spot_img

BAGIAN II

Perempuan Sebagai “Boru Ni Raja” dalam Budaya Batak Toba

NINNA.ID – Salah satu dasar perlakuan yang sedemikian tidak adil terhadap perempuan,  banyak dipengaruhi oleh pandangan para filsuf klasik dan budaya patriarkhal. Mereka berpendapat kaum laki-laki mendapat tempat yang lebih penting dan utama dalam keluarga, dalam tatanan adat dan dalam hidup kebudayaan. Dalam banyak masyarakat, umumnya segala bentuk “kepemimpinan” dipegang oleh kaum laki-laki.

Sudah sejak masa awal pemikiran Yunani terjadi pembedaan klasik antara laki-laki dan perempuan.

Pembedaan klasik itu berisikan bahwa laki-laki dikaitkan dengan eksterior yakni kerja yang digaji, kuasa, kompetisi, budaya, perang dan politik, akal budi, dll. Sedangkan perempuan dikaitkan dengan interior yakni rumah, mengurus anak dan keluarga, kecantikan, intuisi,  dan nurani.

Plato, filsuf besar Yunani  misalnya mengatakan bahwa kodrat perempuan adalah hanya  berfungsi sebagai reproduktif. Pendapat yang  agaknya mirip  ditemukan dalam pandangan  Aristoteles yang mengatakan bahwa hanya laki-lakilah sesungguhnya yang menjadi ‘manusia penuh’. (L.M.Maloney, “The Argument fpr Women’s Difference in Classical Philosophy And Early Christianity,” Concilium 6, Roma, 1991).

Menurut Aristoteles manusia yang  penuh ialah laki-laki yang bebas (merdeka). Seorang laki-laki budak terhitung sebagai orang yang tidak lengkap. Dalam  pandangan dualisme Aristoteles diakui, bahwa manusia memiliki roh atau jiwa.

Roh atau jiwa memiliki unsur yang memimpin, memerintah dan unsur yang tunduk. Kedua unsur roh itu hadir dalam diri setiap orang, tetapi dengan cara yang berbeda. Karena itu terdapat tingkatan kemanusiaan.

Laki-laki dikaitkan dengan roh yang memiliki unsur  memimpin dan memerintah, sedangkan perempuan  dihubungkan dengan roh yang mempunyai unsur tunduk dan taat. Betapa pun naifnya argumen ini menurut cara pikir kita dewasa ini, tetapi begitulah cara para filsuf menerangkan perbedaan laki-laki dan perempuan pada masa itu. Yang jelas, tidak mungkin lagi kita amini untuk zaman ini.

TERKAIT  Kemenyan Ditelantarkan Pemerintah di Tapanuli

Proses menjadi ibu dimulai dengan menikah. Di dunia Barat orang biasanya  menikah di Balai Kota. Kalau kedua mempelai turun tangga, semua penonton tersenyum dan bersorak. Young love. Love is a many splendoured thing.

Lalu tentang perkawinan ini Swedenborg mengatakan, ada suami dan istri di dunia ini (mariage) yang serupa dengan neraka. Dalam batin, mereka musuh penuh kebencian, di luar dua sahabat karib. Tersenyum tapi dengan cambuk merobek kulit sahabat itu sampai berdarah. Untuk apa? Mengapa? Supaya tidak perlu pisah. Mengapa tidak mau pisah? Supaya rumah tangga tetap teratur dan  anak-anak  dididik dalam suasana damai. Juga supaya nama baik keluarga tetap dipertahankan (bayangkan apa yang akan dikatakan orang bila ada orang terkenal bercerai).

Dalam perkawinan sang pria dijajah perempuan kata Swedenborg. Sebabnya, karena pria bertindak atas dasar pemikiran dan wanita bergerak atas dasar kemauan (M.A.Brouwer, “Langit di Kaki Ibu”, Kompas, 1988).(bersambung ke hari Kamis)

 

Penulis  : Pastor Moses Elias Situmorang OFMCap (Direktur Rumah Pembinaan Fransiskan Nagahuta, Simalungun-Sumut)
Editor     : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU