spot_img

Perempuan Sebagai “Boru Ni Raja” dalam Budaya Batak Toba

NINNA.ID – Ungkapan sipatogu parik ni halak do anggo borua’ (perempuan hanya memperkukuh benteng orang lain), memang tidak dengan sendirinya akan melahirkan kekerasan terhadap perempuan, namun mentalitas itu menumbuh-suburkan bahwa laki-laki menjadi nomor satu dalam kalangan masyarakat Batak Toba secara absolut.

Selain itu, mentalitas, ‘raja’ juga perlu dicermati. Semua orang Batak Toba adalah ‘anak ni raja dohot  boru ni raja (putera dan puteri raja). Ada keyakinan bahwa maksud ungkapan ini sangat luhur dan mulia, yaitu memberi penghormatan kepada orang per orang. Menghormati martabat setiap orang.

Bila raja pantas dihormati, maka setiap pribadi harus juga dihormati. Namun harus tetap diperhatikan, jangan-jangan mentalitas itu membangun suatu sikap yang mempromosikan tindak ketidakadilan dan kekerasan. Tidak ada raja yang kalah. Dia mesti menang. Raja adalah orang yang harus dilayani, kepadanya dipersembahkan yang terbaik.

Secara kultural ada kemungkinan bahwa  unsur kebudayaan Batak Toba yang barangkali menyumbang terjadinya perlakuan tidak adil dan dengan demikian tindakan kekerasan terhadap perempuan.

Itu berarti bahwa manusia Batak Toba secara kolektif mewarisi paham atau mentalitas itu dari keseluruhan pemikiran dan tata tingkah laku yang diturunkan oleh budaya Batak Toba itu.

Akan tetapi hendaknya tidak dilupakan bahwa manusia itu adalah juga makhluk individual dan sosial. Seseorang dibentuk bukan hanya oleh setting  keseluruhan pemikiran dan tata tingkah laku kolektif, secara sosial. Dia juga membentuk dirinya sendiri, memilih, dan menentukan pemikiran dan tata tingkah lakunya. Hal ini hendak mengatakan bahwa bila ada perlakuan kekerasan terhadap perempuan di masyarakat Batak Toba, belum tentu seluruhnya karena kesalahan seluruh tata kebudayaan, melainkan karena boleh jadi orang per orang pada laki-laki yang dari dirinya memang memiliki tingkah laku yang menjurus ke kekerasan.

TERKAIT  Menggali Sejarah Si Raja Batak

Jadi secara individual seseorang melakukan kekerasan terhadap perempuan. Maka dengan itu dapat dipahami, bahwa kendati ada kebenaran secara sosio-kultural laki-laki diistimewakan dari perempuan dalam masyarakat Batak Toba, tidak semua – atau tidak kebanyakan – laki-laki Batak Toba yang memperlakukan perempuan Batak dengan kekerasan.

Kembali kita menemukan di sini paradoksalitas manusia berbudaya itu. Seorang dibentuk oleh budaya dan serentak dengan itu membentuk, membangun budaya itu sendiri. Dengan  terkikisnya mentalitas dan asumsi dasar yang kurang baik, kekerasan terhadap perempuan kiranya akan hilang. Hanya dengan demikian perempuan Batak Toba dapat menjadi “Boru ni Raja Nasangap” (puteri raja terhormat dan bermartabat).

Sebagai catatan kritis, secara intern bobot marga patrineal dalam budaya Batak Toba patut dikurangi demi penyehatan diskriminasi terhadap keturunan perempuan. Tak perlu memberi hak menurunkan marga kepada perempuan (matrinieal), tetapi yang perlu disehatkan ialah hak waris yang lebih terbuka, kesempatan sama bagi putera-puteri. Mengenai kesamaan hak itu, terungkap dengan sangat jelas dalam sebuah pantun Batak Toba, “Dompak marmeme anak, dompak do nang marmeme boru” (menghadapkan wajah memberi makan putera, menghadapkan wajah juga meberi makan anak puteri).

Ungkapan ini dengan jelas menunjukkan kesamaan nilai putera dan puteri. Sebab bila orang tua pun tidak mendapat anak puteri toh juga mereka merasa tidak lengkap.(Bersambung ke hari Sabtu)

 

Penulis  : Pastor Moses Elias Situmorang OFMCap (Direktur Rumah Pembinaan Fransiskan Nagahuta, Simalungun-Sumut)
Editor     : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU