spot_img

BAGIAN III

Perempuan Sebagai “Boru Ni Raja” dalam Budaya Batak Toba

SAMOSIR – Kecantikan, kelembutan, wajah yang ayu dan senyum  meneduhkan, kaya dengan kata dan ungkapan, lebih sabar dan dapat berdialog merupakan kekayaan alami yang dimiliki ibu. Akan tetapi kalau kita mau jujur indikasi tersebut bukanlah citra sejati seorang ibu (perempuan). Sebab jika laki-laki mengindikasikan seorang ibu dengan predikat demikian maka dengan sendirinya akan mempermiskin kemanusiaan kita sendiri.

Satu hal utama  yang menjadi keistimewaan seorang perempuan adalah  semangatnya menjadi   ibu atas kehidupan. Peran perempuan sebagai  ibu atas kehidupan nyata dalam perspektif memperhatikan, memelihara, dan  dalam kesediaannya untuk mengandung, karena hanya dialah yang memiliki rahim dalam arti sesungguhnya.

Maka dalam konteks ibu sebagai fondasi keluarga,  semangat patut dimengerti sebagai  daya batin yang menggairahkan. Seorang ibu yang  bersemangat seperti  terbakar, berkobar tetapi tidak selalu harus berkoar-koar; tidak gampang bahkan seolah tidak pernah akan tergeletak terkapar sekalipun ada rasa gusar.

Ibu yang bersemangat  akan  mampu menjalani hidup dengan makna, tujuan dan arah serta langkah yang pasti seperti ditunjukkan banyak janda di negeri ini yang berjuang untuk mengasuh dan menyekolahkan anak-anaknya.

Semangat “ibu”  memberi kemampuan dan kemauan untuk bertempur melawan kejahilan dan kejahatan diri dan lingkungan dengan berani mengusahakan kesejahteraan dan kemajuan bagi orang lain biarpun dengan pengorbanan.

Boru (Perempuan) dalam Dalihan Na Tolu
Setiap kampung atau huta (desa) di daerah Batak Toba sudah hampir  pasti dimiliki oleh marga tertentu. Pemiliknya adalah marga yang membuka pertama kampung tersebut.  Inilah yang disebut ‘si pungka huta’, (yang membuka kampung).

Marga yang membuka kampung itulah yang disebut ‘marga raja’. Biasanya marga itulah yang lebih banyak di kampung tersebut dan dari merekalah diangkat raja di kampung itu (raja huta/tunggane huta). Semua marga yang bukan marga raja itu akan disebut marga boru yang tidak mempunyai hak untuk menjadi raja di kampung tersebut.

TERKAIT  Tahun Baru Batak, Dihitung Sejak Kapan?

Dari sini kita mendapat dua kelas sosial penduduk sebuah huta. Dan kedudukan yang rendah diungkapkan dengan marga boru yang merupakan warga kelas dua di suatu kampung. Dari situ kita mendapat paham bahwa kata boru mendapat nilai untuk memperlihatkan kelas atau status yang lebih rendah.

Lalu tatanan sosial kekeluargaan atau sistem kekerabatan Batak Toba dibakukan dalam apa yang disebut  dengan sistem Dalihan Na Tolu (tungku nan tiga).

Dahulu tungku terdiri dari tiga buah batu sebagai wadah orang-orang menempatkan sarana untuk memasak. Dari situlah sistem kekerabatan orang Batak Toba dirumuskan.

Sistem ini menempatkan setiap orang Batak Toba dalam bingkai: Hulahula, dongan sabutuha, dan boru. Hulahula adalah pihak marga dari mana suatu marga menikahi perempuan sebagai istri.

Dongan tubu adalah pihak yang tergolong sebagai saudara-saudara (se-marga) sedangkan boru adalah pihak marga kepada mana puteri dinikahkan. Dalam prinsip Dalihan na Tolu (tungku nan tiga) setiap orang akan pernah pada suatu saat sebagai hulahula, dongan sabutuha, atau boru. Ini sangat sosial karena pada suatu saat tidak pernah orang tetap pada posisinya. Semua orang akan pernah pada posisi terhormat dan posisi sebagai pelayan.(Bersambung ke hari Sabtu)

 

Penulis  : Pastor Moses Elias Situmorang OFMCap (Direktur Rumah Pembinaan Fransiskan Nagahuta, Simalungun-Sumut)
Editor     : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU