spot_img

Pengacara Batak, Seberapa Batak Sebenarnya Kita?

NINNA.ID – Saya sangat prihatin. Ada banyak kejanggalan. Masyarakat resah, terutama orang Batak. Namun, apa daya, sebagai masyarakat kecil, mereka hanya bisa prihatin. Mereka belum bisa lebih jauh. Paling banter, ya, sebatas gerakan seribu lilin seperti di Tarutung dan di Medan. Sayang, hal itu tak cukup membantu membuka tabir kebenaran, terutama keadilan.

Apalagi, gerakan itu kabarnya selalu ditolak polisi. Kabarnya begitu. Maka, semakin prihatinlah kita. Pasti, kasus ini pelan-pelan menghilang. Sebab, jika saja ada gerakan massal lilin tetap ada, hal itu tetap tak cukup membantu. Kita bisa melihat contoh. Apakah kurang lilin untuk Ahok? Tidak. Seluruh Indonesia menyalakan lilin untuk Ahok? Namun, Ahok tetap dihukum.

Kurang lebih begitu nanti dengan kasus Brigadir J. Apalagi, siapalah Brigadir J dibanding Ahok? Maka, semakin prihatinlah saya. Bukan saya tak percaya pada Pak Presiden Jokowi. Saya hanya ragu bahwa akan ada oknum. Mungkin malah akan sangat banyak. Akhirnya, semakin kaburlah perjuangan kebenaran dan keadilan untuk Brigadir J. Orang akan pada lupa.

Ya, sekarang memang masih ramai. Tetapi, itu paling lama hanya satu-dua minggu ini. Setelah itu, masyarakat akan kembali pada isu baru. Isu Brigadir J pun pelan-pelan terlupakan. Dan, kebenaran dan keadilan urung terungkap. Karena itu, saya sangat merindukan: di mana sih para pengacara Batak? Apakah sudah tak ada lagi istilah makkuling mudar i bagi kita?

Seberapa Batak sebenarnya kita? Apakah marga yang melekat pada nama kita hanya sebatas nama, bukan sebagai semangat primordial dan kekeluargaan kita?

Saya begitu merindukan kalimat itu kembali muncul pada kita: makkuling mudar i. Namun, mungkinkah? Saya, jujur saja, agak ragu. Pengacara kondang Batak, misalnya, saya lihat masih bungkam.

Mereka seolah tak peduli. Semoga saja mereka bekerja dalam diam. Semoga saja. Yang ditakutkan, mereka justru bungkam, bahkan malah berada pada pihak di luar Brigadir J. Kalau itu terjadi, ya, pada akhirnya marga pada nama kita akan kalah oleh uang yang membayar. Tiada lagi pesan yang membanggakan dan membuat kita terharu: makkuling mudar i.

Padahal, kasus ini sebenarnya tak mustahil untuk diungkap. Semakin tak mustahil jika para tokoh Batak konsisten dan merasa sekeluarga. Soalnya, kita tak kekurangan tokoh besar. Ada kok jenderal. Ada di kepolisian. Ada pula di TNI. Cukup banyak juga jaksa, apalagi hakim. Malah, masih banyak lagi pejabat. Tetapi, apakah mereka peduli?

TERKAIT  Tahun Baru Batak, Dihitung Sejak Kapan?

Saya berdoa, mereka peduli. Amin. Paling tidak, jika tidak mau secara aktif di pihak Brigadir J, setidaknya jangan di luar pihak Brigadir J. Begitu saya berharap. Ya, saya masih orang kecil. Sebisa saya, saya hanya bisa menggugah. Siapa tahu mereka bisa tergugah. Namun, sekecil apa pun, setidaknya, saya sudah berbuat. Terus terang, saya tak mengenal Brigadir J.

Saya menuliskan ini murni karena prihatin pada Brigadir J. Tulisan ini murni karena saya merasa bahwa kalimat itu masih ada dalam dada saya: makkuling mudar i. Betul sekali, murni hanya karena itu. Tak lebih. Sebab, saya percaya, orang Batak sesungguhnya bisa saling membela. Saya juga percaya, orang Batak adalah sesama saudara. Mereka saling merindukan.

Karena itu, saya sangat berharap. Setiap kita melakukan apa yang bisa kita lakukan. Sekecil apa pun itu. Percayalah, dengan hal kecil, jika semua kita masih disemangati jiwa makkuling mudar i, pasti kita akan bisa mengungkap kebenaran. Apalagi, kita punya banyak potensi. Ada cukup banyak ormas berlabel Batak. Namun, dari sekian banyak itu, saya melihat masih satu-satu yang prihatin.

Karena itu, melalui tulisan ini, saya menggugah, siapa pun kita, terutama orang Batak, mari melakukan hal kecil. Hal kecil yang bisa kita lakukan. Setidaknya membuat isu ini tidak cepat padam. Barangkali hanya dengan membuatnya terus viral maka terjadi keadilan, ya, monggo. Tak ada yang salah dengan tetap berjuang kecil di pihak pencari keadilan. Karena itu, setialah mengawal isu ini.

Memang, Brigadir J sudah meninggal. Ia tak mungkin hidup lagi. Tak mungkin. Namun, kita harus sadar, kebenaran harus tetap diperjuangkan, bahkan setelah kematian. Percayalah, ini bukan semata untuk Brigadir J. Ini juga agar tidak ada Brigadir-Brigadir J lainnya. Mungkin kita akan kalah dalam perjuangan ini. Tetapi, setidaknya kita berbuat hal kecil dan kita tetap utuh penuh jiwa sosolidaritas: makkuling mudar i!

 

Penulis   : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor      : Mahadi Sitanggang

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU