spot_img

Perempuan Penderes Aren dari Kaldera Toba

TOBA – Seperti pagi sebelumnya, udara di kawasan Kaldera Toba Sumatera Utara terasa dingin membalut tubuh. Bagi banyak orang, masih terlalu cepat rasanya untuk bangkit, berpisah dari peraduan. Tapi tidak untuk perempuan ini. Setiap pagi menembus dingin, menuruni jurang menerabas semak, memanjat dan menderes aren.

Dialah Sartika Samosir, perempuan yang lahir 45 tahun lalu, kini merangkap peran seorang ayah bagi kedua anaknya. Perempuan tangguh warga Desa Hatinggian Kecamatan Lumbanjulu, Kabupaten Toba ini, sudah menekuni pekerjaan sebagai paragat (penderes) aren semenjak tahun 2008.

Kepada NINNA.ID, Sartika yang kesehariannya seorang petani ini mengungkapkan, tidak pernah sedikitpun terlintas di benaknya untuk menjadi seorang paragat. Tapi suatu ketika, saat istirahat di ladang, alumni sekolah akutansi ini memandang ke arah lembah di ujung ladang. Dia melihat beberapa pohon aren tumbuh subur di sana. Seketika, naluri akuntansinya berhitung.

“Kenapa tidak? Toh sebelum ke ladang masih ada waktu untuk menderes pohon itu,” batin Sartika saat itu.

Tidak perlu waktu yang lama, ibu dari Bastian dan Jesley Sinaga ini, memantapkan hati untuk mulai mempersiapkan segala sesuatunya untuk menjadi seorang paragat.

Setelah itu, setiap pagi sebelum mengolah ladang palawijanya, Sartika naik sepeda motor menuju lokasi pohon aren. Medannya tidak mudah. Setelah memarkir kendaraannya di tepi jalan, dia harus berjalan menuruni jurang, menerabas belukar sejauh satu kilometer.

Rintangan belum selesai. Dia harus memanjat pohon aren karena yang akan dideres berada di bagian atas pohon. Untuk memudahkan memanjat pohon, Sartika membuat tangga dari batang bambu. Sartika juga harus masuk ke hutan untuk mencari sebatang bambu yang cocok dijadikan sige (tangga bambu)

Boru Samosir ini berkisah, proses menderes agar air nira keluar juga terbilang panjang. Setelah sige dinaikkan agar posisinya bersandar ke pohon, ijuk di badan pohon harus dibersihkan. Setelah itu memilih dan membersihkan tandan bunga jantan, yang disebut arirang.

Masih dari atas tangga sige, dengan alat pemukul sejenis palu yang terbuat dari kayu bulat, arirang dipukul-pukul perlahan  setiap pagi dan sore selama beberapa minggu. Setelah cukup matang, tandan bunga jantan itu pun dipotong dengan sebilah pisau yang cukup tajam.

Jika beruntung, tandan itu akan meneteskan cairan putih bening, itulah nira. Jika lagi apes, tandan itu kering setelah dipotong. Tidak meneteskan nira sama sekali.

perempuan penderes
Sartika Samosir membawa tuak hasil deresan, melewati semak belukar sejauh 1 kilometer untuk sampai ke tepi jalan.(Foto:asmon)

Nira aren, yang kemudian dijadikan tuak oleh Sartika, terkenal di kampungnya karena berkualitas baik. Ramai penikmat tuak yang didominasi kaum pria, setia menunggu di lapo tuak (warung tuak) untuk menikmati tuak hasil deresan Sartika.

TERKAIT  Martonun Sambil Bertani, Hal Biasa di Desa Ini

Sartika punya mimpi, suatu saat tuak semakin dinikmati dan naik kelas. Sebagai minuman beralkohol alami, tuak sepantasnya dibandrol dengan harga lebih mahal. Tuak menjadi minuman papan atas dan akan mengangkat citra lapo tuak.

Perempuan penderes
Sartika Samosir bersama buah hatinya Bastian Sinaga dan Jesley Sinaga.(Foto:istimewa)

Begitulah aktivitas Sartika setiap hari. Pagi, menderes aren sebelum mengurus ladang palawija nya. Kemudian sore, sepulang dari ladang, memeriksa hasil deresan untuk dijual menjadi tuak.

Berkat ketangguhan seorang ibu yang merangkap sebagai ayah ini, anak sulungnya sudah menamatkan sekolah dan bekerja pada sebuah perusahaan di ibu kota. Sedangkan si bungsu masih di bangku SMU kelas X.

Pekerjaan memanjat pohon aren ini beresiko tinggi, apalagi bagi seorang perempuan. Perlu kehati-hatian dan tenaga ekstra, terlebih pohon aren itu tumbuh tinggi di pinggir jurang. Masih adakah perempuan setangguh penderes aren dari Kaldera Toba ini?

 

 

Penulis : Asmon Pardede
Editor   : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU