolon.

Leang Leang Mandi tidak lupa membawa juga titipan Batara Guru untuk disampaikan kepada putrinya, yaitu sehelai Ulos yang pernah ditenun oleh Si Boru Deak Parujar.

Bumi kembali diperbaiki oleh Si Deak. Lebih bagus dari bumi pertama yang ditempanya. Sekarang Si Deak merasa sudah waktunya melakukan penyelidikan untuk mengetahui siapa pelaku sehingga bumi menjadi hancur.

Pertemuan dengan Naga Padoha
Berhari-hari Si Deak dalam usaha pencariannya, dan akhirnya tahulah dia bahwa pelakunya adalah Naga Padoha. Dia kembali marah. Sebenarnya Naga Padoha tidak pernah bermaksud untuk mencelakai Si Boru Deak Parujar. Dia hanya ingin mencari perhatian Si Deak tapi akibatnya fatal, bumi pertama hancur dibuatnya.

Naga Padoha mengagumi kecantikan Si Boru Deak Parujar. Si Deak sungguh cantik jelita di mata Naga Padoha. Dia mengira dengan kuasa dan kekuatannya si Deak tertarik kepanya. Naga Padoha ingin mempersunting Si Boru Deak Parujar menjadi istrinya. Tapi jangan berharap. Si Deak terlanjur benci, benci dan benci. Mengelebaui Naga Padoha, Si Deak melakukan sesuatu.

Di tempat tersembunyi Si Deak mengemas daun siri, kapur sirih dan gambir, lalu dimakannya. Tampaklah bibir Si Deak menjadi merah. Dari kejauhan Naga Padoha melihat si Deak makan sesuatu. Dia mendekat dan melihat bibir Si Deak menjadi merah. Naga Padoha tertarik, ingin juga dia agar bibirnya menjadi merah. Setelah berhadap-hadapan, berkatalah Naga Padoha kepada Si Boru Deak Parujar.

“Aku melihat kamu semakin cantik, berikanlah aku apa yang kamu makan, agar bibirku juga merah,” pinta Naga Padoha.

Si Deak setuju tapi dengan syarat. Naga Padoha yang betul-betul sudah terperdaya oleh kecantikan dan kataa manis gadis jelita di depannya menyanggupi.

“Ulurkanlah tanganmu,” kata Si Deak kepada Naga Padoha.

Setelah dituruti, Si Deak mengikat kedua tangan dan kaki Naga Padoha dengan rantai yang kuat lalu ditambatkan pada sebatang tongkat besi kiriman Mulajadi Nabolon. Tongkat ini dusebut “Tukkot Tudu Tualang.”

Dengan menggunakan rantai dan tongkat ini Naga Padoha tidak bisa lagi bergerak, hanya tubuhnya sekali-sekali menggeliat. Tubuh yang bergerak inilah yang kemudian dipecaya penyebab gempa, namun tidak sampai menghancurkan seluruh bumi.

Di suatu senja, ketika Si Deak berjalan-jalan di bumi yang sudah diperbaikinya, dia melihat betapa indah bumi ciptaan tangannya. Bumi yang besar dan luas, bermula hanya dari segenggam tanah pemberian Mulajadi Nabolon dari alam kayangan yang bersemayan di langit ketujuh (Banua Ginjang). Namun Si Boru Deak Parujar merasa, masih ada sesuatu yang kurang, dia belum puas.

TERKAIT  Situs Hopong Jejak Peradaban Hindu di Tanah Batak?

Belum ada tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan. Si Deak mengajukan lagi permohonan melalui Leang Leang Mandi agar Mulajadi Nabolon berkenan memberikan berbagai benih dan permohonan itu dikabulkan.

Bumi kemudian penuh dengan aneka ragam tumbuhan dan aneka jenis. Boru Deak parujar merasa puas dan senang menyaksikan semuanya ini dan ingin tinggal selamanya di bumi. Sedikitpun tidak niat untuk kembali ke alam kayangan.

Sekali waktu, Siboru Deak Parujar menyempatkan diri berjalan-jalan di langit biru. Embun putih berarak, berlalu lalang bercengkerama dengan embun warna-warna lain. Di atas sana Si Deak melihat ke atas, ke alam kayangan, tempat asal-muasalnya. Dia tidak ingin pulang, dia sudah betah tinggal di bumi buah ciptaan tangannya. Tetapi memang ada kalanya Boru Deak Parujar merasa kesepian dalam kesendirian. Dia hanya seorang diri tiada teman. Terkadang dia ingin menemukan mata air yang dapat nembasahi gurun hati yang gersang. Ingin meminum mata air yang dapat menyegarkan dahaga jiwa yang kering.

Si Boru Deak Parujar mulailah semakin mengerti bahwa kehidupan memang seperti itu. Ada jalan mendaki mengeluarkan keringat, lalu menuruni bukit dan sampai di lembah menuju hamparan rumput.

Siraja Odap Odap Jadi Pria Rupawan
Di lain kesempatan, kembali Sibaru Deak Parujar berjalan-jalan sambil menikmati keindahan bunga-bunga yang mekar. Dia menghirup aroma harum dari bunga-bunga itu. Masih sambil berjalan, Si Deak tiba-tiba terkejut dan terheran-heran oleh sebuah penglihatan. Karena tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, dia mengusap matanya. Betul, matanya tidak salah melihat.

Dia melihat seorang pria tampan dan rupawan yang juga sedang berjalan-jalan. Si Deak heran, bertanya dalam hati. “Bagaimana mungkin ada seorang laki-laki di bumi yang saya tempa?”

Jarak semakin dekat, tidak dapat dielakkan. Mata mereka saling beradu pandang. Lama-lama ada ketertarikan dan hasrat ingin tahu, lalu saling mendekati dengan rasa malu-malu dan kemudian berkenalan.

Dengan senyuman tipis malu-malu Si Deak bersalaman dengan pria tampan rupawan itu. “Raja Odap Odap.” Begitu dia memperkenalkan diri. Si Deak sesaat terkejut.

“Bagaimana mungkin Siraja Odap Odap yang dulu seperti kadal (ilik) bisa berubah menjadi pria ganteng,” pikirnya dalam hati.

Mereka berdua bertutur sapa sambil menaksir-naksir dalam hati, lama-lama saling jatuh hati. Dulu Si Deak merasa jijik melihat tampang Siraja Odap Odap yang rupanya seperti kadal (ilik). Tetapi sekarang di mata Deak Parujar, Siraja Odap-Odap telah berubah wujud menjadi satu-satunya pria tampan di seantero bumi, yang membuat Boru Deak Parujar tersihir dan jatuh cinta. Memang Raja Odap Odap adalah pria terganteng, karena hanya satu-satunya laki-laki di bumi waktu itu.

Setelah melalui konflik cerita yang panjang bagaikan sebuah drama, bermula dari perjodohan dan penolakan Deak Parujar terhadap Raja Odap Odap ketika masih di alam kayangan, kini cinta mereka berdua dapat berpadu di bumi. Mereka adalah dua sejoli bagaikan Rama dan Shinta atau Romeo dan Juliet. Bukan seakan-akan tetapi sungguh-sungguh, bumi atau dunia ini adalah milik mereka berdua.

Berhubung masing-masing hati sudah menjadi tempat berlabuh bagi hati yang lain, maka tidak ada lagi alasan untuk menunda-nunda perjodohan (Ndang adong na boi manirang na marrokkap marsigomgoman akka tondina). Menikahlah mereka berdua. Sebagai lambang ikatan cinta, bersatunya hati dan jiwa, maka mereka mengenakan Ulos di bahu mereka yang ditenun oleh Si Boru Deak Parujar ketika. Mereka membentuk rumah tangga bahagia

Menurut legenda, dari hasil pernikahan Raja Odap Odap dan Deak Parujar lahirlah sepasang putra-putri kembar bernama “Raja Ihat Manusia dan Boru Itam Manisia.” Raja Ihat Manisia dan Boru Itam manisia setelah dewasa akhirnya menikah. Konon dari mereka ini lahirkah umat nanusia turun-temurun, sundut tu sundut hingga sampai generasi lahirnya Siraja Batak yang bermukim dan berketurunan di Sianjur Mula Mula.

 

Penulis : Roy M Siboro (warga Bekasi)
Editor    : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU