Pemilihan Ketua OSIS SMA 1 Doloksanggul Pembelajaran Berdemokrasi

BERSPONSOR

NINNA.ID – “Bapak Ibu guru dan anak-anakku sekalian. Kita hari ini belajar. Ini adalah bagian dari pembelajaran,” kata Panutur Simorangkir selaku kepala sekolah dalam arahannya. Senin, 30 Januari 2023, SMA Negeri 1 Doloksanggul mengadakan pemilihan Ketua OSIS.

Pemilihan seperti ini menjadi edukasi penting untuk siswa. Edukasi nyata untuk demokrasi. Demokrasi adalah keberanian.

Berani bersuara. Berani mendengar. Siswa adalah penerus demokrasi. Mereka harus dilibatkan secepat mungkin. Di tangan mereka ada masa depan.

Siswa-siswa SMA Negeri 1 Doloksanggul terlihat antusias. Mereka berbaris rapi menunggu antrean pemilihan. Duduk dan berdiri di sekeliling taman. Mereka setia menunggu proses pemilihan.

BERSPONSOR

Akhirnya, pemilihan selesai. Perhitungan suara pun dimulai. Persis dibuat seperti pemilihan umum.

Ada saksi di setiap TPS. Ada pencatat jumlah suara. Sebelumnya, bahkan ada tim kampanye. Mereka menjadi tim untuk menggaet calon pemilih.

Caranya lumayan taktis. Persis seperti pemilihan. Ada intrik dan permainan. Tentu saja itu seperti kecurangan. Namanya politik.

Namun, itulah pendewasaan. Itulah bagian dari kemajuan. Dari sana mereka tahu, begitulah politik.

BERSPONSOR

Sehabis diumukan pemenang, tim lain melakukan protes. Berbagai bentuk kecurangan diberikan. Guru seperti menjadi Mahkamah Konstitusi. Jadi, persis seperti pemilu.

Guru percaya pada kekurangan. Tetapi guru bertanya, jika itu nyata, maka itu kecurangan. Tetapi, selama belum ada bukti, kecurangan itu hanya isu belaka.

TERKAIT  Simulasi Operasi Lilin Toba 2022, Polres dan Pemkab Dairi Amankan Nataru

Tim kampanye yang kalah mencari siasat lagi. Kami akan mengadakan petisi. Petisi supaya pemilihan diulangi. Kata mereka.

Tentu saja guru tertarik menjawab. Meski sebagian guru menggerutu: sudah seperti pemilihan umum saja. Tetapi, itulah pembelajaran yang hidup.

- Advertisement -

Mereka tak lagi belajar berenang dari buku. Mereka terjun ke kolam. Merasakan air dan tekannya. Merasakan riak gelombangnya.

Pembelajaran demokrasi menjadi nyata. Mulai dari kampanye, pemilihan, sampai penyampaian keberatan.

Pokoknya, kalau bisa, pemilihan diulang lagi. Apalagi kalau terbukti ada kecurangan, suara akan dikurangi 100. Aturan yang ketat. Walau begitu, ada pertimbangan.

Jika dikurangi, beda suara lebih dari 100. Jikapun dibuat pemilihan ulang, apakah yakin suara akan naik? Itulah pembelajaran.

Demokrasi memang harus dihidupi. Supaya siswa paham dan sadar. Banyak pelajaran yang mereka ambil. Bagaimana bersiasat. Bagaimana berteman.

Lebih dari itu, mereka belajar untuk menerima kekalahan. Itu pelajaran yang harus hidup. Ada banyak yang selalu ingin bertanding, tapi tak siap kalah.

Siap kalah adalah kompetensi. Siap kalah justru lebih agung dari siap menang. Itulah pelajaran. Intinya, pelajaran itu harus hidup.

Penulis : Riduan Pebriadi Situmorang
Editor   : Mahadi Sitanggang

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU