spot_img

BAGIAN V

Perempuan Sebagai “Boru Ni Raja” dalam Budaya Batak Toba

NINNA.ID – Sebuah ungkapan lain yang menunjukkan inferioritas perempuan ialah ‘sipatogu parik ni halak do anggo borua’ (perempuan hanya memperkukuh benteng orang lain). Menurut budaya Batak Toba manusia berkeluarga adalah untuk memperbanyak marganya. Tetapi seturut garis patrineal yang sangat kuat dianut oleh orang Batak Toba, hanya laki-lakilah yang membuat demikian. Perempuan tidak berhak untuk itu.

Berkaitan dengan pewarisan harta orang tua, perempuan tidak mendapat hak. Bila seseorang meninggal tanpa meninggalkan anak laki-laki, maka hak waris jatuh ke tangan saudara laki-laki yang meninggal itu.

Hal itu terungkap dalam ratap pantun seorang perempuan yang tidak mempunyai saudara laki-laki: pangeoleolmi solu, solu na di tonga tao. Molo matipul holemi solu, maup tu dia nama ho. Pangeoleolmi boru, boru na so mariboto. Molo mate amanta I boru, maup tudia nama ho.’( lenggak-lenggokmu wahai perahu, perahu di tengah danau. Kalau dayungmu patah, kemanakah engkau gerangan. Lenggak-lenggokmu wahai puteri, puteri yang tidak punya saudara. Kalau bapamu meninggal, bagaimanakah nasibmu).

Ratapan ini menunjukkan betapa fundamentalnya keberadaan seorang saudara  laki-laki bagi seorang anak perempuan dalam keluarga orang Batak Toba.

Menurut  sistem Dalihan Na Tolu, dalam kegiatan adat misalnya, boru-lah yang menjadi parhobas (pelayan). Sampai di sini tidak ada masalah. Tetapi bila parhobas berarti  hatoban (budak) ini yang menjadi masalah.

TERKAIT  Sinaga - Situmorang: Siapa Si Abangan?

Bila seorang anak muda menyuruh suami saudarinya mengerjakan sesuatu, padahal dia pantas juga melakukannya, maka di sini muncul ide hatoban (budak) secara terselubung. Budaya patriarkhal harus senantiasa dikritisi secara rasional. Isu gender juga menjadi aktual di sini.

Betapa banyak ibu-ibu pada masyarakat Batak Toba yang menderita di tangan suaminya. Ironisnya para ibu itu disapa dengan boru ni raja (puteri raja), tetapi diperlakukan dengan kekerasan, karena dia adalah boru (perempuan) yang dilihat sebagai kelas nomor dua. ‘Sipatogu parik ni halak do borua,’ (puteri  itu hanya untuk memperkuat benteng kampung orang lain).(Bersambung ke hari Kamis)

 

Penulis  : Pastor Moses Elias Situmorang OFMCap (Direktur Rumah Pembinaan Fransiskan Nagahuta, Simalungun-Sumut)
Editor     : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU