Pariwisata Samosir Meledak tapi Kualitasnya Justru Merosot

Samosir, NINNA.ID — Diskusi di Aula Tabo Cottages siang 14 April 2026 itu tidak berputar-putar. Tapi langsung ke inti, lugas, tanpa basa-basi. Satu per satu masalah dibuka terang: kebisingan, sampah, polusi, jetski, parkir, hingga hilangnya wajah asli budaya Batak.

Forum “Ngobrol Santai” yang digagas Annette Siallagan ini mempertemukan berbagai pihak—dari Camat Simanindo Hans Sidabutar, Kapolres Samosir Rina Tarigan, hingga perwakilan Dinas Pariwisata Samosir, Dinas Perhubungan Samosir, Dinas Perizinan, Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Samosir, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia  (PHRI) Samosir dan sejumlah pimpinan hotel di Samosir.

Tapi yang paling terasa bukan jumlah peserta yang hadir saat itu—melainkan satu kesadaran bersama: pariwisata Samosir tumbuh cepat, tapi kurang berkualitas.

Wisata Ramai, Tapi Tidak Terkelola

Samosir sedang “laku”. Wisatawan datang tanpa jeda. Tapi di lapangan, banyak hal dasar belum beres.

Parkir semrawut di titik wisata seperti Tomok. “Akses, parkir, transportasi—ini hal dasar, tapi belum selesai,” ujar Daniel Manik, perwakilan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Samosir.

Di saat yang sama, pelaku wisata juga mengeluhkan praktik usaha yang merusak kepercayaan. Masih ada restoran yang tidak mencantumkan harga di menu. Bagi wisatawan, ini bukan soal murah atau mahal—ini soal transparansi.

Jetski: Atraksi yang Mulai Jadi Masalah

BERSPONSOR

Topik jetski muncul sebagai salah satu isu paling krusial.

Secara aturan, sebenarnya sudah ada batas: jarak aman 100 meter dan jam operasional hingga pukul 19.00. Namun di lapangan, pengawasan lemah. Bahkan jumlah unit jetski yang beroperasi tidak jelas.

Kapolres Rina Tarigan mengingatkan, masalah ini bisa berujung serius jika dibiarkan. Keselamatan wisatawan jadi taruhan.

Di sisi lain, perizinan berada di tingkat provinsi, sementara dampaknya dirasakan di daerah. Akibatnya, pengendalian tidak efektif.

- Advertisement -

Bahkan di sejumlah forum Tripadvisor, para travelers tidak merekomendasikan Danau Toba sebagai tujuan wisata. Dituliskan, mereka khawatir akan banyaknya jetski, speedboat, bahkan drone di sekitar hotel atau penginapan.

Keluhan lain lebih keras lagi: suara jetski disebut mulai terdengar sejak pagi, setiap hari. Ada yang sampai mengatakan Danau Toba bukan lagi tempat yang tenang, bahkan menjadi salah satu danau paling bising yang pernah ia kunjungi.

Kekhawatiran seperti ini bukan lagi satu-dua suara. Ini mulai sering muncul—dan pelan tapi pasti menggerus citra Danau Toba sebagai destinasi yang damai.

Sampah: Masalah Lama yang Tak Pernah Selesai

Jika ada satu isu yang disepakati semua pihak sebagai “darurat”, itu adalah sampah.

Dari pengamatan Dinas Lingkungan Hidup yang diwakili Helmut Simamora, mayoritas sampah di kawasan wisata adalah plastik.

Bahkan dalam satu kegiatan pembersihan, satu jalur bisa menghasilkan dua kontainer sampah dalam sehari.

TERKAIT  Antisipasi Kecelakaan Lalu Lintas Masa Nataru 2023/2024, Dishubsu Gelar Inspeksi Keselamatan (Ramp Check) Angkutan Umum

Yang jadi ironi: tempat sampah sudah disediakan. Sosialisasi sudah dilakukan. Tapi perilaku tidak berubah.

“Masalahnya bukan fasilitas. Masalahnya kebiasaan,” menjadi benang merah.

Lebih tajam lagi, muncul pernyataan bahwa sebagian besar sampah justru dibawa oleh wisatawan domestik—yang belum terbiasa dengan etika lingkungan seperti wisatawan Eropa.

Budaya Batak: Ditampilkan, Tapi Tidak Dihidupkan

Di tengah promosi pariwisata, satu kritik muncul keras: budaya Batak kehilangan bentuk aslinya.

Wisatawan datang untuk melihat budaya, tapi yang mereka dapat sering kali hanya pertunjukan artifisial. Tamu diminta menari tortor, sementara pelaku budaya asli justru tidak tampil.

“Yang menari tamu, bukan orang Batak. Ini terbalik,” menjadi kritik yang mengemuka.

Padahal, potensi budaya sangat besar. Dari pertunjukan rutin hingga talenta lokal di sekolah-sekolah, semua ada—hanya belum terorganisir.

Masalah yang Dianggap Kecil, Tapi Nyata

Diskusi juga membuka persoalan-persoalan yang sering dianggap sepele, tapi berdampak langsung:

  • Kebisingan karaoke dan live music hingga larut malam
  • Pembakaran sampah yang mencemari udara
  • Anjing liar yang membahayakan wisatawan
  • Konten kreator yang mengganggu lalu lintas demi video
  • Penebangan pohon yang mulai merusak lanskap
  • Pelecehan terhadap solo traveler wanita yang biasa jalan bersepeda motor sendirian di Samosir

Hal-hal ini mungkin terlihat kecil jika berdiri sendiri. Tapi jika dibiarkan, semuanya menggerus pengalaman wisata.

Solusi Ada, Tapi Butuh Keberanian

Beberapa solusi sebenarnya sudah jelas:

  • SOP wisata air yang tegas dan dijalankan
  • Zonasi jetski dengan pembatas fisik di danau
  • Penataan parkir dan transportasi
  • Transparansi harga di usaha kuliner
  • Edukasi masif dari sekolah hingga desa
  • Pertunjukan budaya yang autentik dan terjadwal
  • Pengawasan nyata, termasuk CCTV dan penegakan aturan

Namun masalahnya bukan pada ide. Masalahnya pada eksekusi.

“Kalau semua sepakat tapi tidak ada yang bergerak, ya tetap begini,” menjadi nada yang terasa di akhir diskusi.

Foto Bersama usai Ngobras
Foto bersama usai Forum “Ngobrol Santai” di Tabo Cottages, Selasa 12 April 2026.

Antara Kebanggaan dan Ancaman

Samosir hari ini masih jadi primadona di Kawasan Danau Toba. Bahkan disebut paling diminati dibanding daerah lain di sekitarnya.

Tapi posisi itu tidak akan bertahan tanpa pembenahan.

Karena wisatawan—terutama dari luar negeri—datang bukan hanya untuk melihat. Mereka merasakan.

Dan ketika yang dirasakan adalah bising, kotor, dan tidak aman, mereka tidak akan kembali.

Pertanyaan yang Tersisa

Diskusi di Tabo Cottages itu tidak menghasilkan keputusan resmi. Tapi satu hal menjadi jelas:

Semua orang sudah tahu masalahnya.

Yang belum ada adalah keberanian untuk menertibkan.

Dan di titik itulah masa depan pariwisata Samosir akan ditentukan—apakah tetap jadi kebanggaan, atau pelan-pelan ditinggalkan.

Penulis/Editor: Damayanti Sinaga

BERSPONSOR

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU